Selasa, 30 Juni 2026

200 Pedagang Tembok Dukuh Kirim Surat ke Wali Kota, Minta Kebijakan Berkeadilan Bukan Penggusuran

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Selasa, 30 Juni 2026 | 18:00 WIB

 

NAWACITAPOST.COM – Sekitar 200 pedagang Pasar Rakyat Tembok Dukuh memilih menempuh jalur damai dengan mengirim surat kepada Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, sebagai bentuk penolakan terhadap penertiban yang dinilai mengancam mata pencaharian ratusan pedagang.

Koordinator aksi, Achmad Hidayat, menegaskan para pedagang tidak datang untuk membuat keributan. Mereka justru meminta Pemerintah Kota Surabaya membuka ruang dialog dan menghadirkan solusi yang adil bagi seluruh pedagang yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup di kawasan Tembok Dukuh.

Menurut Achmad, persoalan utama terletak pada keterbatasan kapasitas relokasi. Stand PD Pasar Surya Tembok Dukuh hanya berjumlah 81 unit, sementara sedikitnya 400 pedagang telah lama berjualan di kawasan tersebut. Akibatnya, sekitar 300 pedagang terancam tidak memiliki tempat untuk mencari nafkah.

"Kami meminta kebijaksanaan Wali Kota. Jangan sampai ratusan pedagang kehilangan sumber penghidupan hanya karena tidak tersedia tempat yang memadai," ujar Achmad.

Dalam surat yang disampaikan kepada Pemerintah Kota, para pedagang menyatakan siap menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan Kota Surabaya dengan berkoordinasi bersama pengurus kampung. Mereka juga mengusulkan pembatasan jam operasional hingga maksimal pukul 05.00 WIB, dengan komitmen seluruh area kembali bersih setelah aktivitas selesai.

Selain itu, para pedagang menyatakan mendukung berbagai program pemerintah di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan administrasi kependudukan. Namun, mereka mengingatkan bahwa hak masyarakat untuk bekerja, memperoleh penghasilan, dan memenuhi kebutuhan pangan juga harus menjadi perhatian pemerintah.

Achmad menegaskan para pedagang tidak ingin persoalan ini berkembang menjadi konflik horizontal. Mereka meminta agar tidak ada pihak yang membenturkan pedagang Pasar Surya dengan pedagang Pasar Rakyat maupun membenturkan pemerintah dengan rakyat.

"Kami sudah hidup berdampingan selama puluhan tahun. Jangan sampai muncul narasi yang memecah belah sesama pedagang atau memperhadapkan rakyat dengan pemerintah," tegasnya.

Sebelum menyerahkan surat ke Balai Kota Surabaya, para pedagang duduk bersama di halaman kantor pemerintahan sambil memanjatkan doa agar para pemimpin Kota Surabaya diberikan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Seluruh rangkaian penyampaian aspirasi berlangsung tertib, damai, dan kondusif sebagai bukti bahwa para pedagang lebih mengutamakan dialog daripada konfrontasi.

Para pedagang kini menunggu respons Pemerintah Kota Surabaya. Mereka berharap kebijakan yang diambil tidak hanya berorientasi pada penataan kota, tetapi juga memberikan kepastian hidup bagi ratusan keluarga yang selama puluhan tahun menggantungkan ekonomi mereka di Pasar Tembok Dukuh. ***

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Gaji Sekda Kota Surabaya Tertinggi se-Indonesia?

Senin, 22 Juni 2026 | 15:58 WIB