NAWACITAPOST.COM - Konflik antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto setelah pemilihan presiden memang menjadi perbincangan hangat. Pengamat komunikasi politik, Henri Subiakto, menyatakan bahwa tanda-tanda konflik antara keduanya sudah mulai terlihat.
Konflik dalam politik, kata dia, terutama dalam hal perebutan pengaruh, merupakan hal yang lumrah. Jokowi memiliki waktu yang terbatas, hanya 6 bulan lagi sebelum kekuasaannya berakhir.
Dalam waktu singkat itu, dia harus memanfaatkannya secara efektif untuk mempertahankan pengaruhnya, bahkan setelah tidak lagi menjadi presiden.
"Maka dalam waktu pendek itu, dia harus manfaatkan secara efektif agar dia bisa tetap punya power walau tidak lagi jadi presiden. Sukur-sukur kalau bisa melemahkan Prabowo dan Gerindra," kata Henri, dalam akun X, dikutip Selasa (19/3/2024).
Baca Juga: Hadirkan Kekayaan Budaya Lokal, PT Angkasa Pura II Siapkan Kejutan untuk Wisatawan Mancanegara
Menurut Henri, Istana harus segera membentuk koalisi besar dengan partai-partai yang akan dipimpin oleh Jokowi, tanpa melibatkan Gerindra. Ini merupakan kelanjutan dari strategi politik pada Pemilu 2024, di mana Gerindra dianggap sebagai anomali.
Meskipun Prabowo-Gibran menang, namun perolehan suara Gerindra justru merosot. Kenaikan suara terbesar justru dialami oleh Golkar, yang diperkirakan akan diambil alih oleh "kekuatan Jokowi".
Hal ini menjadi pesan politik bahwa kemenangan dalam Pilpres bukanlah milik Prabowo, tetapi kemenangan Jokowi bersama Golkar yang telah mendukung Gibran. "Ketumnya jadi capres dengan kemenangan suara 58% tapi partainya sendiri perolehan suaranya merosot di bawah 15%. Seakan Pasangan Prabowo Gibran tidak berpengaruh ekor jasnya pada perolehan Gerindra," kata Henri.
Henri menekankan bahwa kemenangan tersebut adalah hasil dari strategi terbuka Jokowi yang mendukung Prabowo-Gibran dengan berbagai cara. Prabowo dan Gerindra, beserta pendukungnya, harus menyadari dan menghormati, bahkan tunduk pada politik Jokowi.
Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Bandara di Indonesia yang Menggunakan Bahasa Daerah
Menurut Henri, Prabowo sebenarnya tidak terlalu menyukai Gibran, anak Jokowi yang tiba-tiba menjadi populer karena disokong ayahnya. Namun, demi kepentingan politik dan untuk memanfaatkan pengaruh Jokowi, Prabowo terpaksa menerima situasi tersebut, dengan harapan dapat memenangkan Pemilihan Presiden 2024.
Prabowo akhirnya berada dalam posisi yang rumit. Setelah terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia, tentu saja Prabowo ingin memiliki kendali penuh atas kekuasaan. Namun, situasi ini menghadirkan masalah karena tidak mungkin ada dua kekuatan dominan dalam satu pemerintahan.
Inilah, kata Henri, yang menjadi benih bagi konflik antara Jokowi dan Prabowo dalam persaingan untuk mengendalikan pemerintahan, konflik yang sulit dihindari. "Nanti setelah dilantik jadi Presiden RI, tentu Prabowo ingin berkuasa penuh. Gak mungkin mau ada matahari kembar. Disitulah bibit konflik rebutan power antara Jokowi dan Prabowo sulit dielakkan," kata dia.
Waktu 6 bulan ke depan akan menentukan apakah hubungan keduanya akan tetap akrab atau justru masuk ke dalam periode konflik. Semua itu akan tergantung pada bagaimana drama politik selanjutnya akan berkembang setelah periode honeymoon politik mereka berakhir.