Jumat, 12 Juni 2026

Kota Berusia 346 Tahun Ini Bakal Jadi Ibu Kota Baru di Kepulauan Nias

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Senin, 8 April 2024 | 16:43 WIB
Tradisi Lompat Batu di Kepulauan Nias. (X)
Tradisi Lompat Batu di Kepulauan Nias. (X)

NAWACITAPOST.COM - Pada tahun ini, Kota Gunungsitoli, terletak di Pulau Nias, provinsi Sumatera Utara, telah berusia 346 tahun. Seiring dengan usianya yang sudah ratusan tahun berdiri, Kota Gunungsitoli, memiliki sejarah panjang yang bermula sejak abad ke-16.

Kota ini baru diresmikan sebagai kota otonom pada tanggal 26 November 2008 oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Nias. Dengan jumlah penduduk mencapai 137.583 jiwa dan kepadatan 293 jiwa/km² pada tahun 2022, Gunungsitoli adalah kota termuda dan terbesar di Kepulauan Nias.

Sejarah Gunungsitoli, juga dikenal sebagai Luaha. Kota ini terletak pada muara sungai Nou atau pasar Gunungsitoli saat ini. Pada masa itu, ada tiga marga dominan yang menghuni kota Luaha, yaitu Harefa, Zebua, dan Telaumbanua atau lebih dikenal dengan Sitölu Tua.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat 7 Tradisi dan Adat Istiadat Masyarakat Kepulauan Nias

Sejarah Kepulauan Nias

Kepulauan Nias atau Kepni telah dihuni sejak 12.000 tahun yang lalu oleh imigran dari Asia. Kelompok etnis Nias atau yang menamakan diri Ono niha (anak manusia), sudah menetap di wilayah tersebut 700 tahun lalu.

Nias dikenal oleh pedagang asing baik dari Tiongkok maupun Arab sejak abad ke-7 Masehi. Kesultanan Aceh menguasai wilayah ini pada abad ke-15, menyebabkan terjadinya akulturasi budaya di sana.

Pada tahun 1688, VOC menjalin kontrak dagang dengan suku-suku di Nias dan bahkan mendirikan perwakilan dagangnya di Gunungsitoli. Di sana juga dibangun pelabuhan dan bangunan berfungsi gudang.

Sebuah survei dan kajian tentang Kepulauan Nias yang dirilis oleh Dr. Helmut Weber (1999:74), ahli-peneliti pada Pusat Penelitian Kebudayaan dan Perubahan Sosial, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebutkan, wilayah dan masyarakat Kepulauan Nias dikenal dengan karakter wisata alam dan keotentikan budayanya.

Baca Juga: Beesokhi Ndruru Ungkap Tantangan Wujudkan Nias Pulau Impian

Tempat-tempat seperti Pantai Lagundri dan Sorake, serta desa-desa adat seperti Bawomataluo, Botohilitane, dan Orahili, memiliki daya tarik eksotis yang unik. Nias juga kaya akan atraksi budaya, seperti peninggalan batu megalit di Tumori, Alasa, Gomo, dan Soligatop, serta rumah khas, kerajinan ukiran kayu dan pahatan batu, serta ritual dan seni tari eksotis.

Meskipun memiliki potensi wisata yang besar, Weber menyatakan bahwa sulit untuk mengkapitalisasi potensi ini karena keterbatasan sarana dan prasarana. Upaya untuk mengatasi kendala ini telah dimulai sejak tahun 2022 melalui program infrastruktur di Kepulauan Nias.

Selain itu, riset oleh Guebes et al. (2005) dan LaLo (2003) menunjukkan bahwa sumber daya alam pesisir Kepulauan Nias, terutama hutan bakau (mangrove), memiliki nilai ekonomis, ekologis, dan keamanan yang tinggi.

Kepulauan Nias sendiri terdiri dari 133 pulau di barat Sumatera Utara dan berbatasan dengan Samudera Hindia. Pulau-pulau ini dihuni, antara lain, Pulau Nias (9.550 km²), Pulau Tanah Bala (39,67 km²), Pulau Tanah Masa (32,16 km²), Pulau Tello (18 km²), dan Pulau Pini (24,36 km²).

Baca Juga: Tagline Nias Pulau Impian, Beesokhi Ndruru: Membangun Destinasi Wisata Terdepan di Indonesia

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini