Minggu, 19 Juli 2026

Mencermati Perubahan Perilaku Politik Kader NU dan Konstruksi Pemikiran Kader NU

Photo Author
- Rabu, 15 Mei 2024 | 06:50 WIB
Logo Nahdlatul Ulama  (Foto istimewa )
Logo Nahdlatul Ulama (Foto istimewa )

NAWACITAPOST.COM - Hidup adalah pilihan begitu pepatah mengatakan, dari pepatah itu melahirkan sikap, setiap orang memilih jalan hidupnya masing masing. Namun dalam hidup, moral seseorang dibentuk melalui norma dan kebiasaan (adat istiadat) yang diajarkan sejak kecil sehingga menjadi sebuah kepribadian. Tradisi keluarga melahirkan performen jiwa seseorang yang akan dibawa sampai dewasa.

Islam Aswaja memberikan tuntunan perilaku dengan meneladani sifat mulia Rosulullah SAW, para sahabat dan tabiin. Maka kita bisa membayangkan bagimana akhlaq mulia Rasulullah, para sahabat dan tabiin, di semua aspek kehidupan. Rasulullah, para sahabat dan para tabiin merupakan model keteladanan aswaja bagi umat yang hidup sesudahnya.

Baca Juga: Jiwa Besar Prabowo dan Makna Strategis NU

Kader NU sejati mendapatkan didikan akhlaq sejak di dalam kandungan dengan tradisi mendoakan bayi yang di dalam kandungan semoga menjadi manusia yang sempurna secara fisik dan memiliki pribadi yang soleh dan berakhlak mulia kelak jika sudah dewasa. Tradisi nahdliyin akhlak merupakan pendidikan utama bagi keluarga NU untuk menjadikan seseorang menjadi orang yang berkepribadian mulia sesuai perilaku nabi muhammad, para sahabat dan tabiin.

Kader NU dalam Dinamika Politik

HM Basori, M.Si (Foto istimewa )

Kader NU telah mengalami proses penggemblengan yang luar biasa, sehingga mereka memiliki kecerdasan fikir dan kecerdasan batin baik ketika duduk di pondok pesantren, ngaji bancik an atau dilingkungan madrasah. Para masyayikh selalu mendoakan kader NU bisa ambil bagian dalam berjuang di masyarakat melalui apapun, termasuk di jalur politik.

Baca Juga: Ansor dan Dinamika Politik Indonesia

Maka tidak heran ketika banyak kader NU yang akhirnya menduduki jabatan politik mulai jadi Perangkat Desa, Kepala Desa, Camat, Kepala Dinas, Sekda, Bupati, Anggota DPRD, DPR-RI, Mentri, Wapres bahkan hingga Presiden. Jabatan politik tersebut dipahami sebagai lahan perjuangan untuk membangun masyarakat, karena jika orang yang memimpin memahami nilai agama akan berbeda dengan yang tidak memahami.

Maka ketika kader - kader NU dipercaya menduduki jabatan politik, visi perjuangan tidak akan pernah lepas dalam hatinya. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan kader NU yang akhirnya tersandung masalah hukum? Jawabannya sederhana, kader NU itu manusia biasa, maka ketika mereka khilaf dalam mengabdi hingga terkena masalah hukum itu sudah nasibnya. Mereka mendapat musibah, maka siapapun dia harus selalu kita SUPPORT dan doakan semoga musibah tersebut bisa segera teratas dan memberikan pendidikan hidup mereka.

Baca Juga: Apa Kabar PMII Hari Ini ???

Dunia politik dan kekuasaan memang penuh intrik dan permainan, maka kompetisi politik sering menimbulkan perdagangan yang tidak sehat, hingga saling menjatuhkan yang satu dengan yang lainnya. Namun perjuangan untuk kemaslahatan umum (maslahatul ‘ammah) harus tetap dilakukan, sebagai bentuk amar makruf nahi mungkar di manapun kader NU berkiprah.

Memahami Godaan Jabatan dan Kekuasaan

Zaman sekarang Jabatan melahirkan kekuasaan, fasilitas, kesejahteraan dan kemakmuran. Hal itu sangat berbeda pada saat zaman nabi hingga zaman mbah Hasyim Asy'ari mendirikan NU. Hal tersebut dapat kita lihat bagaimana Nabi Muhammad dan Siti Khodijah mendermakan semua harta bendanya untuk perjuangan Islam. Para masyayikh pendiri NU mendermakan jiwa raga untuk membangun organisasi hingga besar. Semua berangkat dari kesadaran bahwa memperjuangkan agama Allah sangat penting.

Baca Juga: Jangan Pernah Silau Dengan Harta dan Kekuasaan

Namun ketika zaman sudah berubah, ketika jabatan memiliki banyak fasilitas dan kekuasaan, mereka pada lupa bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan rakyat. Maka godaan jabatan dan kekuasaan yang hadir, sebenarnya bukan karena sikap dasar setiap orang atau kader NU berperangai jelek, namun semua karena godaan yang terlalu besar.

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Sumber: HM Basori M.Si Direktur Sekolah Perubahan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengambil Hikmah Perjuangan Kader NU Ketika Di PPP

Selasa, 27 Agustus 2024 | 06:00 WIB

Makna Strategis Elektabilitas Dalam Pilkada Tahun 2024

Selasa, 13 Agustus 2024 | 15:47 WIB

Pentingnya Memahami Rekam Jejak Kandidat Bupati

Minggu, 11 Agustus 2024 | 20:27 WIB

Jangan Jadikan Uang Jadi Tuhanmu

Jumat, 9 Agustus 2024 | 08:43 WIB

Mewaspadai Oportunis Politik dalam Pilkada 2024

Kamis, 8 Agustus 2024 | 20:22 WIB