Minggu, 19 Juli 2026

Guncang DPR! Aliansi Ibu Indonesia Mengamuk: Program Makan Bergizi Gratis Hina Ilmu Pengetahuan dan Kaum Perempuan!

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Minggu, 19 Juli 2026 | 14:38 WIB
Annette Mau Aliansi Ibu Indonesia saat menghadiri RDPU bersama Komisi IX DPR RI (Akun YouTube resmi DPR RI)
Annette Mau Aliansi Ibu Indonesia saat menghadiri RDPU bersama Komisi IX DPR RI (Akun YouTube resmi DPR RI)

NAWACITAPOST.COM – Suasana ruang rapat Komisi IX DPR RI seketika hening dan mencekam pada Kamis (16/7/2026). Kehadiran Aliansi Ibu Indonesia yang dipimpin oleh sang orator ulung, Annette Mau, berubah menjadi badai kritik yang mengguncang jalannya Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU).

Bukan sekadar interupsi biasa, Annette menyampaikan orasi yang membakar ruang sidang. Ia menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang selama ini diagung-agungkan sebagai program megaproyek nasional, tak lebih dari sebuah kebijakan yang secara nyata menghina ilmu pengetahuan dan merendahkan kaum perempuan.

"Jangan Lawan Perempuan Soal Gizi!": Tamparan Keras untuk Pengambil Kebijakan

Dengan nada suara yang bergetar menahan amarah namun penuh penekanan, Annette Mau langsung membongkar bias gender dalam struktur Badan Gizi Nasional (BGN). Ia mempertanyakan klaim pemerintah yang kerap menyebut perempuan sebagai pilar peradaban, namun nyatanya disingkirkan dalam proses pengambilan keputusan strategis.

Baca Juga: Dua WNI Diduga Disekap di Myanmar, Nyawa Dipertaruhkan dalam Hitungan Mundur 4 Hari!

"Kalau bangsa ini jargonnya perempuan adalah pilar peradaban, di mana suara kami? Mari lihat daftar jajaran BGN, berapa persen perempuan? Mari lihat para pengambil keputusan dalam proyek mega-budget ini! Bukankah kita tahu bahwa urusan makan, urusan gizi, perempuan dan ibu jangan dilawan, Bapak dan Ibu! Rp10 ribu di tangan kami, itu jadinya bernilai Rp100 ribu!" tegas Annette di hadapan para anggota dewan.

Annette memaparkan realitas empiris kehebatan para ibu dalam mengelola domestik. Dengan simulasi matematis dapur yang riil, ia menyindir para pembuat kebijakan yang dinilai tidak paham cara kerja ekonomi keluarga miskin.

"Jadi jangan tanya di tangan kami Rp15 ribu bisa jadi berapa. Dengan Rp15 ribu, yang makan bukan satu anak satu kali sehari. Ketika Rp15 ribu dari pemerintah dalam bentuk bantuan sosial ditambah dengan Rp10 ribu penghasilan ibu itu, total jadi Rp25 ribu, satu rumah bisa makan!" urainya, disambut anggukan setuju dari sejumlah anggota dewan.

Ketika Ilmu Pengetahuan dan Kehangatan Ibu Dilecehkan

Kritik tajam Aliansi Ibu Indonesia semakin menukik saat menyoroti kualitas makanan yang didistribusikan dalam proyek MBG. Annette menyebut logika distribusi program ini telah melanggar fitrah kasih sayang seorang ibu dan dasar-dasar ilmu gizi.

Baca Juga: Dua Nyawa Pelajar Melayang di Atas Rel, Di Mana Gubernur Lampung dan PT KAI?

"Ibu belum tentu lulusan ahli gizi, tapi kami tahu, kami tidak akan ngasih makan anak dengan lele mentah. Nggak ada di dalam rumus kami makan siang itu batok kelapa, air kelapa!" cetus Annette dengan nada dramatis.

Ia menantang DPR dan Pemerintah untuk melakukan audit lapangan terkait kondisi makanan saat tiba di tangan anak-anak sekolah.

"Makanan harusnya diterima hangat, dalam kondisi terbaiknya. Sekarang mari kita survei, mana sekolah penerima manfaat MBG yang menerima makanan dalam keadaan yang hangat dan nutrisi terbaiknya? Saya berani bertaruh, TIDAK ADA! Karena diperlukan jarak sekian kilometer untuk mengantarkannya," serunya.

Annette bahkan menyinggung spekulasi publik yang beredar luas di berbagai ruang diskusi dan podcast nasional, yang menyebut bahwa mega proyek ini rawan kebocoran anggaran.

"MBG ini adalah proyek di mana bantuan sosial dari negara kepada rakyat dipotong langsung setengahnya! Ini gila sekali bukan?" tembaknya langsung.

Halaman:

Editor: Tiarsin

Sumber: TVR Parlemen

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini