NAWACITAPOST.COM - Tagar RIP Demokrasi menjadi trending topic usai pemungutan suara digelar, pada Rabu (14/2/2024). Netizen menyuarakan keprihatinan mereka lantaran hasil pemilu tak sesuasi harapan.
Berdasarkan, data rekapitulasi terbaru Komisi Pemilihan Umum (KPU) pukul 14.00 WIB, jumlah suara yang telah direkapitulasi berasal dari 452.069 dari 823.236 Tempat Pemungutan Suara (TPS), atau 54.91 persen TPS.
Adapun hasil perolehan suara untuk sementara Prabowo Subianto unggul dengan memperoleh 33.526.056 suara atau 57 persen. Kemudian disusul Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, dengan 14.692.179 suara atau 24,98 persen. Sedangkan, Ganjar Pranowo-Mahfud Md berada di urutan ketiga dengan 10.597.114 suara atau 18,02 persen.
"RIP Demokrasi. Ini bukan tentang Ganjar, bukan pula tentang Anies, ini tentang kedaulatan hukum di negeri kita, hukum yg kata nya panglima tertinggipun msh bisa di ganggu. Lalu kita harus percaya ke siapa?" tulis @ENJEULL.
"RIP demokrasi di tangan Jokowi," tulis @ainazira572.
"Untuk Menyusun dan menjalankan skenario kotor ini tak perlu kecerdasan atau kepintaran, yang diperlukan cuman 2, mental culas dan tahan malu! Rip Demokrasi," tulis @FaktaGilaBola.
Di sisi lain, Wakil Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Mustar Bona Ventura, mengungkapkan apresiasi atas dedikasi Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, dalam menjaga tegaknya konstitusi. Mustar menyebut Megawati sebagai sosok negarawan istimewa dan teladan bagi elite politik, menambahkan bahwa dari beliau, bangsa ini bisa belajar tentang nilai kesetiaan, menghargai demokrasi, dan menjunjung konstitusi.
Apresiasi ini ditunjukkan dalam bentuk karangan bunga dari berbagai elemen aktivis '98 dan organisasi lainnya saat Megawati merayakan ulang tahunnya awal 2024 lalu. Mereka menganggap Megawati sebagai pilar utama dalam memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan konstitusi di Indonesia.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendapat kritik keras sebagai perusak demokrasi. Direktur Imparsial, Gufron Mabruri, menilai bahwa Jokowi membangun politik dinasti yang sarat dengan praktik kolusi dan nepotisme melalui pencawapresan anaknya, Gibran, berpasangan dengan Prabowo Subianto dalam Pemilu 2024.
Baca Juga: Akhir Perang Politik Megawati Vs Jokowi
Gufron menyatakan bahwa kemunduran demokrasi di akhir pemerintahan Jokowi tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Laporan dari media internasional seperti Handesblatt dan TIME juga menyoroti praktik politik dinasti dan kemunduran demokrasi yang terjadi di Indonesia.
Terpisah, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menobatkan Jokowi sebagai tokoh yang merusak demokrasi. Koordinator Pusat BEM SI, Hilmi Ashiddiqi, menyebut watak asli Jokowi jahat dan tidak mempedulikan lagi integritasnya sebagai kepala negara, terutama saat Presiden mengatakan dirinya akan mencawe-cawe dalam Pilpres tahun ini.