Kamis, 9 Juli 2026

Ironi Kemiskinan di Pesawaran: Lumpuh Tak Berdaya, Kusni Tergusur dari Catatan Bantuan Pemerintah

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Kamis, 21 Mei 2026 | 18:49 WIB

NAWACITAPOST.COM — Di atas kertas, program perlindungan sosial pemerintah bergulir masif. Namun di realitas yang sunyi, jeritan kelaparan masih terdengar dari balik dinding bata merah yang mulai rapuh.

Adalah Kusni (55 tahun), seorang wanita paruh baya yang hidup sebatang kara di Dusun Sukamulya, Desa Sukadadi, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Di usianya yang senja, ia harus menelan pil pahit kehidupan: berjuang melawan gejala stroke yang melumpuhkan fisiknya, sekaligus bertahan hidup di tengah kepungan kemiskinan yang ekstrem.

Mirisnya, di tengah segala keterbatasan itu, potret kemiskinan nyata ini justru luput dan seolah sengaja "terhapus" dari daftar penerima bantuan sosial pemerintah.

 Baca Juga: Tabir Gelap Dana Bencana Padangsidimpuan—Uang Rakyat Diduga Menguap, Pemkot Malah Jemput Bola Cari Donasi Baru?

Bertahan Hidup dalam Sunyi di Gubuk Bocor

Saat tim Forum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Kabupaten Pesawaran menyambangi kediamannya pada Rabu (20/5/2026), pemandangan memilukan langsung tersaji. Kusni tinggal di sebuah hunian kumuh dengan atap yang bocor di berbagai sudut. Jika hujan deras turun, rumah itu bukan lagi tempat berlindung, melainkan sumber penderitaan baru.

Untuk menyambung hidup, Kusni hanya bisa bersandar pada uluran tangan para tetangga yang iba, serta sisa-sisa keringat anak remajanya yang baru berusia 17 tahun. Di usia yang seharusnya masih mengenyam pendidikan, sang anak terpaksa memeras keringat sebagai kuli panggul demi membelikan sesuap nasi dan obat penahan nyeri untuk ibunya.

"Saya ini hidup sendiri, punya anak yang mengurus tapi masih kecil... kerjanya hanya kuli panggul. Kadang makan seadanya saja kalau tetangga tidak memberi. Saya dengar banyak warga dapat bantuan beras, uang, tapi sampai sekarang saya tidak pernah dapat apa-apa. Nama saya sepertinya tidak ada di buku catatan kepala dusun maupun desa," ungkap Kusni dengan nada lirih dan mata berkaca-kaca.

Baca Juga: 20 Tahun Suara Kristen 'Meredup', Partai Setara Indonesia (PASTI) Bangkit Dobrak Panggung Politik Nasional!

Lebih menyakitkan lagi, Kusni mengaku pernah didepak dari daftar penerima bantuan beras Kesra dengan alasan yang sulit diterima akal sehat: skor Desil (tingkat kesejahteraan) miliknya dianggap terlalu tinggi. Sebuah ironi yang sangat kontras dengan kondisi riilnya yang berada di bawah garis kemiskinan. Sepanjang hidupnya, ia mengaku baru satu kali merasakan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD).

Alasan "Desil" yang Mengorbankan Rakyat Kecil

Saat dikonfirmasi oleh anggota PPWI, Kepala Dusun 1 Suka Mulya berdalih bahwa penentuan data tersebut bukan wewenang pihak dusun, melainkan regulasi dari tim pendamping dan Badan Pusat Statistik (BPS).

Alasan birokratis ini langsung memicu kritik pedas dari Ngatijo Ketua DPC PPWI Pesawaran, atau yang akrab disapa Tejo.

Fakta di Lapangan vs Alasan Birokrasi

  • Kondisi Nyata: Kusni mengidap gejala stroke, rumah kumuh dan bocor, hanya berharap pada anak kuli panggul 17 tahun.
  • Kesenjangan: Banyak warga yang secara ekonomi jauh lebih mampu justru lancar menerima bantuan.

"Kalau dilihat melihat kondisinya, dialah yang paling berhak dibantu dibandingkan nama-nama yang justru tercatat dapat bantuan padahal ekonominya mampu," tegas Tejo dengan nada gusar.

Baca Juga: Fokus Ibadah ke Tanah Suci, Tri Adhianto Resmi Serahkan Kemudi Pemerintahan Kota Bekasi ke Harris Bobihoe

Halaman:

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini