Sidoarjo Nawacitapost - Keterlambatan pengiriman Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam insiden dugaan keracunan yang meluas di Sidoarjo. Makanan yang dimasak pada waktu sama dan dengan menu sama disebut aman ketika lebih cepat dikirim dan dikonsumsi. Namun, persoalan muncul pada makanan yang terlambat sampai ke titik penerima manfaat. Temuan tersebut disampaikan Khofifah saat meninjau kondisi pasien dugaan keracunan MBG di Rumah Sakit Siti Hajar Sidoarjo, Kamis (3/9/2026).
Gubernur Jawa Timur Khofifah. Menyebutkan dari 18 unit penerima manfaat yang mendapatkan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama, sebagian besar berjalan aman. Perbedaan mencolok ditemukan pada waktu pengiriman makanan. Kalau selesai dimasak jam 5, kemudian jam 7 diantar, jam 10 sudah bisa dimanfaatkan oleh penerima manfaat. Ini semua aman," kata Khofifah.
Namun, kondisi berbeda terjadi ketika makanan baru dikirim sekitar pukul 11.00 atau lebih, kemudian dikonsumsi sekitar pukul 12.30 hingga 13.00. Pada titik inilah ditemukan persoalan yang kemudian memicu dugaan keracunan. Ketika kemudian pengirimannya terlambat, ini yang kemudian menjadikan masalah. Jadi mari kita terus berbenah bersama," ujarnya.
Khofifah menegaskan, temuan tersebut menjadi bahan evaluasi bersama. Pengawasan dan monitoring harus dilakukan di seluruh lini, tidak hanya kepada Badan Gizi Nasional (BGN), tetapi juga SPPG yang menjadi penyedia makanan. Menurutnya, kasus tersebut terjadi pada makanan yang dimasak di tempat yang sama dan menggunakan format yang sama. Namun, perbedaan waktu distribusi menjadi salah satu hal yang perlu dicermati lebih lanjut.
Sementara itu, saat meninjau RS Siti Hajar Sidoarjo, Khofifah menyampaikan kondisi pasien terus membaik. Dari 27 pasien yang masih menjalani perawatan, sebanyak 24 pasien dipastikan bisa menjalani proses keluar rumah sakit (KRS) pada Kamis pagi.
Sedangkan tiga pasien lainnya masih harus menjalani observasi. Khofifah berharap ketiganya juga dapat diperbolehkan pulang pada Kamis sore apabila kondisi mereka terus membaik."Yang saya tanya kepada semua pasien, mual dan pusing sudah tidak ada," ungkapnya.
Khofifah juga memastikan biaya perawatan para korban ditanggung pemerintah daerah. Dengan demikian, pasien maupun keluarga tidak perlu menanggung biaya pengobatan akibat insiden tersebut. Di sisi lain, dugaan keracunan MBG di Sidoarjo kini meluas. Insiden tersebut tidak hanya terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin.
Berdasarkan data sementara per 2 September 2026, tercatat sembilan sekolah dan pondok pesantren terdampak dengan total 666 orang. Mereka terdiri dari siswa, tenaga pendidik hingga orang tua.
Ponpes Manbaul Hikam menjadi lokasi dengan jumlah korban terbanyak. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Sidoarjo mencatat sebanyak 487 santri terdampak. Jumlah tersebut masih bersifat dinamis seiring proses pendataan dan penanganan korban yang terus dilakukan pemerintah.
Kasus ini sekaligus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap rantai penyediaan MBG, mulai dari proses memasak, pengemasan, pengiriman hingga makanan dikonsumsi penerima manfaat.
Khofifah menegaskan, seluruh pihak harus melakukan pembenahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan program MBG tetap dapat berjalan dengan aman bagi para penerima manfaat. (Sud)