Rabu, 8 Juli 2026

Skandal Besar Padangsidimpuan: Konspirasi Berencana Rampas Ratusan Miliar Uang Bencana, Korban Banjir Ditumbalkan!

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Rabu, 8 Juli 2026 | 07:50 WIB
  • Membungkam anggota dewan yang vokal dengan ancaman pemotongan hak keuangan dan mutasi fraksi.

  • 3. BPBD: Sang Manipulator Data Lapangan

    Sebagai garda terdepan, BPBD justru diduga memutarbalikkan fakta secara masif.

    • Mengubah status rumah rusak ringan menjadi "rusak berat total".

    • Memasukkan nama warga yang sudah meninggal dunia bertahun-tahun lalu, hingga nama warga yang sudah pindah domisili sebelum banjir terjadi.

    • Merekayasa dokumentasi dengan menggunakan foto kerusakan dari lokasi lain secara berulang-ulang.

    4. Dinas Sosial: Memanfaatkan Keputusasaan Warga

    Dinas Sosial diduga menggunakan taktik kejam di lapangan untuk melegitimasi anggaran.

    • Meminta warga menandatangani dokumen kosong dengan janji manis bantuan Rp 15 juta segera cair, yang nyatanya tidak pernah ada.

    • Melaporkan ke publik bahwa bantuan telah tersalurkan 100% kepada 1.133 KK, padahal di lapangan warga tidak menerima selembar seng pun.

    5. Inspektorat: Stempel Sah Penutup Kejahatan

    Titik paling memilukan berada di lembaga pengawas ini.

    • Mengeluarkan laporan reviu yang menyatakan "tidak ada kejanggalan", seolah buta terhadap selisih angka 1.133 berbanding 380 yang sangat mencolok.

    • Menjadi benteng pelindung dari kejaran media dan masyarakat dengan dalih "sedang pemeriksaan internal".

    Baca Juga: Pahlawan Pulang Kampung! Ledakan Beasiswa Alumni 98 Guncang SMPN 2 Nganjuk, Digagas Putra Asli Pace Kasihi Almamater

    "Ini Bukan Kesalahan, Ini Pencurian Berencana!"

    Kemarahan publik pun tidak lagi membendung. Suara-suara keadilan mulai menggema menuntut para pelaku diseret ke hukum.

    “Ini bukan kesalahan, ini adalah pencurian yang direncanakan berbulan-bulan. Mereka menunggu banjir datang sebagai kesempatan emas untuk mengeruk keuntungan. Ratusan miliar rupiah uang yang seharusnya membangun kembali rumah warga, menyelamatkan anak-anak dari kedinginan, justru dibagi-bagi di meja makan orang-orang yang memakai jabatan untuk berbuat jahat!” tegas Agus Halawa, SH dengan suara bergetar menahan amarah.

    Senada dengan itu, aktivis kemanusiaan Rajes Simanungkalit menambahkan dengan kecaman yang tidak kalah menohok:

    “Mereka merampas hak korban bencana dua kali: pertama air merampas rumah mereka, kedua penguasa merampas harapan mereka. Ini adalah kejahatan terhina yang pernah tercatat di sejarah Sumatera Utara!”

    Halaman:

    Editor: Tiarsin

    Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
    di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

    Tags

    Artikel Terkait

    Terkini