Jumat, 12 Juni 2026

Takhta, Kopi, dan Perlawanan terhadap Stigma di Istana Kadriah

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Jumat, 12 Juni 2026 | 15:55 WIB

NAWACITAPOST.COM — Kamis pagi (11/6/2026), Istana Kadriah tidak sekadar berdiri sebagai simbol megah sejarah Kesultanan Pontianak. Di balik dinding-dinding kayunya yang sarat memori, sebuah momentum besar sedang dirajut. Di sanalah, Sultan Pontianak yang juga Senator DPD RI besutan Kalimantan Barat, Syarif Machmud Melvin Alkadrie, mengumpulkan para pemegang kuasa dan tokoh akar rumput.

Bukan dalam sebuah sidang formal yang kaku, melainkan dalam balutan diplomasi meja makan: Kopi Morning.

Sebuah agenda informal, namun memiliki daya dobrak politik dan sosial yang luar biasa tajam.

Panggung Sinergi Lintas Sektor

Suasana cair namun sarat wibawa begitu terasa. Ratusan pasang mata menjadi saksi berkumpulnya para elite dan tokoh berpengaruh. Tampak hadir Edi Rusdi Kamtono, Sukiryanto, hingga jajaran Forkopimda Provinsi Kalbar dan Kota Pontianak.

Baca Juga: Bumi Memanggil! Aksi Nyata Kota Bekasi Menjaga Masa Depan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

Tidak kalah magnetis, tokoh adat lintas etnis seperti Ketua DAD Kota Pontianak, Yohanes Nenes, dan Panglima Bala Komando, Yayan, duduk berdampingan. Kehadiran mereka menegaskan satu hal: di bawah atap istana, sekat-sekat perbedaan melebur.

"Kegiatan ini kami laksanakan untuk mencairkan suasana, mempererat komunikasi, dan membangun sinergi. Dengan komunikasi yang baik, berbagai persoalan yang ada di masyarakat dapat dicarikan solusi bersama," tegas Sultan Melvin dengan nada bertenaga.

Forum ini bukan sekadar ajang seremonial teguk kopi belaka. Ini adalah ruang strategis. Mulai dari urusan pelik pembangunan infrastruktur hingga benang kusut persoalan sosial dibedah bersama di atas meja. Hebatnya lagi, Sultan menegaskan bahwa gebrakan ini tidak akan menjadi "panggung satu malam". Ini adalah awal dari pergerakan rutin bulanan demi menjaga Kalimantan Barat tetap aman, damai, dan kondusif.

Pembelaan Berani: Mengikis Stigma Hitam Kampung Beting

Namun, sorotan paling tajam dan dramatis dari pertemuan ini muncul ketika Sultan Melvin menyentuh isu sensitif yang selama ini tabu dibicarakan secara terbuka: Stigma negatif terhadap kawasan Beting.

Baca Juga: Lampung Amsyong Ratusan Miliar, Kereta Batu Bara KAI Dikritik Tajam!

Dengan narasi yang tegas dan menghunjam, sang Sultan pasang badan. Ia menolak keras generalisasi buta yang kerap menyudutkan wilayah bersejarah tersebut.

  • Melawan Narasi Sepihak: Sultan mengingatkan bahwa Beting adalah tanah lahirnya para tokoh agama dan tokoh masyarakat yang berkontribusi besar bagi peradaban Pontianak.

  • Objektivitas Fakta: "Jangan sampai nama Beting menjadi korban stigma akibat perbuatan segelintir orang. Setiap informasi harus ditelusuri secara objektif dan berdasarkan fakta!" tuntut Sultan Melvin.

Bagi Sultan, menyelesaikan masalah Beting—dan isu sosial lainnya di Kalbar—tidak bisa dengan penghakiman moral, melainkan harus dengan pendekatan komprehensif. Solusi konkretnya? Buka akses pekerjaan, tingkatkan kesejahteraan, dan gandeng dunia usaha untuk menciptakan peluang ekonomi bagi mereka yang terdampak.

Halaman:

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini