Mentawai, NAWACITAPOST - Tokoh masyarakat bersama Pemkab Kepulauan Mentawai bakal menggelar ritual adat dan doa bersama di lokasi wisata pantai Mapaddegat, Desa Tuapejat pada Sabtu dan Minggu tanggal 21 Januari sampai 22 Januari 2020 mendatang. Hal ini, menyikapi pasca terjadinya kecelakaan di pantai Mapaddegat yang menewaskan seorang bocah berusia 9 tahun bernama Margareth Paggoi Simatalu Saogo, Sabtu (1/1/2022) lalu.
Kepala desa Tuapejat, Pusubiat menjelaskan bahwa pihaknya bersama tokoh masyarakat dan Pemkab Mentawai sudah bersepakat untuk menggelar ritual adat dan doa bersama di Pantai Mapaddegat. Kegiatan tersebut, tidak saja melibatkan sikerei atau tokoh adat, namun, juga tokoh-tokoh agama yang ada di Kepulauan Mentawai.
“Selain sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Mentawai, juga meminta kepada Tuhan yang maha esa agar wisata kita dijauhkan dari musibah dan bencana. Ini sudah mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Kepulauan Mentawai melalui dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kepulauan Mentawai,” ungkapnya, Rabu (12/1/22).
Hasil musyawarah bersama dengan tokoh masyarakat, akan menghadirkan Sikerei atau orang yang paham dengan ritual adat, dan tokoh agama untuk doa bersama.
Dia berharap, kejadian serupa tidak lagi terjadi, terutama pada lokasi objek wisata pantai dan juga kecelakaan laut di Mentawai, khususnya di Tuapejat.
"Kita telah sepakat bersama tokoh masyarakat untuk menggelar acara ritual atau doa bersama ini. Ini adalah kegiatan pertama kali yang digelar di Kepulauan Mentawai, karena hampir 7 kali sudah terjadi kecelakaan di pantai Mapaddegat di laut Mentawai,” ujarnya.
Selama ritual dan doa bersama diselenggarakkan diharapkannya agar masyarakat untuk tidak dulu berenang atau mandi-mandi di pantai Mapaddegat. Giat itu juga diharapkan berdampak terhadap kemajuan pariwisata pantai Mapaddegat.
Kepala dinas Pariwisata Pemuda Olahraga Kepulauan Mentawai, Joni Anwar sangat mendukung kegiatan tersebut. Pihaknya meminta kepada pemerintah desa Tuapejat agar mensosialisasikan kegiatan ritual adat dan doa bersama kepada seluruh masyarakat, khususnya masyarakat desa Tuapejat.
“Di samping itu, juga kalau memang sebelum ritual adat dan doa bersama dilarang untuk berenang di pantai Mapaddegat mesti ada sosialisasi kepada masyarakat. Dengan begitu, nantinya pelaksanaan kegiatan tersebut, dapat berjalan lancar dan aman,” ungkapnya, Rabu (12/1/22).
Terkait langkah ke depan, dalam pengawasan objek wisata pantai, pihaknya juga menyarankan Pemerintah desa Tuapejat melalui dana desa untuk membangun tower pengawas pantai yang dilengkapi sarana pelampung dan pengeras suara . Dengan begitu, pengawasan pantai terutama di objek wisata pantai Mapaddegat bisa dimaksimalkan. (Saohagolo)
https://youtu.be/8ER-4pTkq4g