Jumat, 5 Juni 2026

Perjalanan Inspiratif Suwardi: Dari Penjual Gorengan hingga Menjadi Juragan Properti

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Rabu, 12 Juni 2024 | 15:15 WIB
Suwardi, juragan properti di Bekasi, Jawa Barat.  (YouTube)
Suwardi, juragan properti di Bekasi, Jawa Barat. (YouTube)

NAWACITAPOST.COM - Sejak lulus dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip), pada tahun 1991, Suwardi rajin mengirimkan lamaran ke hampir semua bank pemerintah maupun swasta. Ia ingin menjadi seorang bankir profesional sebagaimana yang dicita-citakannya sejak lama.

Namun, tiga bulan berlalu tanpa satu pun respons. Merasa harus mengubah strategi, Suwardi mulai mencari peluang lain melalui iklan baris di surat kabar. Setiap lowongan yang memerlukan bagian legal tak luput dari perhatiannya.

Suatu hari, usahanya membuahkan hasil. Sebuah perusahaan di Slipi, Jakarta Barat, memanggilnya untuk wawancara. "Alhamdulillah, saya langsung diterima dengan gaji Rp 280 ribu," kenangnya.

Tugasnya cukup sederhana, termasuk memeriksa operasional mobil-mobil kantor di Kedoya. Namun, Suwardi melihatnya sebagai pelajaran berharga dan kesempatan untuk belajar ilmu baru. Lelaki kelahiran Boyolali, 21 September 1966, ini tidak pernah menganggap remeh pekerjaan apapun.

Baca Juga: Ciputra Group Luncurkan UC Living, Investasi Properti dan Pendidikan yang Menjanjikan di Masa Depan

Pengalaman awal ini memberikan fondasi yang kuat dalam kariernya, meski tugasnya saat itu terbilang sederhana. Keberhasilan Suwardi dalam membenahi administrasi di tempat kerjanya membuatnya dipercaya menangani akte-akte perusahaan dan pembebasan lahan di Jatiluhur.

Tahun 1993, Suwardi mendapat panggilan dari PT Kreasi Graha Raya, sebuah perusahaan yang merupakan kongsi antara Kalbe Farma dan dua perusahaan lainnya. Meskipun terjadi pengalihan kepemilikan lahan pada 1995, Suwardi tetap dipertahankan dan gajinya meningkat dua kali lipat. Dia terlibat dalam berbagai proyek pembebasan lahan besar, seperti di Kayu Manis Bogor dan Ciater-Subang.

Krisis moneter tahun 1999 memberikan berkah tersendiri bagi Suwardi. Ia memanfaatkan waktu untuk melanjutkan pendidikan di Magister Kenotariatan Universitas Indonesia pada tahun 2001. Kini, Suwardi memiliki wilayah kerja sebagai notaris di Kota Bekasi.

Pada tahun 2006, Suwardi mendapat tawaran untuk membeli lahan seluas 5.000 meter di Bekasi seharga Rp 80 ribu per meter. Meski direksi perusahaannya menolak, Suwardi melihat peluang dan memutuskan untuk membeli dan mengelolanya sendiri.

Baca Juga: 11 Kantah di Jawa Barat Layani Pembuatan Sertifikat Tanah Elektronik, Ini Daftarnya!

Keputusan ini menjadi titik balik dalam kariernya. Dia mendirikan PT Samudra Raya Swagriya dan memulai proyek pertama membangun 48 unit rumah subsidi. Proyek ini sukses besar, dengan Suwardi melunasi utang dan meraih keuntungan sebesar Rp 700 juta.

Kesuksesan pertama tersebut memotivasi Suwardi untuk terus mengembangkan bisnis propertinya. Dia membangun rumah subsidi di berbagai lokasi, termasuk di lahan kebun seluas 6.000 meter dan lahan 2 hektare di Pedurenan. Dengan modal jaringan yang kuat dan keahlian manajerial, Suwardi berhasil menjalin kerjasama yang menguntungkan tanpa mengeluarkan biaya besar.

Suwardi menerapkan prinsip efisiensi dalam bisnisnya. Dia tidak menggunakan jasa kontraktor dan hanya membayar arsitek dengan honor minimal. Untuk promosi dan marketing, Suwardi melatih asisten rumah tangga dan office boy di perusahaannya, memberikan mereka insentif tambahan untuk setiap unit yang terjual.

Pandemi COVID-19 memberikan tantangan besar bagi Suwardi. Penjualan rumah menurun, namun dia tetap harus membayar gaji pegawai. Sayangnya, ketika situasi mulai pulih, semangat kerja pegawainya justru menurun. Akhirnya, Suwardi memutuskan untuk merampingkan timnya, menyisakan hanya tiga pegawai yang mengurusi KPR, marketing, dan teknik.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini