NAWACITAPOST.COM — Menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa Taman Kanak-Kanak (TK) di Kabupaten Bogor memicu gelombang kritik publik. Penyebabnya, paket makanan bergizi tersebut memuat produk kemasan yang bukan merupakan susu murni, melainkan minuman berperisa rasa susu dengan kandungan air mendominasi.
Potret pembagian minuman tersebut viral di media sosial setelah diunggah oleh akun X @bisimllahyuk_ pada Selasa (1/9/2026). Pengunggah menyayangkan kualitas asupan yang diberikan kepada anak usia pertumbuhan, terlebih anggaran program tersebut bernilai fantastis.
“Ini MBG di Bogor untuk anak TK pakai susu ini. Anggaran segede itu bisa-bisanya untuk susu malah dipakai buat beli minuman kemasan yang gak jelas dan sampai ada tulisan ‘rasa susu,’” tulis pengunggah utas, dikutip dari akun X @bisimllahyuk_, Selasa (1/9/2026).
Pemilik akun juga membagikan video saat kemasan dibuka dan isinya dituangkan ke dalam gelas. “Dicek kandungannya, ternyata air 86 persen,” lanjutnya.
Sorotan tajam turut datang dari praktisi teknologi pangan, Dennis Guido. Melalui akun Instagram miliknya, @naktekpang, ia menelaah profil nutrisi produk yang dikonsumsi para siswa tersebut.
“Sebagai anak Tekpang, ini kategori produk yang paling rendah persusu-susan,” tulis Dennis, Selasa (1/9/2026).
Dennis menjelaskan bahwa dalam regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), produk ini berada di kasta terendah kategori minuman susu.
“Ini bahkan gulanya lebih banyak dari susunya, terus ada turunan kedelai. Ini ada perisa susu yang gue yakin ini perisa rasa susu dan bikin emosi ini semua kecampur,” imbuhnya.
Ia juga mempertanyakan keberadaan bahan tambahan yang dinilai tidak lazim untuk konsumsi anak-anak. “Yang bikin gue bingung, ini ada Taurin yang setahu gue ditambahin di energy drink, jadi enggak tahu kenapa ada Taurin di sini,” lanjutnya.
Berdasarkan pengamatannya, produk tersebut juga bukan buatan dalam negeri.
“Kalau dilihat, ini bukan diproduksi di Indonesia. Ini produksinya di China. Menurut gue ini enggak pantes buat dikasih ke anak-anak yang lagi masa pertumbuhan,” ungkap Dennis.
Ia menambahkan, zat perisa sintetik dalam minuman itu berpotensi mengelabui persepsi anak-anak.
“Terutama karena mereka enggak ngerti ya perisa sintetik, jadi pas mereka minum air, gula, sama sedikit susu secuil ini, mereka masih ada aroma susu jadi mengira ini susu,” sambungnya.
Atas temuan ini, Dennis mendesak pengelola program di lapangan untuk lebih selektif dan bertanggung jawab dalam memilih menu.
“Jadi please banget buat pengelola MBG-nya ini aturan buat pemilihan produk kemasannya harus di cek lagi. Kalau janjinya susu semoga kalian bisa kasih susu yang beneran,” tegasnya.
Polemik mengenai produk ini rupanya bukan kali pertama terjadi. Pada 5 Februari 2026 lalu, keluhan serupa pernah diunggah oleh akun Instagram @ap.riyanti.
“Bentuknya susu, kok asem? Expired kah? Ternyata enggak. Ini bukan susu, tapi minuman rasa susu. Tapi susu mana yang asem? Oh mungkin susu yang menuju basi,” tulis akun @ap.riyanti, dikutip Selasa (1/9/2026).
Ia juga menyinggung konsistensi fisik cairan tersebut. “Warna minumannya juga disebut bening tapi keruh, disebut keruh tapi nanggung. Ini lebih cerah, enggak butek kayak UHT lainnya,” jelasnya.
Pemilik akun menyarankan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengevaluasi efisiensi anggaran tanpa mengorbankan kualitas nutrisi.
Baca Juga: Anwar Abbas Sanjung KH Miftachul Akhyar, Kepemimpinan Rais Aam PBNU Dinilai Bawa Kesejukan
“Bukan tugasnya kita menyenangkan semua orang, bahkan SPPG juga enggak ada kewajiban untuk selalu memberikan makanan bergizi yang anak sukai. Tapi ngasih minuman rasa susu tapi rasanya asem sih, tolong ya Pak, Bu,” ungkapnya.
“Kalau SPPG enggak bisa budgeting susu di menunya, enggak apa-apa kok, enggak usah maksain. Bisa cari opsi lain yang lebih memungkinkan,” tukasnya.
Artikel Terkait
Melalui Telepon, KDM Titip Pesan Khusus ke Wali Kota Bekasi Usai PNBK
Wali Kota Bekasi DorongFKUB Lipat Gandakan Toleransi, Bidik Predikat Teratas Indonesia
Generasi Emas Bergema, Wali Kota Bekasi Puji Prestasi Pemuda dari Malaysia hingga Jawa Barat
Kepanikan Memuncak: Jembatan Pongpet Ambruk, Puluhan Orang Terperosok ke Jurang
Lahan Gambut Kubu Raya Terbakar, Api Mulai Dekati Permukiman dan SPBU Lintang Batang