Selasa, 8 September 2026

Krisis Air Memuncak, Kota Cirebon Tetapkan Status Darurat Bencana Kekeringan 2026

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Selasa, 8 September 2026 | 18:49 WIB
Menyoroti ihwal kekeringan yang melanda wilayah Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat. Berikut fakta terkini di antaranya. (Instagram.com/@cirebonbanget)
Menyoroti ihwal kekeringan yang melanda wilayah Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat. Berikut fakta terkini di antaranya. (Instagram.com/@cirebonbanget)

NAWACITAPOST.COM — Penurunan curah hujan secara drastis dalam sebulan terakhir memicu krisis air bersih parah di Kota Cirebon, Jawa Barat.
 
Kondisi ini merembet pada aksi warga yang saling berebut bantuan air bersih di wilayah terdampak. Menanggapi situasi ekstrem tersebut, Pemerintah Kota Cirebon resmi menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2026.

Langkah hukum tersebut tertuang dalam Keputusan Wali Kota Cirebon Nomor 179 Tahun 2026 yang berlaku sejak 1 Juli hingga 30 September 2026. Penetapan status darurat ini merespons eskalasi ancaman kekeringan di Kota Udang, khususnya di Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti.
 

Berdasarkan data dari Kelurahan Argasunya yang diunggah melalui akun resmi Instagram @bpbdkotacirebon, krisis air bersih telah berdampak langsung pada ribuan warga di kawasan tersebut.

"Berdasarkan data dari kelurahan Argasunya, setidaknya 1.203 KK atau 3.929 jiwa di 6 RW terdampak kekeringan pada tahun ini (2026)," tulis pernyataan resmi BPBD Kota Cirebon.

Di lapangan, penderitaan warga akibat kemarau panjang memicu aksi saling rebut saat armada pembawa bantuan air tiba. Di Kampung Kedung Krisik, Kelurahan Argasunya, warga langsung menyerbu kendaraan pengangkut air bersih yang dikerahkan kepolisian setempat.

Kapolres Cirebon Kota, AKBP Bimantoro Kurniawan, membenarkan jajarannya telah menyalurkan bantuan darurat untuk meringankan beban masyarakat.
 

"Ya, kita menurunkan sekitar 10 ribu air, kemudian sementara tadi kita 2 toren, kita akan salurkan terus setiap minggunya," ujar Bimantoro kepada awak media, Selasa (8/9/2026).

Mengeringnya sumber air memaksa warga mengambil langkah drastis demi memenuhi kebutuhan harian.
 
Salah seorang warga Harjamukti, Zaharoh, mengungkapkan bahwa pasokan air dari sumur-sumur warga telah habis total. Kondisi ini memaksa sejumlah warga mengungsi ke pemukiman lain.

"Buat masak buat nyuci, buat mandi gitu, sejak kemarau aja enggak ada air," tutur Zaharoh di lokasi penyaluran air, Selasa (8/9/2026).
 

Upaya penanganan darurat kekeringan ini sebenarnya telah bergulir secara bertahap sejak Juni 2026. Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Cirebon, Arief Adithya Firmansyah, menyampaikan bahwa distribusi air bersih skala besar terus dilancarkan ke titik-titik krisis.

"Kami mengatur keterlibatan sejumlah instansi agar kebutuhan masyarakat bisa dilayani secara bergantian dan terkoordinasi," kata Arief dalam keterangan tertulisnya, Senin (7/9/2026).

Hingga saat ini, BPBD tercatat telah memobilisasi sedikitnya 208 ribu liter air bersih untuk mencukupi kebutuhan 1.203 kepala keluarga atau setara 3.929 jiwa di Kelurahan Argasunya.
 
Kendati demikian, pihak otoritas menegaskan bahwa pendataan jumlah warga terdampak masih bergerak dinamis seiring dengan pemantauan intensif di lapangan.

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini