Membungkam anggota dewan yang vokal dengan ancaman pemotongan hak keuangan dan mutasi fraksi.
3. BPBD: Sang Manipulator Data Lapangan
Sebagai garda terdepan, BPBD justru diduga memutarbalikkan fakta secara masif.
-
Mengubah status rumah rusak ringan menjadi "rusak berat total".
-
Memasukkan nama warga yang sudah meninggal dunia bertahun-tahun lalu, hingga nama warga yang sudah pindah domisili sebelum banjir terjadi.
-
Merekayasa dokumentasi dengan menggunakan foto kerusakan dari lokasi lain secara berulang-ulang.
4. Dinas Sosial: Memanfaatkan Keputusasaan Warga
Dinas Sosial diduga menggunakan taktik kejam di lapangan untuk melegitimasi anggaran.
-
Meminta warga menandatangani dokumen kosong dengan janji manis bantuan Rp 15 juta segera cair, yang nyatanya tidak pernah ada.
-
Melaporkan ke publik bahwa bantuan telah tersalurkan 100% kepada 1.133 KK, padahal di lapangan warga tidak menerima selembar seng pun.
5. Inspektorat: Stempel Sah Penutup Kejahatan
Titik paling memilukan berada di lembaga pengawas ini.
-
Mengeluarkan laporan reviu yang menyatakan "tidak ada kejanggalan", seolah buta terhadap selisih angka 1.133 berbanding 380 yang sangat mencolok.
-
Menjadi benteng pelindung dari kejaran media dan masyarakat dengan dalih "sedang pemeriksaan internal".
"Ini Bukan Kesalahan, Ini Pencurian Berencana!"
Kemarahan publik pun tidak lagi membendung. Suara-suara keadilan mulai menggema menuntut para pelaku diseret ke hukum.
“Ini bukan kesalahan, ini adalah pencurian yang direncanakan berbulan-bulan. Mereka menunggu banjir datang sebagai kesempatan emas untuk mengeruk keuntungan. Ratusan miliar rupiah uang yang seharusnya membangun kembali rumah warga, menyelamatkan anak-anak dari kedinginan, justru dibagi-bagi di meja makan orang-orang yang memakai jabatan untuk berbuat jahat!” tegas Agus Halawa, SH dengan suara bergetar menahan amarah.
Senada dengan itu, aktivis kemanusiaan Rajes Simanungkalit menambahkan dengan kecaman yang tidak kalah menohok:
“Mereka merampas hak korban bencana dua kali: pertama air merampas rumah mereka, kedua penguasa merampas harapan mereka. Ini adalah kejahatan terhina yang pernah tercatat di sejarah Sumatera Utara!”