Selasa, 23 Juni 2026

Saat Dompet Rakyat Tercekik BBM, Seragam Sekolah dan Keset Rumah Jadi 'Barang Mewah'

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Selasa, 23 Juni 2026 | 20:43 WIB
Kondisi toko yang sepi pembeli di Kota Bandar Lampung (Fitri Wulandari Nawacita)
Kondisi toko yang sepi pembeli di Kota Bandar Lampung (Fitri Wulandari Nawacita)

NAWACITAPOST.COM — Musim tahun ajaran baru yang biasanya menjadi "panen raya" bagi para pedagang perlengkapan sekolah, tahun ini berubah menjadi panggung sunyi yang memilukan. Gelombang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi belakangan ini sukses memukul mundur daya beli masyarakat, menyisakan deretan toko yang sepi dan wajah-wajah lesu para pelaku usaha mikro.

Di pusat-pusat perdagangan Kota Bandar Lampung, pemandangan kontras begitu kentara. Rak-rak toko yang penuh dengan seragam baru yang rapi, atribut sekolah yang mengkilap, hingga tas-tas ransel berwarna-warni, hanya menjadi pajangan mati. Tidak ada hiruk-pikuk orang tua yang sibuk tawar-menawar baju ukuran anak mereka.

Strategi Bertahan Hidup: "Pakai Baju Lama, yang Penting Bisa Sekolah"

Johan, salah satu ikon pedagang seragam sekolah kawakan di kawasan tersebut, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Di bawah lampu tokonya yang temaram, ia menatap barisan dagangannya yang tak tersentuh.

Baca Juga: Medan Laga Mahakarya Pasundan: PKJB 2026 Siap Guncang Bandung dengan Elite Kriya dan Inovasi Global!

"Biasanya, menjelang masuk sekolah seperti ini, kami sampai kewalahan melayani pembeli. Tapi tahun ini? Sangat jauh berbeda, sepi sekali," keluh Johan, saat ditemui wartawan Nawacitapost.com pada Senin (22/6/2026).

Johan menganalisis bahwa lesunya pasar ini adalah efek domino yang tak terhindarkan dari mahalnya harga BBM. Prioritas para orang tua kini telah bergeser demi bertahan hidup. Uang tunai di dompet mereka dipaksa tunduk pada pos pengeluaran yang lebih krusial.

"Banyak orang tua yang bilang, uangnya habis untuk biaya daftar ulang atau administrasi masuk sekolah lanjutan. Untuk seragam? Mereka memilih pakai yang lama dulu, yang penting anak bisa tetap sekolah. Pendapatan kami? Terjun bebas," tambahnya.

Beras Lebih Utama daripada Keset Kaki

Efek domino ini nyatanya tidak hanya mengunci laci kasir pedagang seragam. Di sudut lain, para pedagang kebutuhan rumah tangga juga sedang megap-megap kehabisan napas ekonomi.

Baca Juga: Panggung Mahakarya Jabar: Ketika Tradisi Berubah Menjadi Tren Masa Depan di PKJB 2026!

Ajon, seorang pedagang alat rumah tangga yang mengandalkan penjualan keset kaki dan perkakas harian, mengaku dagangannya nyaris "beku" tak bergerak sejak harga kebutuhan pokok melonjak imbas BBM naik.

"Jujur saja, dagangan saya hampir tidak ada yang menyentuh. Masyarakat sekarang harus putar otak. Uang yang ada habis untuk beli beras, minyak goreng, dan pangan pokok. Barang seperti keset kaki ini akhirnya dianggap barang tersier, dinomorduakan," ungkap Ajon.

Menanti Tangan Dingin Pemerintah

Kondisi ini menjadi alarm keras bagi perekonomian di tingkat akar rumput. Di tengah jeritan sepi ini, para pedagang kecil di Bandar Lampung hanya bisa bertahan di tengah ketidakpastian.

Mereka menaruh harapan besar pada kebijakan pemerintah agar segera turun tangan menstabilkan harga-harga. Jika roda perdagangan di tingkat bawah ini terus dibiarkan mati suri, maka dampak sosial yang lebih besar dipastikan tinggal menunggu waktu. Bagi Johan, Ajon, dan jutaan pedagang kecil lainnya, pulihnya daya beli masyarakat adalah satu-satunya napas buatan yang mereka butuhkan saat ini.(Fitri Wulandari / Amrulloh)

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini