Jumat, 5 Juni 2026

Waspada! Anemia Saat Hamil Tingkatkan Risiko Autisme dan Gangguan Perkembangan Anak  

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Rabu, 21 Mei 2025 | 09:22 WIB
Anemia saat hamil bisa tingkatkan risiko autisme dan gangguan tumbuh kembang anak.  (X)
Anemia saat hamil bisa tingkatkan risiko autisme dan gangguan tumbuh kembang anak. (X)

 

NAWACITAPOST.COM - Anemia defisiensi besi (ADB) selama kehamilan sering kali tidak disadari, namun memiliki dampak serius terhadap perkembangan anak. Salah satu risiko yang kini semakin mendapat perhatian adalah kemungkinan meningkatnya gangguan spektrum autisme (ASD) pada anak yang lahir dari ibu dengan kondisi anemia.

Studi yang diterbitkan di JAMA Psychiatry pada tahun 2019 mengungkapkan bahwa anak-anak dari ibu yang mengalami anemia pada awal kehamilan menunjukkan kecenderungan lebih tinggi mengalami ASD serta gangguan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD). Risiko ini menjadi lebih besar bila anemia terjadi pada trimester pertama atau tergolong sedang hingga berat.

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi fungsi neurologis, tetapi juga berdampak pada berbagai aspek tumbuh kembang anak. Anak dari ibu dengan ADB berisiko lahir dengan berat badan rendah, mudah terkena infeksi berulang, serta mengalami penurunan kemampuan kognitif dan motorik. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mempengaruhi kemampuan belajar dan pencapaian akademik mereka.

Dokter spesialis anak dari RSIA Bina Medika Bintaro, dr Rizki Aryo Wicaksono, menjelaskan bahwa kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat mengganggu perkembangan otak janin. Ia menuturkan bahwa zat besi sangat penting sejak trimester pertama karena berperan dalam pembentukan sistem saraf pusat.

Baca Juga: Kiprah Budiarsa Sastrawinata di FIABCI: Membawa Indonesia ke Panggung Properti Internasional

Tanpa pasokan oksigen dan nutrisi esensial yang cukup, perkembangan organ janin menjadi terhambat. “Jangka panjangnya, karena kekurangan oksigen terus, nanti jadi gagal tumbuh. Organ-organnya tidak mendapatkan oksigen dan akhirnya menjadi gagal tumbuh,” ujar dr. Rizki.

Pemenuhan kebutuhan zat besi juga perlu diperhatikan pada anak dan balita. Zat besi bisa didapatkan dari berbagai sumber makanan dan minuman harian. Susu terfortifikasi menjadi salah satu cara praktis untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi anak, terutama ketika asupan dari makanan padat belum mencukupi. Susu yang difortifikasi tidak hanya mengandung zat besi, tetapi juga vitamin C yang mendukung proses penyerapan zat besi di dalam tubuh.

Sukiman Rusli, seorang dokter spesialis penyakit dalam, turut menekankan pentingnya zat besi dalam menjaga fungsi tubuh. Ia menyatakan bahwa kombinasi nutrisi seperti kalsium, protein, vitamin D, dan zat besi dalam susu berperan penting dalam menjalankan fungsi tubuh secara optimal.

“Susu mengandung kalsium, protein, vitamin D, dan zat besi, yang berperan penting dalam menjaga fungsi tubuh,” jelasnya.

Baca Juga: Pegolf Junior Dunia Kembali Bertanding di Mandiri Ciputra Golfpreneur Championship 2025  

Selain itu, dr Sukiman yang juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Jakarta Utara menambahkan bahwa manfaat susu berlaku bagi semua kelompok usia, termasuk lansia. Kandungan zat besi dan nutrisi lainnya dalam susu membantu menjaga kesehatan tulang, otot, dan stamina yang dibutuhkan terutama pada usia lanjut.

“Tidak hanya yang muda saja, tapi yang tua juga perlu susu,” ungkapnya.

Dengan melihat risiko jangka panjang dari anemia defisiensi besi, penting bagi setiap ibu hamil dan keluarga untuk memperhatikan asupan nutrisi sejak dini. Pencegahan dapat dimulai dari pola makan seimbang, konsumsi suplemen jika dibutuhkan, hingga pemanfaatan produk terfortifikasi untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan yang optimal.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini