4. Saat masyarakat Indonesia mulai takut dengan UU ITE, juga takut dengan penangkapan beberapa pengguna facebook oleh pemerintah, akun facebook orang-orang Madura tetap saja menulis banyak hal berbahaya sebagaimana biasa mereka tulis sebelum era penangkapan-penangkapan itu.
Menghadapi masyarakat yang selalu berani bersikap anti mainstream ini tentu tidak mudah, mengandalkan aparatur pemerintahan saja tidak cukup. Menghadapi grass root Madura tidak cukup dengan hujan dalil sebagai berikut :
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Mereka tidak ikut dalil, mereka ikut kyainya masing-masing.
Oleh karena itu, penanganan Covid-19 di Pulau Madura hendaknya mengedepankan peran Kyai dan Bu Nyai, penyelenggara negara cukup tut wuri handayani, insya Allah ini jauh lebih efektif.
*) Penulis adalah Pengurus Harian LP Ma'arif NU Jawa Timur/ Bendahara Umum IKA PMII Jawa Timur/ BPO HKTI Jawa Timur/ Ketua Pengurus Koordinatoriat Sahabat Mahfud Jawa Timur
(BNW)