Dari sisi pemanfataannya, Dr. Doddyk Pranowo, STT., M.Si., Akademisi Universitas Brawijaya menjelaskan, bahan baku porang memiliki potensi besar saat ini banyak menjadi produk olahan makanan seperti : mie shirataki, beras konyaku, mie shirataki instant, pasta porang, konyaku, boba dan turunan makanan lainnya yang dapat digolongkan sebagai healthy food.
Selain itu produk turunan porang juga dapat diolah sebagai bahan baku produk kecantikan seperti : butiran pembersih wajah, spons pembersih wajah, supplement diet, pengental alami, pembersih wajah, dsb.
" Sebelum menjadi produk olahan akhir, umbi porang terlebih dahulu diolah menjadi chips yang dikeringkan melalui pengeringan oven atau dikeringkan secara manual (penjemuran matahari, red). Setelah menjadi chips yang kering, umbi porang diolah menjadi tepung porang sampai dengan ekstrak Glukomannan," katanya.
Sesuai data, Dr. Doddyk mengatakan, Ekspor porang pada tahun 2019-2020 sebesar 20,5 Juta Kg Chips atau setara dengan 136 Juta Kg Porang Basah. Jika dirata-ratakan kembali produktivitas lahan porang adalah sebesar 70ton/Ha.
" Potensi porang yang cukup besar terutama di pasar global, diharapkan dapat mendukung pasar dalam negeri. Apalagi jika diperkuat dengan menyerap produk hasil pengolahan porang ditengah tantangan branding produk porang yang cenderung masuk ke produk kelas menengah ke atas. Ke depan, kami mengharapkan Pemerintah fokus mengembangkan pasar porang dalam negeri melalui dukungan inovasi dalam mempopulerkan produk olahan porang sehingga tidak hanya dinikmati oleh pasar luar negeri namun juga dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia," harap dosen fakultas teknologi industri pertanian Universitas Brawijaya Malang ini. (BNW)