NAWACITAPOST.COM - Bagi kader Nahdlatul Ulama (NU) yang lahir tahun 1970-an atau sebelumnya pasti mengalami pahitnya perjuangan sebagai kader NU. Kondisi yang susah secara ekonomi, politik dan perjuangan agama di masyarakat yang serba terbatas. Tirakat, ihlas berjuang, kuatnya persaudaraan sesama kader, ketaatan kepada para kiai dan belajar agama di bancik, dampar bahkan tidur beralas kayu semua dilakukan dengan penuh kesabaran dan kesadaran hati.
Para kiai sepuh memberikan pendidikan olah batin, tirakat dan kanuragan untuk bekal perjuangan dan membela diri ketika menghadapi musuh. Santri Musholla dan masjid adalah generasi muda yang tidak neko - neko (aneh - aneh red) baik cara berfikir maupun bersikap. Ilmu dari kiai dan masyayikh dilakukan dengan penuh kesadaran hati dan semata mata ingin mendapatkan ridlo Allah. Semua yang di atas adalah hanya sebuah memori indah tapi benar-benar membekas di hati. Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada budaya baru yang merubah kehidupan manusia.
Baca Juga: Membayangkan NU Nganjuk Tetap Menjadi Pemenang Dalam Pilkada Bupati 2024
Kader NU generasi lama dibesarkan dengan keterbatasan, tetapi memiliki keluhuran hati, ketegaran jiwa raga dan integritas yang luar biasa hebat. Mereka tidak pernah berfikir imbalan, apalagi tanya uang atau bayaran. Apa yang mereka lakukan penuh keihlasan dan ingin mendapatkan ridlo dan barokah. Atsar dari perjuangan mereka melahirkan generasi pejuang yang berintegritas tinggi.
Perubahan Politik
NU dalam dinamikan politik Nasional mengalami pasang surut. Awalnya menjadi ormas sosial keagamaan, menjadi partai politik, fusi dengan Partai Masyumi, dan kembali ke khittoh 1926. Khittoh NU telah membawa NU benar - benar terpinggirkan, dibatasi, diawasi bahkan diintimidasi oleh pemerintah orde baru. Perjuangan NU benar - benar mandiri dari iuran warga dan zakat dari para aghniyak. Gerakan sosial ekonomi bahkan perjuangan dipantau terus oleh pemerintah, karena dianggap membahayakan eksistensi pemerintah orde baru.
Gus Dur adalah Simbul perlawanan NU di masa orde baru. Gus Dur dengan sabar dan telaten melakukan kajian dengan kelompok pro demokrasi untuk mengkaji setiap kebijakan pemerintah yang melanggar HAM (Hak Asasi Manusia) atau melanggar demokrasi. Gus Dur melakukan gerakan civil society dengan menghadiri pengajian di desa - desa seluruh pelosok Indonesia. Hingga reformasi 1998, para aktifis pro demokrasi mulai menata pemerintahan dengan mengedepan prinsip demokrasi, keterbukaan dan kerakyatan.
Baca Juga: Konstruksi Berfikir Kader Pergerakan
Reformasi yang melahirkan partai baru, hingga kader NU banyak yang berada di kekuasaan baik eksekutif maupun legislatif melahirkan kesejahteraan pada aktifis NU secara ekonomi. Kemapanan ekonomi ditandai dengan cukupnya keuangan, perubahan gaya hidup, berubahnya selera bahkan pelan - pelan telah merubah pola pikir dan pola sikap.
Berubahnya gaya dan cara berfikir kader NU yang menjadi pejabat tersebut akhirnya dilihat dan ditiru oleh Junior - Junior yang tidak pernah merasakan bagaimana hidup sebagai pejuang organisasi dalam keterbatasan, tekanan politik dan dalam kemiskinan. Kader NU Junior melihat sesuatu yang enak, menerima pemandangan yang indah dan mudah mendapatkan uang dari para senior entah melalui kegiatan reses, sosper, konsolidasi, tim sukses, bantuan hibah pemerintah atau bantuan lainnnya.
Baca Juga: Makna Strategis NU Dalam Pilihan Kepala Daerah
Para politisi NU dan aparat pemerintah telah memberikan pendidikan tidak baik pada para pengurus NU, Banom bahkan pada para kiai NU. Atas nama silaturrohim mereka memberikan amplop dengan sejumlah uang, yang pelan - pelan menggerus keihlasan beliau. Apakah itu salah ? Sebenarnya tidak, namanya amal soleh (hehehe), Namun ketika semua itu berjalan dalam waktu yang lama dan kader - kader Junior tahu akhirnya ditiru. Ketika kebiasaan jelek terus terjadi dan terus berjalan, pola pikir kader Junior sudah kuat menyatakan bahwa di NU itu enak, dapat makan enak, dapat uang, dapat jabatan, dapat sangu bahkan dapat lain yang lebih besar.
Bias Perjuangan Kader NU Zaman Now
Pelan tapi pasti, akhlaq nahdliyah jelas sudah bergeser. Perjuangan lillahi ta'ala sudah sulit, sabar untuk berbuat demi masyarakat kian habis, berjuang selalu dibayang - bayangi dengan uang dan kekuasaan, kekhusyukan ibadah menepis, tawadlu pada kiai dan masyayikh semakin hilang, kader tirakat semakin sulit ditemukan, tradisi ngaji kalah dengan ngopi, Etika menuntut ilmu semakin tipis, Tafaqqoh Fiddin kalah dengan jaringan pendampingan, jaringan jadi KPU, Bawaslu, PPK, Panwas dan jenis pendampingan yang berimplikasi mendapatkan uang.
Artikel Terkait
Apa Kabar PMII Hari Ini ???
Ansor dan Dinamika Politik Indonesia
Jiwa Besar Prabowo dan Makna Strategis NU
Mencermati Perubahan Perilaku Politik Kader NU dan Konstruksi Pemikiran Kader NU
Makna Strategis NU Dalam Pilihan Kepala Daerah
Konstruksi Berfikir Kader Pergerakan
Membayangkan NU Nganjuk Tetap Menjadi Pemenang Dalam Pilkada Bupati 2024