Senin, 20 Juli 2026

Histeris di Parlemen: Wahyudi Askar Bongkar Sisi Gelap MBG, Sebut Terbesar Sekaligus Terkorup di Dunia!

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Minggu, 19 Juli 2026 | 14:39 WIB
Media Wahyudi Askar saat menghadiri RDPU bersama Komisi IX DPR RI (Akun YouTube resmi DPR RI)
Media Wahyudi Askar saat menghadiri RDPU bersama Komisi IX DPR RI (Akun YouTube resmi DPR RI)

Baca Juga: Plot Twist Terbesar Abad Ini: Jadi Tersangka Korupsi Kakap, Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Gandeng Hotman Paris Lawan Kortastipikor!

Tiga Entitas Demokrasi yang Lumpuh dan Nestapa "Disuruh Pindah Negara"

Dalam keputusasaannya, Wahyudi menyebut DPR RI sebagai "titik terakhir" tempat masyarakat sipil bisa mengadu, setelah gerilya mereka ke KPK, berbagai Kementerian, hingga Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) membentur tembok tebal kekuasaan.

Secara konstitusional, Wahyudi menegaskan hanya ada tiga institusi di republik ini yang memiliki daya hidup untuk menghentikan atau mengevaluasi total program yang dinilai cacat tata kelola ini:

  1. Mahkamah Konstitusi (MK): Judicial Review telah diajukan, namun diprediksi kuat akan ditolak.
  2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR): Memiliki hak melekat secara demokrasi, namun belum mengambil tindakan progresif.
  3. Presiden Prabowo Subianto: Pemegang otoritas tertinggi eksekutif yang memegang kunci keputusan.

"Terus terang, saya hanya ingin bilang, dari tiga entitas ini kami berada dalam kekecewaan dan kekhawatiran. Ini tidak akan kemana-mana dan tidak direspons oleh ketiga institusi ini," ungkap Wahyudi, menggambarkan kebuntuan demokrasi yang mereka hadapi.

Baca Juga: Terisolasi di Perbukitan, Guru di Parigi Moutong Nekat Racik MBG Mandiri Demi Senyum Anak Didiknya

Titik Terendah Seorang Patriot

Ruang Komisi IX seakan tersedak ketika Wahyudi menutup pernyataannya dengan sebuah pengakuan yang sangat emosional dan menyakitkan. Menjadi kritis di negeri sendiri, rupanya harus dibayar dengan harga yang sangat mahal bagi para aktivis masyarakat sipil.

"Sangat menyakitkan kalau kami harus berharap kepada entitas keempat, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan hari ini, part terakhir yang ingin kami sampaikan juga, kami masyarakat sipil yang menyuarakan ini... disuruh pindah negara," ungkapnya.

Kalimat itu mengalir bagai sembilu. Wahyudi memungkasi orasinya dengan tatapan nanar, merefleksikan patah hatinya seorang anak bangsa yang menuntut perbaikan bagi negaranya namun justru diusir secara naratif.

"Ini adalah titik terendah, terus terang bagi saya. Saya keluar negeri sekolah, kawan-kawan berjuang dengan baik untuk masyarakat, kemudian ketika kita melakukan ini (kritik), kita disuruh pergi ke luar Indonesia... This is so painful!" pungkasnya lirih, meninggalkan gaung perlawanan yang mendalam di bawah atap gedung kura-kura Senayan.

Baca Juga: Sandiwara di Balik Tirai Sutra! Agus Halawa Desak Kejatisu Bongkar Megakorupsi Bencana Ratusan Miliar

RDPU Kamis siang itu berakhir, namun kesaksian dramatis Wahyudi Askar bersama MBG Watch dipastikan akan menjadi bola salju panas yang terus menggelinding, menguji komitmen transparansi dan demokrasi pemerintahan saat ini.(***)

Halaman:

Editor: Tiarsin

Sumber: TVR Parlemen

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini