3. Tri Rismaharini: Marah menjadi "trade mark"
Era Risma merupakan periode ketika kemarahan wali kota paling sering terekam kamera.
Publik berkali-kali menyaksikan Risma memarahi, mulai dari kontraktor proyek, kepala dinas, petugas kebersihan, hingga pengembang yang dianggap melanggar aturan.
Di sisi lain, banyak penelitian menyebut gaya kepemimpinan Risma sebagai berorientasi tinggi pada tugas, tegas, emosional, namun memiliki empati tinggi terhadap pelayanan publik. (Sumber: UNAIR Repository)
Dibalik kepemimpinan tegasnya, Risma berhasil menorehkan beberapa Prestasi:
- Surabaya meraih ratusan penghargaan nasional dan internasional.
- Penataan taman kota yang menjadikan Surabaya dikenal sebagai kota hijau.
- Reformasi pelayanan publik.
Penguatan pengelolaan lingkungan dan kebersihan.
- Banyak penghargaan internasional di bidang tata kota dan lingkungan.
4. Eri Cahyadi: Melanjutkan gaya tegas, tetapi di era media sosial
Di bawah Eri Cahyadi, momen memarahi ASN kembali sering menjadi sorotan publik karena hampir selalu viral melalui media sosial.
Beberapa peristiwa yang banyak diberitakan antara lain: memarahi kepala OPD terkait pelayanan publik, menegur lurah maupun camat, memarahi petugas di lapangan ketika menemukan pelayanan yang dianggap lamban atau tidak berpihak kepada warga.
Pendukungnya menilai tindakan tersebut sebagai bentuk ketegasan menjaga kualitas pelayanan. Sebaliknya, kritik muncul karena sebagian pihak menganggap teguran terbuka berpotensi menurunkan martabat birokrasi dan seharusnya dilakukan melalui mekanisme evaluasi internal.
Prestasi yang banyak diklaim pemerintah kota:
- Digitalisasi pelayanan publik.
Penguatan pelayanan berbasis Balai RW.
- Berbagai inovasi pelayanan warga.
- Pada 2024 Pemkot Surabaya mencatat 191 penghargaan tingkat nasional maupun internasional. (Sumber: website pemkot Surabaya)
Tradisi "marah-marah": efektif atau kontraproduktif?