Minggu, 19 Juli 2026

Histeris di Parlemen: Wahyudi Askar Bongkar Sisi Gelap MBG, Sebut Terbesar Sekaligus Terkorup di Dunia!

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Minggu, 19 Juli 2026 | 14:39 WIB
Media Wahyudi Askar saat menghadiri RDPU bersama Komisi IX DPR RI (Akun YouTube resmi DPR RI)
Media Wahyudi Askar saat menghadiri RDPU bersama Komisi IX DPR RI (Akun YouTube resmi DPR RI)

NAWACITAPOST.COM – Suasana Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IX DPR RI pada Kamis (16/7/2026) mendadak tegang dan dipenuhi atmosfer emosional yang pekat. Di hadapan para wakil rakyat, Media Wahyudi Askar, peneliti senior sekaligus anggota MBG Watch, menyampaikan testimoni dramatis yang mengocok nalar publik. Dengan suara bergetar namun sarat akan data, Wahyudi membongkar apa yang ia sebut sebagai "sisi gelap" dari program megaproyek Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bukan sekadar kritik normatif, pernyataan Wahyudi di ruang sidang parlemen hari itu adalah sebuah hantaman keras terhadap tata kelola kebijakan nasional yang dinilainya telah berada di titik nadir.

Sentilan Akademisi Dunia: "Tidak Ada Satupun Negara di Dunia yang MBG-nya Diurus Aparat!"

Wahyudi membuka pembicaraan dengan membeberkan rekam jejak akademiknya yang panjang di Eropa, membandingkan potret perlindungan sosial global dengan realitas yang terjadi di tanah air hari ini.

Baca Juga: Jerat Korupsi Febrie Adriansyah Seret Don Ritto, Rekan Bisnis Sekaligus Adik Tingkat yang Kini Diborgol Brimob!

"Saya menghabiskan belasan tahun meneliti tentang perlindungan sosial di banyak negara. Saya menyelesaikan S2 dan S3 di Inggris. Tidak ada satupun negara di seluruh dunia yang program makan bergizi gratisnya dilakukan oleh aparat keamanan!" tegas Wahyudi, disambut keheningan mendalam di ruang rapat.

Menurutnya, pelibatan aparat keamanan dalam ranah distribusi logistik pangan anak sekolah adalah anomali global yang tidak masuk akal secara komparatif. Namun, kejutan tidak berhenti di situ. Wahyudi langsung menukik ke jantung persoalan: anggaran dan potensi rasuah.

"Dari semua program perlindungan sosial yang ada di seluruh dunia, we are the biggest free meal school program. Program ini adalah yang terbesar dari segi anggarannya. Dan satu catatan menarik... ini adalah program terbesar dalam hal inefisiensi dan potensi korupsinya di seluruh dunia!" kata Wahyudi.

"Tontonan Irasionalitas": Ketika Penegakan Hukum Dikebiri

Dramaturgi RDPU semakin memuncak ketika Wahyudi membeberkan fakta-fakta kejanggalan hukum yang terjadi di balik layar pasca-penangkapan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Kebijakan intervensi hukum disinyalir telah mencederai rasa keadilan publik.

Baca Juga: Mega Proyek Laptop Gaib: Komisi IV DPRD Pesawaran Disorot Tajam, Taji Pengawasan Dinilai Tumpul!

"Hingga kemudian datanglah hari ketika Kepala BGN ditangkap, datanglah hari kemudian Kejaksaan Agung diminta berhenti untuk mengumpulkan data berkaitan dengan korupsi di MBG. Kami, publik, ditontonkan oleh irasionalitas yang tidak masuk akal!" serunya.

Dampak Sistemik yang Menghancurkan Petani Lokal

MBG Watch juga menyoroti bagaimana sistem Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG) justru menjadi bumerang bagi perekonomian akar rumput. Berdasarkan kajian mereka, skema ini melanggar prinsip persaingan usaha sehat dan memicu efek domino yang mengerikan:

  • Pukulan Telak bagi Petani & Peternak: Skema SPPG dinilai mematikan ruang gerak produsen lokal demi korporatisasi sepihak.

  • Instabilitas Harga Pangan Akut: Terjadi lonjakan harga pangan dari minggu ke minggu (week-to-week).

  • Multiplayer Negatif Efek: Di wilayah dengan konsentrasi SPPG tertinggi, harga daging ayam melonjak lebih dari 10 persen hanya dalam waktu sepekan. Dampak buruk ini terpaksa ditanggung oleh masyarakat luas yang bahkan anak-anaknya tidak menerima manfaat program MBG.

Halaman:

Editor: Tiarsin

Sumber: TVR Parlemen

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini