Baca Juga: Tragedi Adonara Membara Lagi: Satu Pemuda Tewas, Tiga Kritis dalam Bentrok Berdarah
Pecahnya Perlawanan Perempuan: Kritik Terbuka untuk Kepala BGN
Dramatisme rapat mencapai puncaknya ketika Annette secara terbuka menyatakan mosi tidak percaya kepada Kepala BGN yang baru, Nanik S. Deyang. Bagi Aliansi Ibu Indonesia, representasi gender di kursi kekuasaan menjadi tidak bermakna jika tidak memiliki empati dasar seorang ibu.
"Maaf kalau saya boleh ngomong terus terang, saya tidak merasa bangga Ibu Nanik S. Deyang yang menggantikan menjadi Kepala BGN sekarang. Maaf, dia tidak ada di pihak kami walau dia berjenis kelamin perempuan. Karena kalau dia perempuan yang sungguh-sungguh, dia akan paham that is not the way you feed the children (bukan begitu cara memberi makan anak-anak)!" skakmat Annette.
Annette menilai negara telah bertindak kejam karena abai terhadap rentetan kasus buruk di lapangan, termasuk insiden keracunan massal yang menimpa anak-anak tanpa adanya pertanggungjawaban moral dari pemerintah.
"Tidak ada satu pun aspek yang baik dari pelaksanaan MBG ini! Betapa hinanya anak-anak kita di mata negara, diberikan makan sampai keracunan! Dan apa tindakan negara? Adakah kompensasi? Adakah permintaan maaf? Adakah ganti rugi secara sosial? Bapak-Ibu yang tidak punya BPJS harus merawat anaknya berhari-hari di rumah sakit tanpa kompensasi, lalu kita berkata kita sudah membela orang miskin? How dare you! Betapa sakit hatinya kami sebagai perempuan!" tegas Annette.
Proyek Paling Menghinakan: Rapor Merah dari Masyarakat Sipil
Di akhir orasinya yang menguras emosi ruang sidang, Annette menegaskan bahwa MBG telah menjadi potret buram bagaimana sains dan kajian akademis dicampakkan demi ambisi politik tergesa-gesa. Aliansi Ibu Indonesia juga memprotes keras penempatan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) yang justru dibangun di wilayah kaya, bukan di kantong-kantong stunting dan kemiskinan, dengan dalih buruknya infrastruktur.
"Ini adalah proyek yang paling menghinakan ilmu pengetahuan dan perempuan!" pungkas Annette dengan nada bergetar namun tegas.
"Peneliti tidak didengar, akademisi tidak didengar, dosen tidak didengar, ahli gizi tidak didengar. Berbagai rekomendasi masyarakat sipil terkait gizi, pendidikan, dan perawatan keluarga sama sekali tidak didengar. Lalu, ini program siapa sebenarnya?" tandasnya.
Sidang RDPU Komisi IX terpaksa menelan pil pahit dari kesaksian dan kemarahan Aliansi Ibu Indonesia. Dokumen kritik ini kini berada di meja DPR, menjadi penanda besar bahwa para ibu di Indonesia tidak akan tinggal diam ketika dapur, anak-anak, dan kecerdasan bangsa dipertaruhkan atas nama proyek megastruktur.(***)
Artikel Terkait
Sandiwara di Balik Tirai Sutra! Agus Halawa Desak Kejatisu Bongkar Megakorupsi Bencana Ratusan Miliar
Terisolasi di Perbukitan, Guru di Parigi Moutong Nekat Racik "MBG Mandiri" Demi Senyum Anak Didiknya
Plot Twist Terbesar Abad Ini: Jadi Tersangka Korupsi Kakap, Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Gandeng Hotman Paris Lawan Kortastipikor!
Mega Proyek Laptop Gaib: Komisi IV DPRD Pesawaran Disorot Tajam, Taji Pengawasan Dinilai Tumpul!
Jerat Korupsi Febrie Adriansyah Seret Don Ritto, Rekan Bisnis Sekaligus Adik Tingkat yang Kini Diborgol Brimob!