Selasa, 7 Juli 2026

UWKS dan Puskesmas Dukuh Kupang Perkuat Deteksi Dini Neuropati Diabetik Melalui Edukasi dan Skrining Metabolik

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Selasa, 7 Juli 2026 | 21:56 WIB

NAWACITAPOST.COM – Tingginya angka komplikasi neuropati diabetik pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) di wilayah kerja Puskesmas Dukuh Kupang Surabaya menjadi perhatian serius kalangan akademisi dan tenaga kesehatan. Berdasarkan hasil evaluasi program tahun pertama, sebanyak 72,3 persen peserta penderita DMT2 diketahui mengalami Nyeri Neuropati Diabetik (NND), kondisi komplikasi kronis yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan.

Fenomena tersebut mendorong tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) melanjutkan program intervensi kesehatan berbasis komunitas pada 2026. Program ini dipimpin oleh Dr. dr. I Made Subhawa Harsa, M.Si bersama dr. Harsono Wiradinata, Sp.KJ., MBA dan dr. Andra Agnez Al Aska, M.Biomed dengan menggandeng Puskesmas Dukuh Kupang sebagai mitra utama.

Program bertajuk “Implementasi Program Berkelanjutan Edukasi, Skrining Metabolik dan Pengobatan Gratis serta Evaluasi Upaya Pencegahan Neuropati Diabetik di Wilayah Kerja Puskesmas Dukuh Kupang Tahun ke-2” tersebut tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga menitikberatkan pada pendekatan preventif melalui edukasi kesehatan, skrining metabolik, aktivitas fisik, hingga pendampingan psikologis pasien diabetes.

Dr. dr. I Made Subhawa Harsa menjelaskan bahwa masyarakat di wilayah Dukuh Kupang menghadapi persoalan multidimensional, mulai dari rendahnya tingkat pendidikan, keterbatasan ekonomi, rendahnya kesadaran pemeriksaan kesehatan rutin, hingga persoalan psikologis akibat penyakit kronis yang diderita. Kondisi tersebut menyebabkan pengelolaan diabetes menjadi tidak optimal dan memperbesar risiko komplikasi seperti neuropati diabetik.

Tim peneliti menilai rendahnya literasi kesehatan menjadi salah satu akar masalah utama. Sebagian besar peserta program tahun pertama bahkan disebut mengalami kesulitan membaca dan menulis, sehingga metode edukasi konvensional dinilai tidak efektif. Karena itu, program tahun kedua dirancang menggunakan pendekatan edukasi visual dan audiovisual yang lebih sederhana, interaktif, dan mudah dipahami masyarakat.

Selain edukasi, program ini juga akan melaksanakan pemeriksaan kesehatan dasar secara gratis kepada sedikitnya 100 warga, meliputi pemeriksaan kadar gula darah, HbA1c, profil lipid, tekanan darah, hingga pemeriksaan kaki diabetik untuk mendeteksi neuropati sejak dini.

Data evaluasi sebelumnya menunjukkan rata-rata kondisi kesehatan peserta berada pada kategori berisiko tinggi. Banyak pasien mengalami hiperglikemia berkepanjangan, tekanan darah tinggi, dan gangguan metabolik lain yang berpotensi menyebabkan kerusakan saraf perifer. Kondisi hiperglikemia kronis dapat merusak pembuluh darah dan saraf sehingga memicu munculnya nyeri neuropati diabetik.

Tak hanya aspek medis, tim pengabdian juga menyoroti pentingnya pengelolaan stres pada pasien DMT2. Tekanan emosional dan kecemasan akibat penyakit kronis dinilai memperburuk kondisi metabolik karena peningkatan hormon stres seperti kortisol dapat memicu kenaikan kadar glukosa darah.

Sebagai bagian dari intervensi nonfarmakologis, program ini juga menghadirkan inovasi berupa video senam diabetes yang dirancang khusus untuk meningkatkan sirkulasi perifer, fleksibilitas tubuh, dan fungsi saraf. Video tersebut nantinya dapat diakses masyarakat secara mandiri melalui platform digital sehingga program tetap berkelanjutan meski kegiatan lapangan telah selesai.

Di sisi lain, pengobatan gratis juga menjadi fokus utama program. Tim pelaksana menargetkan sedikitnya 100 pasien neuropati diabetik mendapatkan terapi farmakologis seperti metformin, sulfonilurea, vitamin neurotropik, gabapentin, hingga amitriptilin sesuai indikasi medis. Pendampingan pasien akan dilakukan melalui konsultasi rutin maupun kunjungan rumah guna memantau perkembangan kesehatan peserta.

Secara akademis, program ini juga didukung sejumlah hasil riset nasional maupun internasional. Hasil literasi tersebut menunjukkan bahwa edukasi berbasis komunitas mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang diabetes hingga 65 persen dan menurunkan risiko komplikasi sebesar 30 persen. Selain itu, kombinasi pengobatan farmakologis dan edukasi kesehatan disebut mampu menurunkan gejala neuropati hingga 50 persen dalam enam bulan pertama intervensi.

Program pengabdian ini juga diklaim sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin Good Health and Well-Being atau peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui pencegahan penyakit tidak menular. Selain itu, kegiatan ini mendukung transformasi pelayanan kesehatan berbasis promotif dan preventif sebagaimana arah pembangunan kesehatan nasional.

Melalui pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter, tenaga kesehatan, mahasiswa, dan mitra puskesmas, program ini diharapkan mampu menjadi model intervensi kesehatan komunitas yang berkelanjutan dalam menekan komplikasi diabetes di wilayah perkotaan padat penduduk seperti Surabaya. ***

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini