NAWACITAPOST.COM - Sebagai warga Nahdlatul Ulama (NU) dan Kader NU pasti memahami bagaimana para pendahulu organisasi NU memberikan tuntunan dan garis perjuangan. Salah satunya adalah Dr. K.H. Abdurrahman Wahid, Lc., (Gus Dur). Gus Dur dengan pemikiran fenomenalnya mulai dari berseberangan dengan orde baru, pembangunan masyarakat sipil yang berdaya, pro demokrasi yang diajarkan, nilai pluralisme, gagasan mendirikan partai bahkan sampai beliau menjadi Presiden RI ke 4.
Semua perjalanan Gus Dur adalah pelajaran penting bagaimana kader NU memahami masalah masyarakat, masalah pemerintahan, masalah kekuasaan, masalah pribadi dengan sesama kader NU bahkan masalah kiai dengan kiai. Semua perjalanan tersebut dipahami oleh kader NU sebagai dinamika kehidupan dalam ber-NU dan perjuangan.
Baca Juga: Kiai Berpolitik Ada Sejak Zaman Dulu
Bagaimanapun Gus Dur adalah godfather Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), terlepas nasib beliau dikudeta atau bahasa lain. Sebagai pendiri kurang baik apa seorang gus Dur. Namun karena kekuasaan dan jabatan, anak didiknya berani menurunkan walau dengan cara yang seolah - olah demokratis.
Gus Dur tetap hebat dan semua sepakat, jika tidak ada Gus Dur para kader NU yang sekarang menikmati kekuasaan dan kaya raya hingga mulai lupa jati diri sebagai kader NU, bukanlah siapa - siapa. Gus Dur dikenang kehebatannya hingga sekarang. Mungkin mereka yang berkhianat kepada Gus Dur setelah menjabat sudah bukan siapa - siapa lagi. Coba renungkan yang mendalam.
Baca Juga: Makna Strategis Warga NU Dalam Pilkada 2024
Bergesernya Perilaku Politik Kader PKB
Jika kita mengikuti perjalanan PKB mulai didirikan sampai sekarang pasti bisa menilai bagaimana perjalanan PKB sekarang. Diakui atau tidak, PKB tetap menggunakan kebesaran NU dalam membangun jaringan politik di bawah, namun banyak perilaku kader PKB yang sudah tidak sejalan dengan nilai - nilai NU, memberikan konstribusi yang tidak signifikan pada NU, memikirkan kekuasaan dan kekayaan sendiri, bernafsu untuk menguasai NU dan masih banyak perilaku menyimpang lainnya.
Pergeseran nilai dan perilaku ini menjadi keprihatinan kita bersama, hingga seluruh agenda reformasi pengurus di semua Banom di intervensi dengan uang untuk meloloskan calon tertentu yang didukung oleh politisi PKB. Inilah awal rusaknya moral berorganisasi kader NU dalam berjuang.
Baca Juga: Mencari Formula Untuk Menyelamatkan NU Dalam Pilkada 2024
Upaya PKB dalam menguasai struktural NU dan seluruh badan otonomnya adalah hak dan sah - sah saja. Namun jika menyamakan perilaku organisasi NU, yang penuh perjuangan dan pengabdian, disamakan dengan partai semua menggunakan uang, maka hal tersebut sebuah kecelakaan.
Disisi lain banyak kebijakan PKB ditingkat Nasional yang tidak sejalan dengan prinsip perjuangan masyayikh yang dulu dilakukan dengan berdarah - darah adalah sebuah kecelakaan. Maka seharusnya PKB juga menyadari itu jangan sampai lupa diri, lupa nilai, lupa pendiri bahkan lupa kiai - kiai dahulu yang mendirikan.
Baca Juga: Bias Perjuang Kader NU di Zaman Now
Sikap PBNU Terhadap PKB
Hasil Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk mendalami relasi beberapa prinsip hubungan NU dengan PKB, antara lain prinsip hubungan historis, prinsip hubungan irisan konstituensi, hubungan teologis, dan prinsip tradisi. Sebenarnya tidak ada salahnya jika semua itu dalam bingkai pembenahan dan bukan usaha untuk mengambil alih. Karena secara organisasi memang keberadaan NU dan PKB berbeda.
Artikel Terkait
Jiwa Besar Prabowo dan Makna Strategis NU
Mencermati Perubahan Perilaku Politik Kader NU dan Konstruksi Pemikiran Kader NU
Makna Strategis NU Dalam Pilihan Kepala Daerah
Membayangkan NU Nganjuk Tetap Menjadi Pemenang Dalam Pilkada Bupati 2024
Bias Perjuang Kader NU di Zaman Now
Mencari Formula Untuk Menyelamatkan NU Dalam Pilkada 2024
Makna Strategis Warga NU Dalam Pilkada 2024