Jumat, 5 Juni 2026

Gema Transformasi di Lantai Pabrik: Menaker Serukan Era Baru Hubungan Industrial yang "Naik Kelas"

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Jumat, 17 April 2026 | 16:16 WIB

NAWACITAPOST.COM — Suasana di ruang pertemuan PT Bridgestone Tire Indonesia pada Kamis (16/4/2026) mendadak khidmat sekaligus penuh energi.

Di tengah aroma karet dan deru mesin industri yang menjadi urat nadi ekonomi bangsa, Yassierli Menteri Ketenagakerjaan  hadir membawa pesan yang membakar semangat: era konfrontasi antara buruh dan pengusaha harus runtuh, digantikan oleh jalinan kemitraan strategis yang tak tergoyahkan.

Kehadiran Menaker dalam seremoni penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) XVI antara manajemen PT Bridgestone Tire Indonesia dan Serikat Pekerja bukan sekadar seremoni formalitas. Ini adalah proklamasi tentang wajah baru industri Indonesia.

Baca Juga: Genjot Kualitas SDM, Kemnaker Resmi Buka Pelatihan Vokasi Nasional 2026

Bukan Lawan, Melainkan Napas Keberlangsungan

Dengan nada bicara yang tegas namun penuh optimisme, Menaker Yassierli menepis stigma usang yang selama ini membenturkan kepentingan pekerja dan pemberi kerja.

Ia menegaskan bahwa serikat pekerja bukanlah "kerikil dalam sepatu" bagi perusahaan, melainkan benteng pertahanan bagi hak-hak pekerja sekaligus motor penggerak bisnis.

 

 

"Kehadiran serikat pekerja bukan untuk mengganggu perusahaan, melainkan untuk memastikan hak-hak fundamental pekerja yang sudah dijamin negara terpenuhi melalui dialog yang kondusif," ujar Menaker di hadapan para pimpinan manajemen dan perwakilan buruh.

Baca Juga: Visi Radikal Ahok: Pangkas Kabinet Jadi 20 Menteri dan Berantas Korupsi Lewat Transparansi Total

Dia menekankan bahwa hubungan industrial yang sehat adalah sebuah dialog konstruktif, di mana suara pekerja didengar bukan karena paksaan, melainkan karena kesadaran bahwa kesejahteraan buruh adalah bahan bakar utama produktivitas.

Visi Radikal: Dari Harmonis Menuju Transformatif

Namun, Yassierli tidak berhenti pada kata "harmonis". Baginya, sekadar berdamai dan sepakat adalah standar masa lalu yang sudah tidak cukup lagi untuk menghadapi badai persaingan global. Ia menantang kedua belah pihak untuk melompat lebih tinggi.

  • Level Harmonis: Hanya sebatas kesepakatan tanpa konflik.
  • Level Transformatif: Pekerja dan perusahaan menyatu dalam visi besar, melahirkan inovasi, dan meledakkan angka produktivitas.

"Kita ingin hubungan industrial naik kelas, tidak hanya harmonis, tetapi juga proaktif dan transformatif. Pekerja dan perusahaan harus memiliki satu napas, satu visi untuk meningkatkan daya saing bangsa di kancah dunia," tegasnya dengan penuh penekanan.

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini