Kamis, 10 September 2026

Petaka Makan Bergizi Gratis: Ratusan Siswa di Pati Diduga Keracunan Massal

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Kamis, 10 September 2026 | 11:50 WIB
Menyoroti fakta terkini terkait kasus dugaan ratusan siswa mengalami keracunan massal usai konsumsi MBG kedaluwarsa di Gembong, Pati, Jawa Tengah.  (Instagram.com/@inspacta.id)
Menyoroti fakta terkini terkait kasus dugaan ratusan siswa mengalami keracunan massal usai konsumsi MBG kedaluwarsa di Gembong, Pati, Jawa Tengah. (Instagram.com/@inspacta.id)

NAWACITAPOST.COM — Insiden dugaan keracunan massal yang melanda ratusan siswa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mendadak gempar dan menjadi sorotan tajam publik di media sosial.
 
Sebanyak 230 siswa dari jenjang SMP hingga MTs di Kecamatan Gembong dilaporkan mendadak tumbang akibat mengalami gejala gangguan pencernaan parah usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berdasarkan data sementara Pemerintah Kabupaten Pati, ratusan pelajar tersebut mulai mengeluhkan pusing, mual, mulas, hingga diare hebat pada Rabu (9/9/2026).
 
 
Gejala memilukan ini muncul sehari setelah mereka mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Selasa (8/9/2026). Dua sekolah yang terkonfirmasi terdampak dahsyat dalam peristiwa ini adalah SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati.

Di SMPN 1 Gembong, kepanikan mulai meluas sejak Rabu pagi ketika puluhan siswa secara bergelombang mendatangi toilet sekolah dengan keluhan serupa.
 
Kepala SMPN 1 Gembong, Istiana, mencemaskan kondisi para anak didiknya yang terus memburuk seiring berjalannya waktu.

"103 siswa. Baru diketahui pagi. Tadi pagi anak-anak baru ke kamar mandi. Ternyata mereka sudah merasakan mules-mules," ungkap Istiana.
 
 
"Kemudian semakin siang semakin banyak," imbuhnya.

Tak hanya ratusan siswa, gelombang serangan diare ini juga menimpa 13 guru di SMPN 1 Gembong, meski mereka tidak sampai dirawat di fasilitas kesehatan.

Istiana membeberkan, menu MBG yang disajikan saat itu berisi nasi bakar ayam suwir, telur ceplok, orak-arik tempe, lalapan, kerupuk udang, dan semangka.
 
Kecurigaan menyeruak lantaran adanya keterlambatan distribusi. Biasanya paket makanan tiba pukul 09.30 WIB, namun pada hari kejadian, ompreng-ompreng MBG baru mendarat di sekolah sekitar pukul 11.30 WIB.
 
 
Saat dibagikan, tidak ada tanda-tanda mencurigakan; bahkan sejumlah siswa tampak menikmati sajian tersebut hingga meminta porsi tambahan.

Kondisi serupa merembet ke MTsN 3 Pati. Kepala MTsN 3 Pati, Zaenal Arifin, mengonfirmasi bahwa ratusan muridnya turut menjadi korban.

"Ini yang terdampak sekitar 127-an dari siswa kami 960-an. Ini rata-rata yang terdampak kelas 8 dan kelas 9," jelas Zaenal.
 
Sejumlah guru di madrasah tersebut juga dilaporkan mengalami keluhan serupa, dan pihak sekolah masih terus memvalidasi pendataan.
 

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, membenarkan bahwa pasokan menu MBG di kedua sekolah tersebut berasal dari penyedia yang sama, yakni SPPG Gembong 1.
 
Menanggapi situasi darurat ini, Dinas Kesehatan langsung menerjunkan tim untuk melakukan penyelidikan epidemiologis demi membongkar pemicu utama munculnya gangguan kesehatan massal tersebut.

Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah daerah belum dapat menyimpulkan secara pasti apakah keluhan kesehatan para siswa berbanding lurus dengan konsumsi MBG.
 
Seluruh sampel makanan telah diamankan dan dikirim ke laboratorium untuk pengujian medis secara mendalam.

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini