NAWACITAPOST.COM — Ratusan santri Pondok Pesantren Manbhaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, terpaksa dievakuasi ke sejumah rumah sakit usai diduga mengalami keracunan massal akibat menyantap hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026).
Insiden ini mendadak ramai disoroti publik setelah diunggah oleh akun Instagram @malangraya_info pada Rabu (2/9/2026). Peristiwa tersebut bermula saat pembagian 1.010 porsi makanan MBG dari SPPG Kalitengah dikonsumsi oleh siswa-siswi Madrasah Aliyah (MA) dan MTs Manbhaul Hikam sekitar pukul 12.00 WIB.
"Insiden tersebut diperkirakan terjadi usai para santri melangsungkan salat zuhur, kemudian saat waktu asar mengalami gejala," tulis postingan tersebut.
Baca Juga: KDM Menuju 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Meroket Melampaui Prabowo, Skenario Suksesi Memanas
Sekitar pukul 16.00 WIB, puluhan santri mulai mengeluhkan gejala pusing, mual, muntah, diare, hingga sesak napas. Pihak pesantren sempat membawa korban ke bidan desa setempat untuk penanganan pertama. Namun, karena jumlah korban terus melonjak pada pukul 16.30 WIB, pengurus mengontak layanan ambulans untuk melarikan para santri ke RS Pusura dan RSUD Sidoarjo.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengonfirmasi bahwa jumlah korban yang terdata mencapai ratusan orang dan harus mendapatkan perawatan intensif di berbagai fasilitas kesehatan.
"Sementara 293 santri dirawat di delapan rumah sakit," kata Herawati dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
RSUD Notopuro Sidoarjo menjadi salah satu rujukan utama yang menerima pasien dalam jumlah besar. Hingga Selasa malam, area poliklinik rumah sakit tersebut dipadati oleh para pasien santri serta pihak keluarga yang panik.
Baca Juga: Usut Kasus Penghalangan Wartawan, Polres Sibolga Genjot Penyelidikan Berlandaskan UU Pers
Menanggapi kejadian ini, Bupati Sidoarjo, Subandi, memastikan seluruh santri dan santriwati telah mendapatkan penanganan medis yang memadai. Ia mengimbau para orang tua murid untuk tetap tenang.
"Insyaallah tinggal pemulihan. Semua sudah didata oleh pondok, jadi tidak ada kekhawatiran terhadap orang tua," ujar Subandi, Selasa (1/9/2026).
Subandi menegaskan pihaknya bakal melakukan evaluasi menyeluruh dan memeriksa penyuplai makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanggulangin.
"Besok kita akan cek ke lokasi SPPG yang ada di Tanggulangin, kenapa sampai terjadi seperti ini," tegas Subandi. "Tugas kita sebagai kepala daerah adalah pengawasan," tandasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lanjutan dari pihak rumah sakit maupun otoritas Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terkait penyebab pasti keracunan massal tersebut.