NAWACITAPOST.COM — Pihak Takmir Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Juru Bicara (Jubir) Jusuf Kalla (JK) memberikan respons tegas terkait pelaporan materi ceramah mantan Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI) tersebut ke Polda Metro Jaya.
Publik diminta untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan berdasarkan potongan video yang beredar di media sosial.
Takmir UGM: Waspadai Misinformasi
Ketua Takmir Masjid Kampus UGM, Mohamad Yusuf, mengimbau masyarakat dan jama'ah untuk menyimak rekaman ceramah JK secara keseluruhan guna menghindari kesalahpahaman.
Baca Juga: Pastikan Penggunaan Izin Tinggal WNA, Imigrasi Belawan Gelar Operasi Wirawaspada Serentak
"Kami mohon dengan sangat untuk menyimak video secara utuh, bukan hanya potongan-potongan yang beredar," ujar Yusuf, pada Senin (13/4/2026) dilansir dari situs media www.tempo.co.
Menurut Yusuf, penggunaan cuplikan yang tidak lengkap sangat berisiko memicu disinformasi karena konteks pembicaraan yang sebenarnya tidak tersampaikan secara akurat. Ia berharap semua pihak mengedepankan sikap adil dan melihat persoalan secara menyeluruh sebelum menyebarkannya di ruang publik.
Laporan ke Polda Metro Jaya
Sebelumnya, Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) bersama sejumlah organisasi lainnya resmi melaporkan JK ke Polda Metro Jaya. Laporan ini dipicu oleh isi ceramah JK dalam rangkaian Ramadan Public Lecture di Masjid Kampus UGM pada Ramadan 2026 lalu.
Ketua Umum GAMKI, Sahat Martin, menilai pernyataan JK telah menimbulkan kegaduhan dan keresahan di masyarakat.
Baca Juga: Sambut PMB, Perguruan Tinggi Swasta Antusias Respons Kolaborasi Digital APTISI dan MNI
"Kami melaporkan agar pernyataan ini bisa lebih terarah untuk diselesaikan secara hukum," ungkap Sahat dalam keterangan tertulisnya.
Senada dengan itu, Ketua Umum PP Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, mempermasalahkan penggunaan frasa "syahid" yang dilontarkan JK saat menyinggung konflik Poso dan Ambon. Stefanus menilai hal tersebut tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan Katolik yang tidak mengenal kekerasan terhadap sesama manusia.
"Harapan kami, sebagai tokoh bangsa, Bapak JK segera memberikan pernyataan terbuka, meminta maaf, dan mengklarifikasi semuanya," tegas Stefanus.
Penjelasan Pihak Jusuf Kalla: Itu Realitas Sosiologis
Merespons laporan tersebut, Juru Bicara (Jubir) Jusuf Kalla (JK), Husain Abdullah, menyatakan bahwa narasi yang viral di media sosial telah melenceng dari substansi asli ceramah.
Baca Juga: Kebutuhan Penyuluh Masih Tinggi, BPPSDM Kementan Fokus Kembangkan SDM Pertanian
Artikel Terkait
Visi Radikal Ahok: Pangkas Kabinet Jadi 20 Menteri dan Berantas Korupsi Lewat Transparansi Total
Genjot Kualitas SDM, Kemnaker Resmi Buka Pelatihan Vokasi Nasional 2026
Megah dan Menjulang, Ini Sembilan Gedung Tertinggi di Jakarta
Fokus Stabilkan Harga dan Pasokan, Bapanas Aktif Kelola Pangan Sejak 2022
Ditjen LIP Kementan RI Fokus Garap Irigasi Tersier, Koordinasi Sekunder dengan Kementerian PU