NAWACITAPOST.COM – Jagat media sosial Facebook di Nias Barat, Sumatera Utara sempat diguncang oleh gelombang protes yang dramatis dalam beberapa hari terakhir. Sebuah video yang diunggah oleh akun Satilina Lahagu atau yang akrab disapa Ina Bute mendadak viral dan memicu badai kontroversi.
Dalam rekaman yang menyebar cepat tersebut, Ina Bute, dengan nada pilu, meratapi nasibnya sebagai seorang janda kurang mampu yang mengaku "terlupakan" dari daftar penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa di Desa Lolomboli, Kecamatan Mandrehe Utara.
Tak main-main, bola salju bergulir panas hingga menyeret nama Pemerintah Desa, jajaran kecamatan, bahkan sampai ke telinga orang nomor satu di Eliyunus Waruwu Bupati Nias Barat. Netizen pun riuh, mempertanyakan keadilan bagi masyarakat kecil.
Namun, benarkah sang janda sengaja ditelantarkan?
Baca Juga: ‘The Golden Belt’ Mengguncang Dunia, Jabar Sukses Sabet Transaksi Rp25 Miliar di WIITEX 2026!
Investigasi Lapangan: Fakta Mengejutkan di Balik Layar
Mencari kebenaran di tengah simpang siur isu, tim wartawan langsung merangsek ke kediaman Satilina Lahagu pada Kamis (25/06/2026) sore. Di sinilah, drama media sosial tersebut akhirnya menemui plot twist yang mengharukan.
Bukan karena sentimen atau ketidakadilan, Satilina ternyata tidak menerima BLT karena sebuah alasan yang justru berpihak pada masa depan keluarganya. Anaknya telah ditetapkan sebagai penerima Program Beasiswa yang didanai langsung oleh Anggaran Dana Desa (ADD/DD) Tahun 2026. Karena aturan administrasi tidak memperbolehkan adanya doubel bantuan, namanya pun dialihkan.
Mengetahui fakta medis dan administratif tersebut, ketegangan langsung mencair. Sambil menahan haru, Satilina menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf yang mendalam atas kegaduhan yang telah ia ciptakan.
"Setelah dijelaskan bahwa anak saya masuk dalam pengusulan beasiswa yang anggarannya bersumber dari ADD/DD, saya baru memahami alasan mengapa saya tidak terdaftar sebagai penerima BLT. Sebelumnya saya tidak mengetahui hal tersebut. Untuk itu saya meminta maaf atas kesilafan atau kesalahpahaman mengenai status yang saya unggah di Facebook beberapa hari yang lalu," ungkap Satilina dengan tulus.
Baca Juga: Dini Hari Membara di Kondamara: Rumah Lukas Taramanandang Ludes Dilalap Jago Merah
Ia juga secara terbuka melayangkan permohonan maaf kepada Bupati Eliyunus Waruwu, Pemerintah Desa Lolomboli, dan Penjabat Kepala Desa yang sempat menjadi sasaran amarah netizen.
Suara Pemerintah: Transparansi Hasil Musyawarah Desa
Meredam polemik, Minahati Ndaha Penjabat Kepala Desa Lolomboli, menegaskan bahwa situasi ini murni terjadi akibat miss-information atau putusnya arus informasi ke tangan yang bersangkutan.
"Semua pernyataan Ibu Satilina Lahagu ini hanya karena kesalahpahaman. Beliau tidak terdata sebagai penerima BLT karena anaknya sudah kami masukkan sebagai penerima beasiswa dari anggaran DD/ADD Tahun 2026. Penetapan tersebut dilakukan secara transparan melalui musyawarah bersama BPD dan Pemerintah Desa Lolomboli yang dibuktikan dengan berita acara resmi," tegas Manahati saat ditemui di kediamannya.
Hal senada juga disampaikan oleh Saroniat Lahagu Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Lolomboli, serta Siduhu Lagu Camat Mandrehe Utara, melalui pesan singkat WhatsApp, kompak membenarkan alur kebijakan tersebut. Mereka memastikan bahwa tidak ada hak masyarakat yang dikebiri; melainkan dialihkan ke bentuk bantuan pendidikan yang tak kalah krusial.
Baca Juga: Siap Guncang Manokwari! Kontingen Pesparawi DKI Jakarta Resmi Dilepas Menuju Panggung Nasional 2026
Artikel Selanjutnya
Menembus Batas Sejarah: RUU Masyarakat Adat, Momentum Emas Menembus Janji Konstitusi yang Tertunda
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Menembus Batas Sejarah: RUU Masyarakat Adat, Momentum Emas Menembus Janji Konstitusi yang Tertunda
Air Mata Haru dan Decak Kagum Warnai Pelepasan Siswa PAUD Hijaiyah Pasirgintung
DPR: Wakil Rakyat Atau Debt Collector Pajak?
Ironi Tapal Batas Padangsidimpuan, Bayar Pajak ke Kas Negara Tapi Hak Rakyat "Dianaktirikan"
Lautan Manusia Kuasai Jantung Bandar Lampung, Tugu Adipura Jadi Saksi Pesta Udara Bersih