NAWACITAPOST.COM – Aroma tak sedap tercium dari proyek Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tersier (Piter) di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Proyek yang seharusnya menjadi oase bagi produktivitas petani, kini justru menjadi tontonan memuakkan akibat pengerjaan yang diduga kuat "Amburadul" dan jauh dari standar teknis.
Proyek "Tumpang Tindih": Mengubur Kualitas di Bawah Puing Lama
Sorotan tajam tertuju pada Kelompok Tani P3A Sederhana selaku pelaksana. Pantauan di lapangan mengungkap fakta mencengangkan: bangunan penurapan baru diduga hanya "numpang duduk" di atas reruntuhan konstruksi lama yang tidak dibongkar total hingga ke dasar.
Fenomena konstruksi "numpang tindih" ini memicu kecaman keras. Bukannya membangun pondasi yang kokoh, sisa material lama dibiarkan menumpuk di bawah bangunan baru, menciptakan kesan pengerjaan yang asal-asalan demi mengejar target tanpa memedulikan ketahanan.
Baca Juga: PGLII Sambut Tim Visitasi Pendaftaran Ulang Kelembagaan
"Ini proyek pemerintah atau proyek pribadi? Kenapa dikerjakan seperti tidak punya aturan? Kesannya asal jadi saja," cetus salah seorang warga dengan nada geram.
Spesifikasi Diragukan, Negara Dirugikan?
Proyek yang didanai oleh APBN Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian TA 2026 ini memiliki nilai pagu sebesar Rp100.000.000. Namun, dengan luas layanan irigasi mencapai 250 hektare, hasil yang terlihat di lapangan justru mengundang tanya.
Seorang petani setempat yang identitasnya dirahasiakan membeberkan kejanggalan pada kualitas material pada Jumat (15/05/2026):
- Komposisi Adukan: Campuran pasir dan semen diragukan kekuatannya, terkesan rapuh dan hanya mengejar kuantitas.
- Dimensi Bangunan: Tinggi bangunan yang diperkirakan hanya 90 cm menjadi tanda tanya besar apakah sudah sesuai dengan spesifikasi teknis yang direncanakan.
Baca Juga: Skandal Perizinan Pesawaran: Kepala Dinas PANI Bungkam, Ada Apa dengan DPMPTSP
"Jika pondasinya saja sudah tumpang tindih dengan bangunan lama, jangan harap bangunan ini bisa bertahan lama. Ini uang rakyat, bukan uang mainan!" tegas warga tersebut.
Dinas Terkait "Tutup Mata", Pelaksana Membisu
Hingga berita ini naik cetak, Ketua Kelompok Tani P3A Sederhana masih bungkam seribu bahasa. Tidak ada keterangan resmi yang diberikan terkait dugaan manipulasi kualitas dan kuantitas pekerjaan tersebut.
Minimnya pengawasan dari dinas terkait di lokasi proyek semakin memperkuat dugaan adanya pembiaran. Publik kini menuntut tindakan tegas:
Artikel Terkait
Revolusi Birokrasi: Balai Keren Dobrak Sekat Perizinan Di Jantung Kota Bekasi
Wali Kota Bekasi Jamin Biaya Pendidikan Anak Korban Kecelakaan Mobil Distribusi SPPG di Aren Jaya
Bekasi Membara: Tri Adhianto Cuci Gudang Kabinet, Disnaker Diberi Deadline 90 Hari!
Sengkarut MBG Ponorogo, Ribuan Siswa Jadi Korban Maladministrasi SPPG Surodikraman
Gema Harapan di Aula Nonon Sonthanie: Wali Kota Bekasi Lantik Sudarsono Jadi Pengurus Baznas