Sabtu, 18 Juli 2026

Di Balik Jeruji, Tetap Warga Negara: Mengoreksi Paradigma Pemasyarakatan yang Terlupakan

Photo Author
Yustinus, Nawacita Post
- Selasa, 2 Juni 2026 | 11:28 WIB
Warga Binaan Lapas Panyabungan Saat Menjadi Petugas Upacara
Warga Binaan Lapas Panyabungan Saat Menjadi Petugas Upacara

NAWACITAPOST.COM - Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni seharusnya tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah lahirnya dasar negara, tetapi juga refleksi tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila diwujudkan dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa, termasuk di lembaga pemasyarakatan.

Sayangnya, warga binaan masih sering dipandang sebagai individu yang kehilangan hak, martabat, bahkan identitas kewarganegaraannya akibat tindak pidana yang pernah dilakukan. Selasa, 2 Juni 2026

Pandangan tersebut bertentangan dengan filosofi pemasyarakatan Indonesia. Sistem pemasyarakatan tidak dirancang sebagai sarana pembalasan, melainkan sebagai proses pembinaan yang bertujuan membentuk warga binaan agar mampu kembali menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Yang dicabut oleh negara hanyalah kebebasan bergeraknya, bukan statusnya sebagai warga negara.

Baca Juga: PT SIR Disiapkan untuk Mendukung Ketahanan Pangan, 2 hektar.lahan

Salah satu wujud nyata pembinaan tersebut terlihat dalam kegiatan Upacara Kesadaran Berbangsa dan Bernegara yang rutin dilaksanakan di lapas. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sarana menanamkan disiplin, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap bangsa.

Dalam beberapa kesempatan, warga binaan bahkan diberikan kepercayaan untuk terlibat sebagai petugas upacara, termasuk sebagai penggerek bendera. Meski jumlahnya sangat terbatas dibandingkan petugas lapas, kepercayaan tersebut memiliki makna yang besar dalam proses pembinaan.

Keterlibatan warga binaan sebagai petugas upacara menunjukkan bahwa negara tidak hanya menjalankan fungsi penghukuman, tetapi juga fungsi pembinaan. Kepercayaan yang diberikan menjadi bentuk pengakuan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berubah dan memperbaiki diri.

Baca Juga: Penguatan Nilai Kebangsaan, Lapas Gunungsitoli Gelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026

Di saat yang sama, warga binaan belajar mempraktikkan nilai-nilai yang sejalan dengan Pancasila, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan penghormatan terhadap simbol negara.

Di tengah berbagai tantangan pemasyarakatan, mulai dari overkapasitas hingga stigma sosial terhadap mantan narapidana, pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara sering kali dipandang sebagai aspek pelengkap.

Padahal, keberhasilan pemasyarakatan tidak hanya diukur dari keamanan lapas, tetapi juga dari keberhasilannya membangun kembali identitas kewarganegaraan warga binaan agar siap kembali ke masyarakat. Momentum Hari Lahir Pancasila mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan, keadilan, dan persatuan harus berlaku bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali.

Baca Juga: KLOTER 1 JAMAAH HAJI 2026 TIBA DI BANDARA JUANDA

Ketika seorang warga binaan diberi kepercayaan untuk berpartisipasi dalam Upacara Kesadaran Berbangsa dan Bernegara, terdapat pesan penting bahwa di balik jeruji besi masih ada warga negara yang sedang dibina, masih ada semangat kebangsaan yang dipelihara, dan masih ada kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Pada akhirnya, pemasyarakatan yang berhasil bukanlah yang sekadar mampu mengurung seseorang, melainkan yang mampu mengembalikannya sebagai warga negara yang sadar hukum, bermartabat, dan siap berkontribusi bagi bangsa. Sebab di balik jeruji, mereka tetap warga negara.

Halaman:

Editor: Yustinus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini