NAWACITAPOST.COM — Badan Gizi Nasional (BGN) melayangkan sanksi tegas berupa pembekuan operasional terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Langkah drastis ini diambil menyusul insiden dugaan keracunan massal yang menimpa 512 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam usai mengonsumsi sajian program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa meledaknya kasus keracunan ini mendadak menyita perhatian publik dan memicu gelombang keprihatinan luas.
Suasana mencekam sempat terekam dalam deretan video viral di media sosial, memperlihatkan laju iring-iringan ambulans yang hilir mudik menembus kegelapan malam demi mengevakuasi para santri dari area pesantren pada Senin (1/9/2026) sore hingga malam hari.
Suspend Berat Dapur SPPG Kalitengah
Menanggapi krisis kesehatan yang mengejutkan publik tersebut, BGN mengambil tindakan disipliner tanpa kompromi. Otoritas pusat memutus aliran operasional dapur penyedia MBG di lokasi tersebut dan menjatuhkan sanksi administratif tingkat tinggi.
“Kami juga melakukan suspend berat, dengan kategori berat, selama 30 hari terhadap SPPG Sidoarjo, Tanggulangin," ujar Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumeda dalam keterangan pers pada Rabu (2/9/2026).
Selain menghentikan total seluruh aktivitas memasak dan pendistribuslan makanan selama sebulan penuh, evaluasi struktural juga menyasar pada level kepemimpinan di unit pelayanan tersebut.
“Kami juga mengusulkan kepala SPPG tersebut untuk dicopot dan digantikan. Kita akan fokus dengan penyelamatan kesehatan anak-anak kita ini di beberapa rumah sakit,” lanjutnya.
Penyelidikan Internal dan Komunikasi Intensif
Ketut membeberkan bahwa jajaran tertinggi BGN bergerak cepat merespons situasi darurat ini. Kepala BGN Sudaryono dikabarkan telah menjalin komunikasi langsung dengan jajaran pimpinan daerah hingga pengasuh Ponpes Manba’ul Hikam guna memastikan penanganan korban berjalan maksimal sekaligus mengawal proses hukum dan audit teknis.
Penyelidikan komprehensif kini tengah digulirkan secara lintas instansi untuk membedah penyebab pasti terkontaminasinya hidangan masakan yang dikonsumsi para santri.
“Kemudian, kami juga melakukan tindakan-tindakan internal, pertama, investigasi dengan dinas kesehatan terkait dan hasilnya nanti akan kita umumkan apa yang menyebabkan keracunan,” terangnya.
Penanganan Medis Korban Keracunan
Dampak dari insiden ini mengular hingga ke fasilitas kesehatan di seluruh penjuru kabupaten. Sebanyak 512 santri terdata mengalami gejala keracunan dan harus dilarikan secara mendadak ke delapan rumah sakit rujukan di Sidoarjo, meliputi RSUD Notopuro Sidoarjo, RS Siti Hajar, RSU Aisyiyah Siti Fatimah, RS Delta Surya, RS Pusura, RS Pusdik Bhayangkara Porong, RS Arafah Anwar Medika, hingga RS Anwar Medika.
Proses penanganan medis skala besar yang digelar marathon mulai membuahkan hasil positif seiring membaiknya kondisi fisik sebagian besar korban.
“Yang masih dilakukan perawatan sekitar 80 orang dan sudah keluar dari rumah sakit yang dicatatkan sembuh sebanyak 312 orang,” paparnya.
Pihak pengelola Ponpes Manba'ul Hikam mengonfirmasi bahwa seluruh santri terdampak telah menerima perawatan darurat secara intensif. Seiring dengan kondisi kesehatan yang kian stabil, mayoritas santri kini telah diperbolehkan meninggalkan ruangan perawatan rumah sakit dan kembali ke lingkungan pesantren.(***)
Artikel Terkait
Lompatan Besar Industri Digital, Promedia Group Rangkul Jurnalis Bertumbuh Bersama lewat PRO-spective
Ratusan Santri Ponpes Manbhaul Hikam Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Menyantap MBG
Kepungan Asap Kalbar Memuncak, Tim Gabungan Pantau dan Kerja Keras Tangani Karhutla
Sekda Kota Bekasi Gebrak Tata Kelola Pemerintahan Berbasis HAM Demi Pelayanan Inklusif
Cetak Generasi Unggul, Wali Kota Bekasi Serahkan Penghargaan Pramuka Garuda ke 277 Siswa