Selasa, 18 Agustus 2026

Kapan Warisan Keraton Yogyakarta Dipulangkan Inggris?

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:18 WIB

 

NAWACITAPOST.COM — Lebih dari dua abad berlalu sejak peristiwa Geger Sepehi pada 1812. Namun, persoalan warisan budaya Keraton Yogyakarta yang dibawa keluar Inggris pada masa pendudukan Inggris di Jawa belum sepenuhnya berakhir.

Pertanyaan besarnya kini bukan lagi sekadar bagaimana sejarah mencatat Geger Sepehi, tetapi kapan benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan peristiwa tersebut dapat kembali ke tanah asalnya?

Upaya repatriasi memang mulai menunjukkan perkembangan. Namun, sejauh ini bentuk pengembalian yang paling nyata antara lain berupa digitalisasi dan penyediaan salinan manuskrip, sementara benda fisik dan sejumlah koleksi bersejarah masih berada di institusi kebudayaan Inggris.

Persoalan ini kembali mendapat perhatian karena sejumlah manuskrip Keraton Yogyakarta diketahui memiliki hubungan langsung dengan peristiwa 1812. British Library, misalnya, mencatat koleksi Yogyakarta court records yang disebut tampaknya diambil dari lingkungan keraton ketika Hamengkubuwono II dilengserkan pada 1812.

Kajian akademik juga mencatat sekitar 75 manuskrip Jawa yang dijarah dari Keraton Yogyakarta pada 1812 dan kemudian masuk dalam koleksi Inggris. Manuskrip-manuskrip tersebut kemudian didigitalisasi sehingga isinya dapat diakses dalam bentuk salinan digital.

Di titik inilah muncul ironi sejarah.

Yang kembali ke Indonesia adalah pengetahuan dalam bentuk digital, sementara benda aslinya masih berada ribuan kilometer dari tanah tempat manuskrip tersebut dilahirkan.

Dari Keraton ke London

Pengalaman melihat koleksi Indonesia di museum Inggris juga menyisakan pertanyaan besar.

Ketika berkunjung ke British Museum pada 2017, kekaguman terhadap koleksi benda bersejarah dari berbagai penjuru dunia bercampur dengan pertanyaan sederhana: bagaimana benda-benda tersebut bisa sampai ke London?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika sejarah pendudukan Inggris di Jawa ditelusuri.

Pada 1811-1816, Jawa berada di bawah pemerintahan Inggris. Thomas Stamford Raffles menjadi salah satu figur penting dalam periode tersebut.

Setahun setelah pengambilalihan kekuasaan, terjadi Geger Sepehi pada Juni 1812. Keraton Yogyakarta diserbu pasukan Inggris. Hamengkubuwono II diturunkan dari tahtanya dan sejumlah kekayaan, dokumen serta manuskrip keraton dibawa keluar.

Namun, penting untuk membedakan antara koleksi yang terbukti berasal dari penjarahan Geger Sepehi dengan seluruh koleksi Jawa yang kemudian dikaitkan dengan Raffles.

Tidak semua benda Indonesia yang kini berada di British Museum dapat otomatis disebut sebagai hasil jarahan 1812. Sebagian koleksi Raffles diperoleh melalui berbagai cara, termasuk hadiah, pembelian, maupun pengumpulan dari wilayah lain di Jawa.

Halaman:

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini