Sabtu, 18 Juli 2026

Harga Properti di Kota Ini Termahal di Indonesia

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Selasa, 11 Juni 2024 | 16:05 WIB
Ilustrasi harga properti di Indonesia kian mahal.  (Pixabay)
Ilustrasi harga properti di Indonesia kian mahal. (Pixabay)

NAWACITAPOST.COM - Banyak orang yang merasa harga rumah sekarang semakin mahal, terutama di Jakarta. Riset yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengonfirmasi hal ini.

Laporan yang berjudul "Ribut Soal Tapera: Kebijakan 'Harga Mati' untuk Turunkan Angka Kekurangan Perumahan Nasional?" menyajikan data mengejutkan tentang harga rumah di Indonesia.

Dalam laporan tersebut, kota dengan harga rumah tertinggi adalah Medan, Sumatra Utara. Harga rumah di Medan rata-rata setara dengan 23,5 kali pendapatan tahunan.

Surabaya menyusul dengan 21,33 kali gaji, Batam dengan 20,94 kali gaji, dan Makassar dengan 19,78 kali gaji. Jakarta berada di posisi kelima dengan harga rumah rata-rata setara dengan 19,76 kali pendapatan tahunan. Sementara itu, Malang memiliki harga rumah paling terjangkau dengan 11,91 kali gaji.

Baca Juga: Rahasia Sukses Bisnis Properti Tanpa Modal, Potensi Besar!

Penyebab harga rumah yang melambung di Indonesia sangat beragam. Pertama, harga lahan yang sangat tinggi, terutama di kota-kota besar, menjadi penghambat utama dalam penyediaan rumah yang terjangkau. Harga lahan yang mahal menyebabkan pengembang kesulitan untuk menawarkan rumah dengan harga yang masuk akal.

Kedua, biaya konstruksi yang meningkat terus menerus, termasuk harga material bangunan dan upah tenaga kerja, turut mempengaruhi harga jual rumah. Ketiga, kebijakan pembiayaan yang belum optimal juga menjadi masalah.

Meskipun pemerintah telah meluncurkan berbagai program seperti Program 1 Juta Rumah dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), efektivitas kebijakan ini masih dipertanyakan. Banyak masyarakat berpenghasilan rendah masih kesulitan mengakses pembiayaan perumahan yang layak.

Selain itu, tingginya angka backlog perumahan menunjukkan betapa besar kekurangan rumah layak huni di Indonesia. Pada tahun 2023, angka backlog naik menjadi 12,7 juta unit rumah, meningkat dari 11,6 juta pada tahun 2022. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan yang ada saat ini belum cukup untuk mengatasi kekurangan perumahan di Indonesia.

Baca Juga: 10 Kunci Sukses Jadi Agen Properti Pemula

Namun, ada beberapa solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah perlu bekerja sama dengan pengembang untuk memanfaatkan lahan-lahan yang belum optimal, termasuk lahan milik negara, untuk pembangunan rumah yang terjangkau.

Program subsidi perumahan harus lebih tepat sasaran dan efektif, seperti meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Selain itu, menciptakan skema pembiayaan yang lebih inovatif dan terjangkau, seperti program KPR dengan bunga rendah dan tenor panjang, agar masyarakat lebih mudah memiliki rumah.

Mempercepat dan menyederhanakan proses perizinan untuk pembangunan perumahan juga dapat membantu menekan biaya operasional dan mempercepat realisasi proyek perumahan. Terakhir, mengembangkan hunian vertikal atau rumah susun yang lebih ekonomis dan efisien dalam penggunaan lahan dapat menjadi solusi jangka panjang. Meskipun margin keuntungan dianggap tidak sepadan, dengan insentif yang tepat, pengembang dapat tertarik untuk berinvestasi.

Mahalnya harga rumah di Indonesia, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian LPEM FEB UI, merupakan tantangan besar yang perlu segera diatasi. Apalagi, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011, negara bertanggung jawab menyediakan dan mempermudah akses perumahan yang terjangkau.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini