Rabu, 1 Juli 2026

Terkait dengan Dua Paslon Saling Klaim Menang, Ini Pendapat Guru Besar Uniska Kediri

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Selasa, 3 Desember 2024 | 19:10 WIB
Tampak depan kampus 2 SMK Kusuma Negara, Baron, Nganjuk  (Foto Istimewa)
Tampak depan kampus 2 SMK Kusuma Negara, Baron, Nganjuk (Foto Istimewa)

Baca Juga: Kontestasi Pilkada Nganjuk Memanas, Dua Kubu Paslon Saling Klaim Kemenangan

"Saya itu kan sahabatnya Prof. Mahfud MD, yang pernah menjabat sebagai Rektor Uniska dan saya Wakil Rektor di sana, sehingga saya tahu kapabilitas dan kemampuan Prof. Mahfud MD dan kemarin saya bincang-bincang dengan Prof Mahfud MD, tentang dinamika Pilkada di Indonesia, kalau sampai terjadi permasalahan yang harus sampai ke Mahkamah Konstitusi (MK), maka kata kuncinya kalau terjadi kecurangan satu TPS, Desa, hingga Kecamatan tetapi perolehan suara masih melebihi dari jumlah suara di TPS yang bermasalah atau di Desa yang bermasalah, MK akan membatalkan atau tidak dilanjutkan," papar Direktur Pasca sarjana Universitas Kadiri ini.

Prof Sumarji menjelaskan, walaupun nanti Pilkada ulang dan yang nyoblos itu nanti semua ke salah satu Paslon, namun tetap kalah suara, dan itu hanya akan membuang-buang energi dan waktu.

"Orang-orang yang ada di MK itu, lebih pintar, pertimbangannya yaitu waktu dihabiskan untuk buang-buang energi, tetapi semuanya masih kalah, dan ini jadi masalah baru lagi yaitu capek dan biaya," ujar Penasehat Dewan pendidikan Kabupaten Nganjuk itu.

Baca Juga: KPU Nganjuk Gelar Debat Publik Pamungkas, Salah Satu Tim Paslon Gelar Nobar: Kami Merasa Bangga dan Senang

Prof Sumarji mengungkapkan, memang grassroots, masyarakat dan militansi warga ke masing-masing paslon itu luar biasa, bahkan berani duel, berkelahi atau bahkan dengan tetangganya itu berseteru, gara-gara idealisme mendukung salah satu paslon, itu masyarakat bawah.

"Kebetulan kita sebagai masyarakat terdidik ilmiah, semua disikapi dengan pakta hukum, dan kata kunci terakhir adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU), terus yang kedua, sebenarnya masing-masing paslon kalau mau meraba hati nuraninya pasti tahu kalau dirinya menang atau kalah, kalau menang jangan euforia, kalau kalah ya segera memberikan ucapan selamat kepada yang menang, biar masalahnya tidak panjang-panjang atau menjadi polemik di tingkat grassroots," ungkap Dewan Pakar Ikatan Guru Indonesia Kabupaten Nganjuk ini.

Lebih lanjut Prof Sumarji menjelaskan, yang terjadi kadang-kadang, yang masih bisa apa di rubah-rubah atau di tata-tata, dia nggak segera Legowo (menerima segala sesuatu dengan ikhlas red) untuk itu menyatakan salut saudara menang dan saya dukung.

Baca Juga: Gencarkan Sosialisasi Program Pertanian, Pasangan Muhibbin - Aushaf Datangi Poktan Wilayah Bagor

"Begitu juga yang menang tetap tidak Jumowo (angkuh atau congkak red), yang kalah tidak berkecil hati, karena semua adalah warga Nganjuk, sehingga bisa merencanakan bagaimana kita kedepannya bisa membangun Nganjuk lebih bagus," jelas pendiri SMK Kusuma Negara Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur itu.

Prof Sumarji berpesan terhadap masyarakat Nganjuk, saudara-saudaraku warga Nganjuk, mari kita bersabar tidak perlu gundah gulana atau galau, bersitegang dengan teman dan lain sebagainya, tunggu saja keputusan KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Nganjuk untuk mengumumkan siapa yang menang.

"Setelah diumumkan siapa yang menang, mari kita bersatu, kita dukung dalam rangka kemakmuran Nganjuk, seperti yang dicontohkan Presiden Republik Indonesia (RI) kita yakni Pak Prabowo Subianto, beliau ini sosok yang luar biasa, dulu beliau kalah dengan Presiden RI yaitu Pak Joko Widodo, setelah diajak bareng-bareng bangun bangsa dan negara, Pak Prabowo langsung ikut Pak Jokowi," tegasnya.

Baca Juga: Dua Kubu Paslon Klaim Kemenangan, KPU Nganjuk: Mohon Bersabar dan Menahan Diri

Prof Sumarji berharap semua bisa mengambil hikmah dari proses demokrasi antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo yang pada saat itu sama-sama atau saling mencalonkan sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024.

"Termasuk juga Prof Mahfud MD yang waktu itu beliau mendukung Pak Prabowo, tapi pada titik akhir, beliau juga diajak Pak Jokowi, untuk membangun bangsa dan negara, yang pada akhirnya bersatu ikut pada kabinet Indonesia Maju," pungkasnya.

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini