Sabtu, 27 Juni 2026

Misteri Dana Banjir Padangsidimpuan, Pembangkangan Kadis Kominfo atau Skenario Bungkam?

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Sabtu, 27 Juni 2026 | 13:53 WIB
  • Pembangkangan Birokrasi: Sikap abai ini memperlihatkan ketidaktaatan ekstrem terhadap perintah atasan. Apakah ada "kekuatan bayangan" yang lebih ditakuti ketimbang Walikota?

  • Pembenaran Tuduhan Warga: Sikap ini menjadi bukti sahih bagi warga bahwa pemerintah daerah tidak hanya lamban, melainkan sengaja menutup rapat mulut agar aliran uang bantuan tetap menjadi misteri.

  • "Tugas utama Kominfo adalah mengabarkan yang benar, bukan menyembunyikan yang salah. Jika tidak ada yang disembunyikan, mengapa lari? Mengapa diam? Ini bukan sekadar kelalaian, ini bentuk pembangkangan dan dugaan pelanggaran berat kewajiban jabatan!" kata perwakilan mahasiswa saat aksi.

    Baca Juga: Kritik Tajam Dari Kupang: Penahanan Bukan Hukuman, Jaga Batas Tipis Kritik dan Kriminalisasi!

    Ultimatum Rakyat: 4 Tuntutan Mutlak dalam 1x24 Jam!

    Menolak terus-menerus dikelabui oleh alasan yang tidak berdasar, masyarakat kini melayangkan ultimatum keras:

    1. Klarifikasi Terbuka: Mendesak Kadis Kominfo memberikan penjelasan resmi dalam waktu 1x24 jam secara transparan, bukan dengan dalih "kegiatan di luar".
    2. Pertanggungjawaban Mandat: Menuntut jawaban logis: Mengapa perintah langsung Walikota diabaikan? Siapa aktor di balik layar yang melarangnya bicara?

    3. Audit Total Dokumen: Buka seluruh dokumen penyaluran dana banjir, nama penerima, beserta bukti penyerahan secara utuh ke hadapan publik.

    4. Asumsi Bersalah: Jika dalam tenggat waktu yang ditentukan Dinas Kominfo tetap memilih bungkam dan menghindar, maka secara moral dianggap mengakui adanya penyimpangan yang sengaja ditutupi.

    Baca Juga: Wajah Baru Pasar Baru Bekasi, Tri Adhianto Ambil Tindakan Tegas Tanpa Toleransi untuk Penghambat Kebijakan!

    Rakyat Padangsidimpuan, terutama para korban banjir, sudah lelah menanti komitmen dan empati. Sejarah mencatat, semakin lama sebuah kebenaran dikubur, semakin menyengat bau busuk dari mereka yang tega mencuri hak-hak kaum tertimpa bencana.

    Bagaimana akhir dari drama pembangkangan birokrasi ini? Kita tunggu babak selanjutnya.(Lesmanan.H)

    Halaman:

    Editor: Tiarsin

    Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
    di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

    Tags

    Artikel Terkait

    Terkini