Jumat, 17 Juli 2026

Terisolasi di Perbukitan, Guru di Parigi Moutong Nekat Racik "MBG Mandiri" Demi Senyum Anak Didiknya

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Jumat, 17 Juli 2026 | 16:57 WIB
Cerita guru SD terpencil di Sulawesi Tengah yang membuat makanan untuk siswa karena belum ada MBG. (Instagram/rskdrian)
Cerita guru SD terpencil di Sulawesi Tengah yang membuat makanan untuk siswa karena belum ada MBG. (Instagram/rskdrian)

NAWACITAPOST.COM – Sebuah kisah heroik nan menyayat hati dari beranda media sosial mendadak viral, memicu tamparan keras bagi dunia pendidikan dan birokrasi negeri. Di tengah riuhnya gaung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinikmati jutaan anak di perkotaan, ada jeritan sunyi dari balik perbukitan SDK Ogolau, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Seorang guru muda berjiwa baja, Riska Andriani, memilih tidak tinggal diam melihat anak-anak didiknya "dianak-tirikan" oleh keadaan. Melalui akun Instagram-nya (@rskdrian), guru PPG Prajabatan ini membagikan perjuangannya yang menyentuh hati: memasak dan membagikan makanan secara mandiri agar siswanya tidak merasa minder dan dilupakan.

“Ibu, Kapan Torang Dapat MBG?”

Kalimat lugu penuh harap dari bibir bocah-bocah pelosok itu terus terngiang di telinga Riska. Ironisnya, di desa tersebut, hanya sekolah tempatnya mengabdi yang belum tersentuh oleh program MBG. Alasan klasiknya begitu pahit: akses geografis. Untuk mencapai SDK Ogolau, siapapun harus bertaruh tenaga melewati jalan setapak dan mendaki perbukitan yang terjal. Medan yang sulit diduga menjadi tembok pembatas yang menghalangi hak anak-anak ini.

Baca Juga: 19 Tahun Pesawaran: Hilal Kemakmuran yang Redup di Tengah Boikot Politik dan Pusaran Korupsi

“Aku rela bikin MBG mandiri untuk anak-anakku biar ngga minder dan merasa hak mereka tidak diberikan. Mereka selalu tanya, ‘Ibu kapan torang dapat MBG?’ Di desa ini hanya sekolahku yang belum dapat karena akses sulit,” tulis Riska dalam unggahan yang menyentuh emosi publik pada Jumat (17/7/2026).

Perjuangan Tanpa Hitungan Gizi, Hanya Bermodal Hati

Riska mengakui, makanan yang ia racik bersama rekan-rekannya jauh dari kata sempurna. Tanpa ahli gizi, tanpa perhitungan kalori yang presisi layaknya standar baku program MBG pemerintah, makanan itu dibuat "ala kadarnya". Anggarannya pun bukan dari kas negara, melainkan hasil patungan dan uluran tangan para donatur.

“Sambil nunggu kami bikin makanan ala kadarnya, sambil nunggu walaupun ngga itung gizi, ngga lengkap, dan banyak kekurangan berkat bantuan teman-teman. Aku cuma mau kasih tahu kalau di pelosok tidak bisa dijangkau MBG yang seharusnya jadi hak anak sekolah di nusantara ini,” ungkapnya getir.

Bagi Riska, ini bukan sekadar tentang nutrisi, melainkan tentang menjaga martabat dan harapan anak-anak 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) agar tetap merasa menjadi bagian dari Indonesia.

Baca Juga: Drama SPAM Pesawaran: Dendi Dituntut 11 Tahun, Kapan Sekwan Toto Sumedi Terseret ke Kursi Panas?

Netizen Bergejolak: "Harusnya Mereka yang Jadi Prioritas!"

Video perjuangan Riska langsung viral dan telah ditonton lebih dari 160 ribu kali. Gelombang simpati sekaligus kritik tajam dari warganet langsung membanjiri kolom komentar. Publik sepakat bahwa wilayah-wilayah sulit seperti inilah yang justru paling membutuhkan kehadiran negara.

  • “Padahal ini yang membutuhkan MBG, mereka yang ada di wilayah 3T,” kecam akun @ric*****o.

  • “MBG tepat sasaran ini yang didukung, harusnya adik-adik ini yang menjadi prioritas penerima MBG,” tulis akun @dya***********i.

Tak hanya mengkritik, warganet juga memberikan solusi taktis bagi pemerintah daerah. Akun @fan*******0 mengusulkan, jika kendala logistik menjadi alasan utama, pemerintah sebaiknya memberdayakan masyarakat lokal. “Kalau guru tidak bisa memasak karena waktunya kurang, mama-mama di sana saya yakin ikhlas memasakkan untuk anak-anak, tinggal sediakan bahan-bahannya dan peralatannya.”

Baca Juga: Mediasi Buntu, Oknum Kades ABH Resmi Diseret ke Ranah Hukum atas Dugaan Penipuan Ratusan Juta!

Halaman:

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini