NAWACITAPOST.COM — Apa yang tampak seperti rapat birokrasi biasa di ruang kerja Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, kini berubah menjadi sumbu peledak skandal kemanusiaan terbesar di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel). Rapat verifikasi dan validasi ulang data calon penerima bantuan Hunian Tetap (Huntap) yang semula diklaim sebagai langkah tertib administrasi, justru dibongkar habis-habisan oleh aktivis sebagai upaya sistematis untuk menutupi gunung es korupsi dana bencana.
Bukan lagi soal angka miliaran rupiah, melainkan gurita dugaan penyimpangan terstruktur yang melibatkan aliran dana lintas sektoral: dari meja Presiden, anggaran Provinsi, hingga jatah beras bulog bagi warga yang kelaparan.
Membuka Kotak Pandora: Angka Rp4 Miliar Hanya "Pemanis Bibir"
Selama ini, publik dinilai sengaja dikecohkan dengan narasi bantuan bencana senilai Rp4 miliar. Namun, fakta mencengangkan diungkap oleh Rajesh Simanungkalit Aktivis Kemanusiaan Tabagsel. Ia menegaskan bahwa angka tersebut hanyalah pucuk kecil dari total anggaran fantastis yang mengalir ke Padangsidimpuan.
Baca Juga: DBMSDA Dobrak Kebuntuan: Proyek Krusial Siap Dieksekusi 3 Bulan Lagi, Anggaran Dipastikan Aman!
"Jangan tertipu dengan angka itu. Itu hanya puncaknya saja. Jika dihitung dari hulu, total dana penanganan bencana, perbaikan rumah, hingga pembangunan Huntap nilainya mencapai lebih dari Rp150 Miliar!" tegas Rajesh dengan nada tinggi, pada Sabtu (13/6/2026).
Berdasarkan investigasi lembaga kemanusiaan, berikut adalah estimasi gurita aliran dana ratusan miliar yang diduga mandek dan tidak pernah sampai ke tangan rakyat:
- Bantuan Langsung Presiden dan APBN: Alokasi bertahap dua tahun terakhir untuk kedaruratan. (Warga masih telantar di zona bahaya).
- Bantuan Khusus Gubernur Sumut: Pemulihan wilayah terdampak dan relokasi warga. (Proses relokasi berjalan sangat lambat).
- Anggaran Dinas Sosial dan BNPB: Bantuan hidup dan tempat tinggal sementara. (Banyak warga mengaku tidak menerima haknya).
- Dana Alokasi Khusus (DAK) dan APBD: Pembangunan perumahan layak huni (Huntap). (Proyek diduga kuat fiktif dan berjalan di atas kertas).
- Logistik dan Pangan (Bulog): Ratusan ton beras dan bahan pokok darurat. (Dipangkas drastis saat pembagian ke masyarakat).
Modus Operandi: Rekayasa Data "Orang Mati" hingga Proyek Hantu
Rajesh membeberkan tiga modus operandi super rapi dan kejam yang diduga dilakukan oleh oknum-oknum bermental mafia birokrasi:
Baca Juga: Takhta, Kopi, dan Perlawanan terhadap Stigma di Istana Kadriah
1. Manipulasi Data Ghoib
Data penerima bantuan dimanipulasi secara ekstrem. Nama warga yang sudah meninggal dunia atau pindah domisili tetap sengaja dicantumkan agar dana bisa terus dicairkan secara ilegal. Sementara itu, korban nyata yang rumahnya hancur lebur justru didepak dari daftar penerima.
2. Penyunatan Logistik Pengungsi
Kekejaman administrasi ini berdampak langsung pada perut rakyat. Jatah resmi beras Bulog yang seharusnya diterima sebanyak 25 hingga 50 kilogram per Kepala Keluarga (KK), disunat secara drastis di lapangan. Warga hanya menerima "remah-remah" sebesar 5 hingga 10 kilogram saja.
3. Indikasi Kuat Proyek Fiktif
Ini adalah dugaan pelanggaran paling fatal. Laporan progres pembangunan fisik—mulai dari perbaikan jalan lingkungan hingga sarana umum pendukung Huntap—tercatat selesai 100 persen dan anggarannya telah cair. Namun, begitu dicek ke lokasi, tidak ada satu pun batu atau aspal yang terpasang. Proyek tersebut murni fiktif!
Rapat Verifikasi: Benahi Sistem atau "Cuci Tangan"?
Terkait agenda verifikasi ulang yang mendadak dilakukan Pemkot Padangsidimpuan, Rajesh menatapnya dengan skeptis dan penuh kecurigaan. Ia mencium adanya aroma kepanikan dari pihak otoritas.
Baca Juga: Bumi Memanggil! Aksi Nyata Kota Bekasi Menjaga Masa Depan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026
"Kami melihat ada dua kemungkinan: apakah ini langkah jujur, atau justru rapat ini diadakan untuk memperbaiki data yang sudah bocor agar tidak terlihat ada selisih jumlah dana yang menguap? Jangan sampai verifikasi ini hanya alat seremonial untuk menutupi skandal yang jauh lebih besar!" cetus Rajesh.
Artikel Selanjutnya
Batam Dikepung Air: Alam Menjerit, Warga Tuding Proyek Reklamasi Jadi Biang Kerok!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.Tags
Terkini
Di Balik Topeng Verifikasi Huntap Padangsidimpuan, Ratusan Miliar Dana Bencana Diduga Menguap Fiktif!
Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:44 WIB Gurita "Subsidi Haram" di SPBU Kedung Kole, Warga Menjerit Antrean Dikangkangi Motor Tangki Modifikasi!
Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:43 WIB Menjahit Luka di Adonara: Misi Damai Memulangkan Rasa Aman ke Tanah Lewonara dan Bele
Jumat, 12 Juni 2026 | 15:56 WIB DPRD Batam 'Sembunyikan' Data Anggaran? Birokrasi Lambat, UU KIP Diduga Ditabrak!
Jumat, 12 Juni 2026 | 15:55 WIB DBMSDA Dobrak Kebuntuan: Proyek Krusial Siap Dieksekusi 3 Bulan Lagi, Anggaran Dipastikan Aman!
Jumat, 12 Juni 2026 | 15:55 WIB Lampung "Amsyong" Ratusan Miliar, Kereta Batu Bara KAI Dikritik Tajam!
Kamis, 11 Juni 2026 | 08:50 WIB Mengguncang Jakarta, Ratusan Warga Tengki Seribu Batam "Ketuk" Pintu Menteri HAM
Rabu, 10 Juni 2026 | 11:33 WIB Batam Dikepung Air: Alam Menjerit, Warga Tuding Proyek Reklamasi Jadi Biang Kerok!
Rabu, 10 Juni 2026 | 11:33 WIB Skandal Mbg Merambat Ke Lampung: Gurita Korupsi Pusat Menular, GPB Desak Kejagung Geledah 1.200 Dapur!
Rabu, 10 Juni 2026 | 11:33 WIB Cetak Sejarah! Kota Bekasi Raih Opini WTP dan Melesat Masuk 5 Besar Terbaik se-Jawa Barat
Rabu, 10 Juni 2026 | 11:32 WIB Tabir Gelap Skandal Pesawaran Mulai Terkelupas, "Harga Khusus" Mantan Bupati dan Misteri Sang Perantara
Rabu, 10 Juni 2026 | 11:31 WIB 29 Tahun Dianaktirikan: Jeritan Pedih Sang Perintis Pendidikan di Padangsidimpuan Terbongkar!
Rabu, 10 Juni 2026 | 11:30 WIB Skandal Sibulutolang: Wali Kota Meninjau, Borok Anggaran Pendidikan Padangsidimpuan Terbongkar!
Senin, 8 Juni 2026 | 21:25 WIB Saat Nyawa Bertaruh Waktu, Pasien Sekarat Terpaksa Memburu Keadilan ke Polisi!
Senin, 8 Juni 2026 | 20:07 WIB Kalbar dalam Pusaran Tanya: Menanti Nyali Penegak Hukum di Tengah 'Kemesraan' dan Kasus Korupsi yang Mandek
Senin, 8 Juni 2026 | 13:29 WIB Sandiwara dalam Kebisuan, Ketika Kebenaran Diduga Dikubur Rupiah Korupsi
Senin, 8 Juni 2026 | 09:41 WIB Gurita Bisnis PT ANJ Agri Siais, Hukum Rimba di Atas Tanah Tapanuli Selatan
Senin, 8 Juni 2026 | 09:40 WIB Mantan Kepsek SMAN 1 Angkola Selatan Diduga Jadi Predator Seksual, Dinas Pendidikan Ikut Disorot!
Senin, 8 Juni 2026 | 09:40 WIB Dua Jantung, Satu Denyut: Membedah Alkimia Kekuasaan dan Investasi di Episentrum Batam
Senin, 8 Juni 2026 | 09:40 WIB Flobamora Menggugat: Kala Alarm Krisis Iklim Berdentang di NTT dan Perempuan Menolak Dibungkam
Senin, 8 Juni 2026 | 09:40 WIB
Artikel Terkait
Batam Dikepung Air: Alam Menjerit, Warga Tuding Proyek Reklamasi Jadi Biang Kerok!
Mengguncang Jakarta, Ratusan Warga Tengki Seribu Batam "Ketuk" Pintu Menteri HAM
Skandal Mbg Merambat Ke Lampung: Gurita Korupsi Pusat Menular, GPB Desak Kejagung Geledah 1.200 Dapur!
Gebrakan Global! Universitas Esa Unggul x Arizona State University Cetak Talenta Masa Depan Lewat Kampus Baru
Sentuhan Kasih dan Kolaborasi Hebat, Pelepasan Siswa TK Tarakanita Solo Baru Berlangsung Meriah!