Jumat, 3 Juli 2026

Cara Cerdas Menyikapi Polemik PBNU dan PKB

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Kamis, 1 Agustus 2024 | 19:51 WIB
Logo Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) (Foto kolase Sakera Nawacita)
Logo Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) (Foto kolase Sakera Nawacita)

Melencengnya sikap politik PKB dan perilaku politisi PKB memang tidak bisa dibiarkan apalagi membawa bawa NU dimanapun berada. Maka jika kita mau berfikir mendalam dan dewasa, seharusnya masing - masing bisa menahan diri, dengan kepala dingin mencari solusi permasalah yang ada.

Baca Juga: Membayangkan NU Nganjuk Tetap Menjadi Pemenang Dalam Pilkada Bupati 2024

Namun kita melihat dengan merasa memiliki uang, kekuasaan dan kekuatan, PKB benar - benar merasa lebih besar dari NU. Sementara PBNU yang memang secara organisasi representasi seluruh warga NU juga keras dalam menyikapinya. Perang terbuka antara PKB dan PBNU adalah preseden buruk dihadapan seluruh masyarakat Indonesia.

Maka, sudah saatnya masing - masing menahan diri untuk mencari solusi. Kekecewaan PKB bisa dimaklumi ketika NU tidak memberikan dukungan politik dengan Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin / Gus Imin) saat Nyapres. Namun PKB harus sadar langkah politik duet dengan PKS sama dengan melukai warga NU yang selama ini berjuang menahan berkembangnya radikalisasi agama.

Baca Juga: Makna Strategis NU Dalam Pilihan Kepala Daerah

Disisi lain getolnya PKB sebagai inisiator Pansus Haji dalam Kasus Haji yang menterinya kader NU jelas langkah yang kontra produktif. Bagaimanapun Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) adalah kader NU. Perkara perbedaan pandangan dalam urusan pilpres hingga membuat marah dan kalahnya Abdul Muhaimin Iskandar dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) kemarin, itu adalah realita politik dalam sebuah kompetisi.

Cara Cerdas Menyikapi konflik PBNU dan PKB

Konflik PBNU dan PKB pasti membuat sepekulasi pemikiran warga NU yang bermacam - macam. Sebagai warga NU yang mencintai NU kita harus memiliki pemikiran yang positif dari setiap gesekan yang terjadi pada NU dan PKB dengan sikap sebagai berikut:

Baca Juga: Mencermati Perubahan Perilaku Politik Kader NU dan Konstruksi Pemikiran Kader NU

  1. Seluruh warga NU memegang teguh bahwa mereka ber-NU itu ingin di akui sebagai santri Hadratussyeikh Hasyim Asy'ari (Mbah Hasyim Asy'ari), maka mereka tetap kokoh berjuang di NU.
  2. Gesekan pemikiran antar tokoh NU dipahami sebagai dinamika, dan itu tidak mempengaruhi semangat warga NU untuk berkhidmat di NU.
  3. Konflik NU dan PKB bukan masalah serius bagi warga NU, karena masyarakat bawah prinsipnya lailatul ijtima' lancar, tahlilan lancar, istighosah lancar, dibaan lancar dan kegiatan lain berjalan dengan baik.
  4. Seharus para elit NU yang di PBNU maupun yang ada di PKB itu sadar dan ingat, bagaimana ketika NU tidak memiliki apa - apa dan mereka bukan siapa - siapa berjuang bersama dengan rukun dan damai. Barokah perjuangan Gus Dur sebagai Guru Besar seluruh kader NU dan Bangsa Indonesia, hingga para kader bisa jadi pejabat dan kaya raya, untuk memelihara dengan baik saja tidak bisa.
  5. Jangan mengorbankan kebesaran NU dan kehormatan NU hanya gara - gara masalah kekuasan dan uang. Para pendiri NU akan kecewa ketika kader - kadernya melakukan tindakan yang tidak sejalan dengan garis perjuangan para pendiri NU.
  6. Kita semua menyambut baik langkah PBNU yang melakukan kajian relasi hubungan NU dan PKB dalam sekala luas. Karena memang sejarah berdirinya PKB tidak lepas dari NU secara struktural, namun semua demi kemaslahatan umat.
  7. Warga NU merindukan langkah PKB yang sejalan dengan PBNU sampai ke bawah, maka pimpinan PKB harus menahan diri dan tidak merasa besar. Konflik PKB dan PBNU akan memunculkan stigma negatif untuk kebesaran PKB di masa depan, karena sebagian besar pemilih PKB adalah warga NU.
  8. Konflik PBNU dan PKB akan menjadi tontonan yang sangat tidak menarik dihadapan seluruh rakyat Indonesia. Maka sebaiknya segera diakhiri.
  9. Jika pansus Haji terus dilanjutkan apakah para yang terhormat menurut Undang - Undang di Senayan Semuanya Merasa bersih dalam masalah haji? Maka semua harus bisa menahan diri!!

Baca Juga: Jiwa Besar Prabowo dan Makna Strategis NU

Semoga Allah memberikan hidayah pada kader NU yang diberi amanah untuk mengelola NU, berjuang di kekuasan dan birokrasi. Kita semua cinta NU dan tidak akan pernah berhenti ber NU walau yang di atas sana ada konflik.

Semoga para masyayih pendiri NU selalu mendapatkan jariyah dadi kebaikan yang telah di tanamkan untuk keluhuran bangsa dan negara. Semoga bermanfaat !!

 

Nganjuk, 1 Agustus 2024
Penulis HM Basori M.Si

1. Instruktur PW GP Ansor Jatim, Alumni Latihan Instruktur 2 PP Ansor di Sumedang, Jawa Barat.

2. Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy.

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Sumber: HM Basori M.Si Direktur Sekolah Perubahan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengambil Hikmah Perjuangan Kader NU Ketika Di PPP

Selasa, 27 Agustus 2024 | 06:00 WIB

Makna Strategis Elektabilitas Dalam Pilkada Tahun 2024

Selasa, 13 Agustus 2024 | 15:47 WIB

Pentingnya Memahami Rekam Jejak Kandidat Bupati

Minggu, 11 Agustus 2024 | 20:27 WIB

Jangan Jadikan Uang Jadi Tuhanmu

Jumat, 9 Agustus 2024 | 08:43 WIB

Mewaspadai Oportunis Politik dalam Pilkada 2024

Kamis, 8 Agustus 2024 | 20:22 WIB