Rabu, 4 November 2026

Wonosobozone Dobrak Industri Media Digital: Dari Fanpage Murah Hingga Bangun Ekosistem Keren

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Rabu, 4 November 2026 | 20:57 WIB
Ilham Ardhan, founder Wonosobozone, menjadi pembicara utama dalam acara Pro-spective yang diselenggarakan Promedia Group pada Selasa, 3 November 2026. (Dokumentasi Promedia Group)
Ilham Ardhan, founder Wonosobozone, menjadi pembicara utama dalam acara Pro-spective yang diselenggarakan Promedia Group pada Selasa, 3 November 2026. (Dokumentasi Promedia Group)

NAWACITAPOST.COM  — Dinamika perkembangan teknologi digital memaksa media massa untuk terus beradaptasi. Kehadiran berbagai platform digital tidak sekadar mengubah pola produksi dan distribusi informasi, tetapi juga membuka ruang baru bagi media dalam membangun keterikatan dengan audiens.

Transformasi mendasar ini mengemuka dalam program Pro-spective by ProMedia Group, sebuah forum berbagi pengalaman dan strategi bisnis media mitra yang digelar pada Selasa, 3 November 2026. Forum ini menghadirkan Wonosobozone, media yang bertransformasi dari grup Facebook sederhana menjadi jaringan media lokal yang solid.

Founder Wonosobozone, Ilham Adhan, yang hadir sebagai pembicara utama menekankan bahwa kemampuan memproduksi konten saja tidak lagi cukup di era sekarang. Media dituntut memiliki daya jangkau yang lebih luas untuk menghubungkan berbagai entitas bisnis dan sosial.
 

“Media jangan hanya jago bikin konten, media harus bangun ekosistem,” tegas Ilham.

Perjalanan Ekstraordiner: Berawal dari Ruang Sederhana

Rekam jejak Wonosobozone dimulai pada 2011. Saat masih berstatus mahasiswa, Ilham mendirikan sebuah fan page Facebook yang ditujukan sebagai wadah interaksi warga lokal.

“Kita memulainya dari ruang sederhana, dimana pada waktu itu kita buat fan page di facebook dengan nama Wonosobozone, tujuannya untuk masyarakat wonosobo saling berbagi informasi,” terang Ilham.

Inisiatif tersebut mendapat respons melimpah. Memasuki 2015, Wonosobozone resmi mengepakkan sayap ke platform situs web kendati dengan keterbatasan infrastruktur awal.
 

“Di tahun 2015, kita kemudian buat website dengan nama Wonosobozone, kita ambil yang paling murah dan kalau dibuka websitenya bisa sampai 20 detik,” lanjut Ilham.

Langkah konvergensi media diteruskan pada 2016 hingga 2017 melalui perluasan kanal dan penguatan organisasi ke sejumlah daerah di Jawa Tengah. Wonosobozone mengartikan keberadaan media bukan lagi sekadar produsen berita, melainkan bagian integral dari ekosistem daerah.

Strategi Ekspansi dan Pembacaan Karakter Daerah

Ekspansi jaringan ke berbagai daerah dilakukan lewat perhitungan matang mengingat tiap wilayah memiliki lanskap sosial dan potensi ekonomi yang heterogen. Di tiap daerah target, Wonosobozone membentuk unit kerja efisien.

“Di setiap daerah di bangun tim sederhana yang terdiri dari content creator dengan standarisasi jurnalistik dan marketing untuk income dan peningkatan omset,” jelas Ilham.
 

Penguatan relevansi konten dijalankan lewat riset lapangan, penyesuaian gaya bahasa, serta pemetaan isu lokal tanpa merusak marwah dasar jurnalistik.

“Setiap daerah punya audience, cerita dan peluang yang berbeda-beda,” terangnya lebih lanjut.

Prinsip akurasi, kepercayaan, dan konsistensi identitas tetap dijadikan pijakan utama. Pembagian peran internal antara produksi berita dan navigasi komersial dipisahkan secara tegas agar produktivitas operasional tetap terjaga.

Penguatan Komunitas dan Aktivasi Bisnis Lokal

Menghadapi tantangan industri, Wonosobozone sadar bahwa ketergantungan pada pendapatan iklan murni belum menjamin keberlanjutan bisnis. Kendati 60 persen pendapatan masih bersumber dari sektor advertising, inovasi pergerakan terus digenjot.
 

Wonosobozone menginisiasi Simpul Kolektiva, sebuah platform yang kini menaungi sekitar 100 komunitas di Wonosobo.

“Simpul kolektiva ini salah satu ip kami yang dibuat yang menghubungkan komunitas, menggerakan kolaborasi di daerah yang dinaungi,” tutur Ilham.

Salah satu wujud konkrit kolaborasi ini terlihat dalam program Tirta Connect bersama PDAM Tirta Aji. Program ini menjadi saluran komunikasi langsung antara publik dan penyedia layanan publik.

“Misalnya kalau masyarakat ada kendala di PDAM, nanti tinggal infoin ke simpul kolektiva, dari simpul kolektiva bakal nyampein ke PDAM dan penangannya bisa lebih cepat,” jelas Ilham.
 

Di sektor ekonomi kreatif, Wonosobozone mendirikan Affiliate Creative Space sebagai hub yang mempertemukan UMKM lokal, influencer, dan content creator. Selain itu, gelaran Festival Kuliner Legend sukses mendatangkan sekitar 10 ribu pengunjung dengan perputaran uang mencapai hampir Rp1 miliar.

“Ini kita terinspirasi dari kuliner legend yang ada di lampung, terus kita bikin juga,” papar Ilham.

Diversifikasi Usaha Lintas Sektor

Menjaga keberlanjutan unit bisnis, Wonosobozone melangkah lebih jauh dengan melakukan diversifikasi usaha di luar lanskap media konvensional. Portofolio bisnis berkembang ke sektor peternakan kambing Pak Ali, retail Wonos Store, hingga pendirian Double U Coffee Shop and Working Space.

Kehadiran Double U Coffee Shop dirancang untuk menjawab kebutuhan ruang kerja fleksibel bagi para pekerja kreatif dan anggota jaringan komunitas.
 

“Iya jadi memang coffee shop ini dibuat biar anak-anak komunitas bisa nongkrong dan WFA,” terang Ilham.

Model pengembangan yang dijalankan Wonosobozone membuktikan bahwa kekuatan media lokal terletak pada kedalaman hubungan sosial dan keberanian membangun nilai tambah bersama masyarakat.

“The feature of media not just about content, its about connection, collaboration, and creating value (masa depan media bukan hanya tentang konten, tapi tentang koneksi, kolaborasi, dan membangun sebuah nilai)” pungkas Ilham.(***)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tiarsin

Tags

Artikel Terkait

Terkini