NAWACITAPOST.COM – Sebuah skandal kemanusiaan paling kelam dan menjijikkan dalam sejarah pengelolaan keuangan daerah di Sumatera Utara akhirnya terbongkar total. Bukan sekadar kelalaian administrasi atau salah ketik data, melainkan sebuah indikasi kejahatan terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) yang diduga melibatkan empat pilar kekuasaan di Kota Padangsidimpuan: Walikota, DPRD, BPBD, dan Dinas Sosial.
Empat pilar ini diduga kuat bersatu padu, berbagi peran, dan saling mengunci mulut demi merampas dana bantuan bencana banjir bandang tahun 2025 senilai ratusan miliar rupiah. Uang yang seharusnya menjadi penyambung nyawa bagi ribuan warga yang kehilangan segalanya akibat amukan alam, justru diduga habis dikantongi para pemegang amanah.
Baca Juga: Misteri Ruang Gelap Anggaran Media Batam: Perwako Kabur, Kominfo Berlindung di Balik Dalih Rahasia Dinas"Mereka diduga mencuri saat rakyat sedang menangis, mereka terindikasi memakan uang yang seharusnya menyelamatkan nyawa!" ujar Rajes Simanungkalit Aktivis Kemanusiaan, pada Minggu (5/7/2026).
Skema Sempurna 'Pencurian Uang Air Mata'
Berdasarkan penelusuran lapangan, dokumen administrasi, serta kesaksian berani dari lingkaran dalam dinas (sumber berinisial Y) yang berada di bawah ancaman, berikut adalah modus operandi licik yang digunakan untuk menipu data:
-
Manipulasi Status Kerusakan: Rumah yang hanya terkena cipratan lumpur didongkrak statusnya menjadi "Rusak Berat", dan atap bocor ringan disulap menjadi "Kerusakan Total" demi memaksimalkan kucuran dana dari BNPB Pusat, Kemensos, dan APBD.
-
Data Penerima Fiktif: Ditemukan 119 nama orang mati, 87 nama warga yang sudah pindah, hingga puluhan nama gaib dimasukkan ke dalam daftar penerima anggaran.
-
Jebakan Tanda Tangan Bermaterai: Warga yang sedang putus asa didatangi petugas dan dipaksa menandatangani berkas kosong dengan janji dana cepat cair. Tanpa disadari, tanda tangan itu digunakan sebagai bukti sah bahwa bantuan telah diserahkan, padahal warga tidak menerima sepeser pun.
Baca Juga: Ratusan Miliar Belanja Di Atas Kertas, PAD Bocor Diduga Ada yang Dilindungi!
Dosa Berjemaah: Eksekutif Menyutradarai, Legislatif Mengunci Mulut
1. Walikota Padangsidimpuan: Sang Penentu Ketukan Palu
Sebagai pucuk pimpinan eksekutif, Walikota diduga kuat memberikan restu penuh dan menandatangani laporan cacat tersebut tanpa verifikasi. Alih-alih transparan, ia justru menutup rapat akses informasi publik, melarang pejabat berbicara ke media, dan membentengi data fiktif tersebut agar lolos ke pusat.
2. DPRD Padangsidimpuan: Pengawas yang Menjelma Jadi Pelindung
Rakyat yang berharap pada wakilnya justru harus menelan pil pahit. DPRD setempat diduga menjadi "penyetuju buta" anggaran ratusan miliar ini tanpa melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan korban atau mengecek fisik ke lapangan. Anggota yang vokal dibungkam dengan ancaman disiplin atau iming-iming jatah.
3. Sumpah Omerta: Satu Jatuh, Semua Jatuh
Saat media dan gelombang demonstrasi warga mulai bergejolak, tidak ada aksi saling tuding antara BPBD, Dinsos, DPRD, maupun Walikota. Mereka kompak memakai satu tameng jawaban klise: "Sedang dalam pemeriksaan internal." Ini adalah konspirasi tutup mulut (omerta)—kesepakatan mati demi melindungi satu sama lain.
Jeritan dari Bantaran Batang Gadis vs Fakta Lapangan
Hasil verifikasi langsung ke desa-desa terdampak menunjukkan kontradiksi yang mengerikan:
-
62 Persen Lebih Korban Gigit Jari: Dari 1.133 KK yang tercatat resmi menerima bantuan, mayoritas menyatakan tidak pernah melihat wujud uang atau material bangunan tersebut.
Tags
Terkini
Usai Ngamuk Rusak Motor, Sopir Arogan di Bintaro Akhirnya Minta Maaf
Rabu, 19 Agustus 2026 | 15:22 WIBMelawan Pembingkaian Media, Saut MT Harahap Layangkan Hak Jawab dan Bantahan Kerusuhan Opini
Rabu, 19 Agustus 2026 | 15:22 WIBPadangsidimpuan Menjerit! Adnan Buyung dan Saut MT Bongkar Skandal Rapat Mewah DPRD
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 18:11 WIBDugaan Pemborong Mengatur Uang Negara: Misteri Saut MT Harahap Bagi-Bagi Anggaran
Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:53 WIBSkandal Ratusan Miliar: Konspirasi Empat Elemen Pemda Padangsidimpuan Manipulasi Bantuan Bencana
Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:28 WIBMisteri Bantuan Presiden Rp4 Miliar Padangsidimpuan: Dulu Sebut Diposkan 4 Dinas, Saut Harahap Kini Membelot Jadi Orator Aksi
Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:42 WIBHanya Dapat Telur-Kacang Hijau, Korban Bencana Padangsidimpuan Pertanyakan Ratusan Miliar Bantuan
Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:41 WIBDulu Garda Depan Pemko, Kini Saut MT Harahap Pimpin Aksi Unjuk Rasa
Selasa, 11 Agustus 2026 | 17:18 WIBMisteri Senjata Api Polisi: Kejanggalan Memar Tubuh dan Pesan Winda Lorenza Curhat pada Sahabat
Senin, 10 Agustus 2026 | 16:01 WIBMisteri Dana Bantuan Presiden: Korban Banjir Padangsidimpuan Menjerit, Ratusan Miliar Diduga Menguap
Senin, 10 Agustus 2026 | 08:12 WIBDisahkan Cepat, Pengesahan APBD Padangsidimpuan 2025 Diduga Janggal dan Simpan Misteri
Rabu, 5 Agustus 2026 | 07:42 WIBDrama Skandal Banjir Padangsidimpuan: Pengesahan APBD 2025 Diduga Jadi Tameng Kebobrokan!
Senin, 3 Agustus 2026 | 19:00 WIBSkandal Padangsidimpuan: Tembok Kebisuan DPRD Tutupi Dugaan Korupsi Bencana Banjir!
Senin, 3 Agustus 2026 | 18:59 WIBBungkam di Tengah Resah, DPRD Padangsidimpuan Diduga Hindari Jawab Dugaan Korupsi Bencana
Rabu, 29 Juli 2026 | 11:42 WIBGelar Prestasi Rp474 Miliar, Klarifikasi Bea Cukai Batam Justru Telanjangi Kelemahan Intelijen Kepabeanan
Selasa, 28 Juli 2026 | 20:40 WIBHeboh di Medsos, Polisi Bantah Kabar Ajudan Febrie Adriansyah Tewas Ditembak dan Jasadnya Hilang
Selasa, 28 Juli 2026 | 17:10 WIBCurhat Korban Pencabulan Oknum Guru dan Suaminya saat Bertemu Wali Kota Tanjungbalai: Masih Pengin Sekolah
Minggu, 26 Juli 2026 | 20:19 WIBSita Rp474 Miliar, Bea Cukai Batam Ditantang Buka-bukaan Status Hukum Cukong
Jumat, 24 Juli 2026 | 13:24 WIBDana Hibah dan Bantuan PIP Disorot, Kepala Dinas Pendidikan Padangsidimpuan Didesak Buka Dokumen Pengelolaan Anggaran
Selasa, 21 Juli 2026 | 21:21 WIBSandiwara di Balik Tirai Sutra? Dugaan Data Fiktif Korban Banjir Padangsidimpuan Seret Sorotan ke DPRD dan Pemko
Selasa, 21 Juli 2026 | 21:21 WIB