SURABAYA, NAWACITAPOST.COM — Pilkada Surabaya memang masih jauh. Tetapi politik tidak selalu dimulai ketika baliho calon bermunculan atau partai mengeluarkan rekomendasi.
Sering kali, politik dimulai jauh sebelumnya: melalui pengenalan figur, pembangunan jaringan sosial, penguatan citra, serta kehadiran yang konsisten di tengah masyarakat.
Dalam konteks Surabaya, nama Rini Indriyani menarik untuk dicermati.
Belum ada pernyataan resmi bahwa Rini akan maju dalam Pilkada Surabaya. Belum pula ada bukti yang dapat memastikan bahwa Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sedang membentuk tim sukses atau mesin politik untuk istrinya.
Karena itu, menyebut semua aktivitas sosial Rini sebagai “mesin politik” tentu terlalu jauh.
Namun, ada fakta yang layak dibaca sebagai sebuah fenomena politik.
Rini saat ini memiliki sejumlah posisi dan ruang interaksi publik yang sangat luas. Ia merupakan Ketua TP PKK Kota Surabaya dan Bunda PAUD Kota Surabaya. Ia juga aktif dalam berbagai agenda yang berkaitan dengan pendidikan anak, keluarga, kesehatan masyarakat, Posyandu, SOTH hingga pemberdayaan perempuan.
Di sisi lain, terdapat Kader Surabaya Hebat atau KSH yang jumlahnya pernah disebut Pemkot Surabaya mencapai sekitar 48 ribu kader.
Angka tersebut tentu tidak boleh diterjemahkan secara serampangan sebagai 48 ribu calon pemilih Rini.
KSH adalah kader program sosial pemerintahan. Mereka bukan organisasi politik dan tidak otomatis menjadi pendukung seorang figur.
Tetapi dari sudut pandang politik elektoral, jaringan sosial sebesar itu tetap merupakan modal sosial yang tidak kecil.
Apalagi jaringan tersebut tersebar hingga tingkat bawah dan bersentuhan langsung dengan persoalan warga.
Di sinilah pertanyaan politik mulai muncul.
Apakah jaringan sosial yang dibangun melalui program pemerintahan hari ini kelak dapat menjadi modal politik bagi siapa pun yang maju pada Pilkada berikutnya?