NAWACITAPOST.COM — Tren penurunan keaktifan hingga ancaman kefakuman membayangi perjalanan organisasi non-profit setelah melewati masa kepengurusan pertama.
Menanggapi dinamika ini, Ketua Umum Barisan Doa Nusantara (BDN), Setia Budi Mendrofa, menegaskan pentingnya pembatasan kepemimpinan—baik di tubuh organisasi kemasyarakatan suku maupun lembaga pemerintahan—menjadi idealnya satu periode saja demi menjaga efektivitas kerja sekaligus menjamin keberlangsungan regenerasi.
Pernyataan krusial tersebut disampaikan saat ia berkunjung ke kantor Media Nawacita Indonesia pada Rabu, (2/9/2026). Dalam kunjungannya, Setia Budi menyoroti antusiasme awal dan komitmen pendanaan yang kerap merosot tajam ketika seorang pemimpin menjabat lebih dari satu masa bakti.
Baca Juga: KDM Menuju 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Meroket Melampaui Prabowo, Skenario Suksesi Memanas
"Mengamati perkembangan berbagai organisasi saat ini baik organisasi Ono Niha maupun suku lain hampir rata. Organisasi akan mengalami kefakuman dari berbagai kegiatan setelah periode pertama," katanya.
Setia Budi Mendrofa Ketua Umum BDN. (Media Nawacita Indonesia)
Ia mengungkapkan, terutama organisasi yang nonprofit yang jika tidak ada iuran pastilah kegiatan tidak berjalan. Berbagai kegiatan pada umumnya akan lebih mudah digerakkan pada periode pertama.
"Terutama kalau baru terpilih semua tokoh dan anggota akan memberi perhatian termasuk dana. Namun ketika seorang ketua umum masuk ke periode kedua maka mulai ada rasa malas terutama jika pemimpin tidak punya inovasi terkait kegiatan," ujar Setia Budi Mendrofa.
Baca Juga: Usut Kasus Penghalangan Wartawan, Polres Sibolga Genjot Penyelidikan Berlandaskan UU Pers
Menurutnya, membatasi masa jabatan bukan sekadar merawat semangat pengurus, melainkan strategi krusial untuk membuka ruang kaderisasi ke jenjang kepemimpinan yang lebih tinggi.
"Kalau dilihat dari berbagai pertimbangan maka pemerintahan pusat samapai daerah lebih tepatnya kepemimpiman idealnya satu periode saja," imbuh Setia Budi Mendrofa.
Langkah ini diyakini mampu menjaga stamina organisasi tetap hidup sekaligus memberi kesempatan bagi lahirnya figur-figur baru.
"Sehingga keadaan seperti organisasi yamg dengan konsisten seperti itu memberi dampak positif bagi anggota umtuk dikader pada kepetingan diorganisasi atau lembaga lainnya," tuturnya.
Melalui konsistensi pergantian kepemimpinan, organisasi diharapkan tidak terjebak dalam stagnasi, melainkan tetap dinamis, kaya inovasi, serta mampu mencetak kader-kader berkualitas yang siap berkontribusi bagi lembaga maupun kepentingan publik yang lebih luas.(Redaksi)
Artikel Terkait
Lautan Api Hanguskan 114 Rumah di Batu Ceper Jakarta Pusat, Ratusan KK Terdampak
Skandal Korupsi Chromebook: Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Perberat Vonis Ibam Jadi 5 Tahun
Minuman Rasa Susu MBG Anak TK di Bogor Tuai Kecaman Publik
Tergiur Iming-Iming Gaji Besar, Delapan WNI Diduga Terjebak Perekrutan Tentara Rusia
Penutupan Stasiun Karet Dinilai Tidak Efektif, Penumpang Menumpuk di BNI City