NAWACITAPOST.COM — Di bawah terik matahari Sumatera Utara yang menyengat, sebuah dialog krusial tercipta di tengah hamparan lahan pertanian Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, pada Sabtu (25/4/2026).
Bukan sekadar kunjungan formalitas, kehadiran Prof Yasonna Hamonangan Laoly, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), menjadi oase bagi para petani yang selama ini merasa suaranya tertelan bumi.
Dilema di Garis Depan Pangan
Anggota legislatif yang kini duduk di Komisi XIII—komisi strategis yang membidangi reformasi regulasi, hukum, dan Hak Asasi Manusia (HAM)—ini turun langsung mendengarkan keluh kesah Kelompok Tani (Poktan) Cinta Makmur.
Baca Juga: Unisba Kokohkan Posisi sebagai PTIS Terbaik, Usung Visi 3M dalam Cetak Generasi Unggul
Dalam suasana penuh haru dan keterbukaan, para petani memaparkan realita pahit yang mereka hadapi setiap hari:
- Prahara Pupuk & Modal: Akses pupuk bersubsidi yang kian sulit didapat memaksa mereka merogoh kocek lebih dalam.
- Biaya Produksi yang Mencekik: Ketidakseimbangan antara biaya tanam dan harga jual hasil panen membuat kesejahteraan petani kian terhimpit.
- Minimnya Pendampingan: Petani merasa berjalan sendirian tanpa arahan teknis yang memadai dari pemerintah pusat maupun daerah.
"Negara Tidak Boleh Absen!"
Mendengar kesaksian tersebut, Yasonna Laoly tampak tidak bisa menyembunyikan empatinya. Dengan nada bicara yang tegas dan penuh komitmen, mantan Menteri Hukum dan HAM ini menegaskan bahwa penderitaan petani adalah isu kemanusiaan dan keadilan sosial yang harus segera diselesaikan lewat jalur regulasi.
Baca Juga: Bekasi Membara dalam Harmoni: Melesat ke 5 Besar Kota Paling Toleran se-Indonesia!
"Negara harus hadir! Tantangan permodalan hingga distribusi pupuk bukan sekadar urusan teknis, tapi urusan kedaulatan pangan kita. Saya di Komisi XIII akan memastikan bahwa reformasi regulasi berpihak pada mereka yang berlumpur tangan di sawah," ujar Yasonna di hadapan anggota Poktan Cinta Makmur.
Komitmen Pengawalan Ketat
Yasonna berjanji tidak akan membiarkan kebijakan pemerintah hanya menjadi "macan kertas" yang indah di atas meja birokrasi, namun layu sebelum sampai ke tangan petani. Sebagai representasi rakyat dari Sumatera Utara, ia menegaskan fungsi pengawasannya akan diperketat.
Langkah Strategis yang Akan Diambil:
- Sinkronisasi Regulasi: Memastikan aturan hukum di bidang imigrasi, HAM, dan hukum yang dikelola Komisi XIII mendukung ekosistem ekonomi kerakyatan.
- Pengawasan Anggaran & Kebijakan: Mengaudit alur distribusi bantuan agar tepat sasaran dan bebas dari pungutan liar.
- Advokasi Hak Petani: Menjadikan isu kesejahteraan petani sebagai agenda utama dalam rapat-rapat kerja di Senayan.
Baca Juga: Berpredikat Unggul, Unpas Resmi Buka Pendaftaran Gelombang II Tahun 2026
Harapan Baru dari Patumbak
Kunjungan ini diakhiri dengan janji setia untuk terus mengawal setiap rupiah dan setiap butir kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Bagi Poktan Cinta Makmur, sosok Yasonna Laoly bukan sekadar politisi, melainkan harapan agar cangkul mereka kembali membawa keberkahan, bukan utang yang berkepanjangan.
"Saya akan kawal dan awasi. Kebijakan di atas kertas harus sama dengan kenyataan di lapangan. Itulah tugas saya untuk kalian," pungkas Yasonna
Artikel Terkait
Ingin Wujudkan Masa Depan Gemilang? UMI Medan Tawarkan Beragam Program Studi Strategis
Wujudkan Karir Tenaga Kesehatan Profesional, STIKes Mitra Husada Medan Hadirkan Pendidikan Berkualitas Global
Bangun Generasi Unggul, Universitas Bhakti Asih Tangerang Resmi Buka Pendaftaran Tahun Akademik 2026/2027
Perkuat Posisi di Deretan PTS Elite, UAJY Perkokoh Reputasi Sebagai Pusat Pendidikan Unggul
Sasar Akreditasi Unggul, Universitas Abdurrab Resmi Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru