NAWACITAPOST.COM — Sebuah rekaman amatir mendadak mengguncang jagat maya dan memicu gelombang amarah warganet. Berawal dari urusan benang dan jarum yang tak kunjung usai, sebuah konfrontasi di Desa Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, meledak menjadi insiden luar biasa yang melibatkan dugaan rasisme ekstrem hingga ancaman pembunuhan.
Video yang viral setelah diunggah oleh akun Instagram @hiddenbyhilda dan disebarluaskan oleh @hallo.denpasar ini, memperlihatkan detik-detik mencekam saat pelayanan jasa berubah menjadi arena intimidasi.
Kronologi: Janji Manis yang Berujung Ingkar
Drama ini bermula dari kekecewaan seorang pelanggan wanita. Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban telah menyerahkan kain dan melunasi biaya jahit pada 30 Juni 2026, dengan janji pakaian tersebut rampung keesokan harinya, 1 Juli 2026.
Namun, janji tinggal janji. Tiga hari berturut-turut pelanggan tersebut datang menagih haknya, namun selalu pulang dengan tangan hampa. Habis kesabaran karena merasa dirugikan, korban akhirnya menuntut uangnya kembali. Keputusan itu justru memicu ledakan emosi dari sang penjahit.
"Masalahnya saya bayar lho! Ya sudah saya tunggu 10 menit, saya tunggu baju saya. Empat hari lho!" cecar pelanggan tersebut dalam rekaman video, menuntut profesionalitas yang hakiki.
"Biar Saya Suruh Tukang Pukul Bunuh Kamu!" – Rentetan Makian SARA dan Ancaman Nyawa
Bukannya meminta maaf atas keterlambatan kerja, oknum penjahit tersebut justru menyemburkan kalimat makian yang sangat provokatif dan berbau SARA. Ia secara terang-terangan merendahkan martabat pelanggan dengan membandingkan asal-usul daerah secara diskriminatif.
"Orang Bali orang kaya-kaya, bukan kayak kamu, orang miskin! Kamu orang miskin nggak makan di Jawa, nyari uang di Bali, main-main sama orang Bali," teriak penjahit tersebut dengan nada tinggi.
Ketegangan semakin memuncak dan berubah drastis menjadi teror psikologis saat sang penjahit melontarkan ancaman fisik yang mengerikan. Tanpa tedeng aling-aling, ia mengancam akan menghancurkan mata pencaharian korban hingga mengirim eksekutor untuk menghabisi nyawanya.
"Saya bisa lapor ke bos kamu, mudah-mudahan kamu dipecat... Saya gerakkan orang Bali biar kamu mati, biar saya suruh tukang pukul saya bunuh kamu!" ancamnya brutal.
Pembelaan Pelaku: "Masa Harus Taruh Makanan Pas Enak-enaknya Makan?"
Pasca video tersebut meledak di media sosial, anggota DPD RI asal Bali, @aryawedakarna, mengunggah video klarifikasi dari sang penjahit yang diketahui bernama Sintya. Menariknya, Sintya justru merasa dirinya adalah korban dalam situasi ini. Ia berdalih kemarahannya memuncak karena pelanggan tidak sabaran dan mengganggu waktu makannya.
"Dia yang salah, bukan saya yang salah. Orang minta disuruh nunggu 15 menit saja nggak mau, masa kita harus naruh makan pas enak-enaknya makan?" ujar Sintya membela diri tanpa rasa bersalah (19/7/2026).
Artikel Selanjutnya
Guncang Yogyakarta! Ruyandi Hutasoit Serukan Kebangkitan Indonesia Menuju Negara Maju
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Artikel Terkait
Guncang Yogyakarta! Ruyandi Hutasoit Serukan Kebangkitan Indonesia Menuju Negara Maju
Drama Eks Jampidsus Febrie Adriansyah: Sempat Membingungkan Jadi Saksi 3 Mega Kasus
Kopdes Merah Putih Dibayangi Isu Pengadaan Kipas Angin Rp1,8 Triliun, Menkop Ferry Juliantono Mengaku Tak Tahu
Publik Tantang Bea Cukai Batam Serbu Gurita Rokok Ilegal dan Pelabuhan Jalur Tikus!
Gebrakan Dari Nias: DPD HIMNI Sumut Kawal Langkah Berani Gubernur Berkantor di Pulau Impian!