NAWACITAPOST.COM - Perang politik antara Megawati melawan Jokowi jelas sudah dimenangkan oleh Megawati. Bukti yang tak terbantahkan adalah tetap jayanya PDIP meskipun banteng sudah "ditombak" berkali-kali oleh Jokowi dan terluka parah. Namun, banteng tetap berjaya dengan memegang erat Merah Putih.
Di sisi lain, PSI partai yang diketuai anaknya Jokowi (Kaesang Pangarep) tidak lolos ke Senayan. Meskipun sebelumnya Istana sudah habis-habisan mengarbit partai ini untuk segera besar.
Ini sebuah pembuktian betapa para pendukung buta dan tuli Jokowi yang selama ini menganggap, PDIP akan terpuruk ketika ditinggalkan oleh Jokowi tidaklah terbukti. Justru yang terjadi adalah hal yang sebaliknya, Jokowi tanpa PDIP bukanlah siapa-siapa, bahkan semakin terlihat hina nantinya setelah Jokowi tak lagi berkuasa.
Baca Juga: Rekapitulasi Sementara Hasil Pemilu hingga Pukul 11.00 WIB
Jokowi hanya akan berlindung di partai gurem (PSI). Dan jikapun akan berlindung ke Partai Gerindra, Jokowi akan selalu was-was karena partai itulah yang dahulu "menghajarnya" habis-habisan.
Partai Gerindra sendiri sampai detik ini -jika mengikuti hasil PEMILU dari quick count maupun KPU yang hitungannya masih terus berproses-- perolehan suaranya masih di bawah jauh dari PDIP. Apabila suara PDIP di Parlemen nantinya bergabung dengan suara partai-partai pendukung Capres 01, maka akan menjadi sangat besar dan berpotensi menjadi gelombang oposisi yang sangat tangguh.
Maka mau tak mau, jikapun nantinya Prabowo-Gibran yang menang (terpilih menjadi Presiden), Prabowo akan mati-matian melobi partai pendukung Ganjar Pranowo-Mahfud MD (PDIP) dan partai-partai pendukung Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Nasdem, PKB, dan PKS).
Pertanyaannya, maukah PDIP, NASDEM, PKB dan PKS mendukung Pemerintahan Prabowo-Gibran, jika partai-partai itu tak mendapatkan apa-apa dari dukungannya?
Rasanya hal itu sangat mustahil. Di sinilah mengapa saya harus katakan bahwa PDIP masih akan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perjalanan Pemerintahan Prabowo-Gibran di masa mendatang.
Belum lagi jika kita melihat faktor kesehatan Prabowo di usianya yang ke 73 tahun ini, tentunya Prabowo akan sangat melemah. Gibran akan tertinggal sendirian tanpa kekuatan Parpol yang memback upnya selain akan berharap banyak pada dukungan PDIP.
Baca Juga: Janji Tak Ditepati, Gugatan Kembali Dilayangkan kepada Keluarga Cendana
Ini jika kita berbicara dalam konteks politik yang ideal. Di mana hasil perolehan suara dalam Pilpres dan Pemilu 2024 ini hasil quick count selaras dengan perhitungan KPU.
Sedangkan sampai detik ini masih ditemukan banyak bukti kecurangan elektoral yang dilakukan oleh kubu Prabowo-Gibran dan masih terus menuai protes dari berbagai pihak. Bila kemudian nantinya terbukti banyak kecurangan hasil perolehan Pilpres, maka Pilpres berpotensi untuk diulang atau setidaknya terjadi dua putaran.
Artikel Terkait
Menggugat Kepemimpinan Jokowi, Saiful Huda Ems: Panggilan untuk Menjadi Lawan!
Dampak Kepemimpinan Jokowi Berdasarkan Pandangan Saiful Huda Ems: Refleksi Perpecahan yang Melanda Berbagai Lapisan Masyarakat
Real Count Pilpres 2024: Ganjar-Mahfud MD Unggul di Dapil Luar Negeri
Evaluasi Pemilu 2024, TPN Ganjar-Mahfud Bentuk Tim Khusus Ungkap Pelanggaran dan Kecurangan Sistematis
Ganjar Soroti Perbedaan Hasil Quick Count dengan Data PDIP