NAWACITAPOST.COM — Berdiri sejak era 1990-an, Himpunan Keluarga Nias Bekasi (HKNB) memegang peran historis yang vital sebagai wadah pemersatu serta tempat bernaung bagi masyarakat perantau asal Pulau Nias di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi.
Tokoh sekaligus mantan Ketua HKNB, Agustus Gea (Ama Tara), mengenang masa awal berdirinya organisasi ini ketika populasi warga Nias di Bekasi masih sangat terbatas.
Pada era tersebut, HKNB hadir mengisi ruang kosong sebagai satu-satunya wadah penampung aspirasi bersama, yang bahkan menjadi cikal bakal lahirnya pergerakan dan lembaga masyarakat Nias lainnya di Bekasi, termasuk pendirian BNKP Marturia.
HKNB dibangun di atas prinsip inklusivitas tanpa memandang latar belakang daerah asal para anggotanya.
"Didalam HKNB tidak membeda-bedakan asalnya dari mana baik dari Gunung Sitoli, dari Nias Selatan, dari Nias Barat maupun dari Nias Utara, sama saja semuanya satu, berasal dari Nias dan berdomisili di Bekasi baik Kota maupun Kabupaten Bekasi," ujar Agustus Gea, yang kini menjabat sebagai penasihat organisasi.
Agustus menceritakan pengalamannya saat pertama kali bergabung pada tahun 1994. Kala itu, keterbatasan alat komunikasi membuat ikatan silaturahmi antaranggota dijaga erat melalui pertemuan arisan bulanan.
Semangat kebersamaan dipelihara secara personal, mulai dari kerinduan untuk menuturkan bahasa daerah hingga sekadar menyapa sesama warga rantuan dengan salam khas "Ya'ahowu".
Sensitivitas dan dedikasi pengurus masa lalu juga tercermin dari dinamika operasional yang kontras dengan kondisi era digital saat ini.
"Saya masih sangat ingat ketika saya menjadi Ketua HKNB dan Bapak Ama Rico Zega sebagai Sekretaris mengantar Surat Undangan Pertemuan Rutin/Arisan HKNB yang sekali sebulan dengan menggunakan Sepeda Motor tidak seperti sekarang bisa memakai Fortuner baru," kenangnya.
Keteguhan menjaga eksistensi HKNB juga diuji pada tahun 2000 saat terbentuknya Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI). Meski saat itu mendapat mandat untuk meleburkan organisasi ke dalam DPC HIMNI Bekasi, Agustus Gea memilih mempertahankan keutuhan HKNB.
"Sebagai salah seorang yang membidani terbentuknya HIMNI pada Tahun 2000, yang diberi mandat untuk melebur HKNB ke dalam DPC HIMNI Bekasi tidak berani karena dalam diri saya telah tertanam jiwa HKNB yang tidak mudah tegoyahkan," tegasnya.
Menghadapi agenda kepengurusan mendatang, diharapkan pelaksanaan Rapat Umum Anggota (RUA) dapat melahirkan kepemimpinan baru yang mampu membawa organisasi terus berkembang tanpa kehilangan marwah historisnya.
"Harapan kita kedepan, semoga melalui RUA (Rapat Umum Anggota) dapat memilih Figur Ketua yang tepat, sesuai dengan hati nurani masing-masing," pungkas Agustus.(Redaksi)
Artikel Terkait
Viral Kebakaran Besar Hanguskan TPA Putri Cempo Solo, Gunungan Sampah Membumbung Api
Duh! Sempat Dikira Tenda Hajatan, Begini Wajah Baru Selasar Stasiun BNI City
Di Tengah Sorotan Kasus Korupsi BGN, Beredar Isu Pengadaan LED Rp535 Miliar
Usai Ramai Dikritik Penanganan Bencana, Viral Momen Gubernur Kalteng ke Lokasi Karhutla
Dirawat di Rumah Sakit, 136 Siswa SMP di Makale Tana Toraja Diduga Keracunan MBG