Sabtu, 27 Juni 2026

Nestapa di Balik Lumpur Padangsidimpuan, Ratusan Miliar Dana Bantuan Diduga "Menguap" Tanpa Jejak

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Sabtu, 27 Juni 2026 | 13:53 WIB
  1. Rekayasa Data Massal: Diduga kuat ada penyelundupan "nama-nama fiktif" dan warga non-terdampak ke dalam daftar penerima, sementara korban asli didepak dari sistem.

  2. Anggaran Rp170 Miliar Gaib: Anggaran raksasa habis, namun tidak ada sekolah yang diperbaiki, tidak ada rumah yang dibangun kembali secara layak.

  3. Nepotisme Penyaluran: Bantuan diduga kuat hanya mengalir kepada mereka yang memiliki kedekatan atau akses khusus dengan oknum pejabat setempat.

  4. Birokrasi Gelap: Pemerintah Daerah bungkam dan menolak membuka data manifes penerima bantuan kepada publik.

Kemarahan yang Meluap: Lahirnya "Walikota Dadakan"

Puncaknya, gelombang unjuk rasa besar-besaran menghentak Kantor Walikota dan DPRD. Menghadapi pintu gerbang yang terkunci dan pejabat yang bersembunyi, massa yang meradang akhirnya mengangkat Jojo Simanjuntak sebagai "Walikota Dadakan". Ini adalah tamparan keras sekaligus simbol teatrikal bahwa rakyat tidak lagi percaya pada penguasa yang menutup mata.

Lima Tuntutan Rakyat: Adili Para Penjahat Bencana!

Masyarakat Padangsidimpuan kini berdiri satu suara menuntut keadilan mutlak:

  • Buka Data: Transparansi total daftar penerima manfaat dan rincian penggunaan anggaran.

  • Audit Independen: Telusuri ke mana mengalirnya setiap rupiah dari dana Rp170 miliar tersebut.

  • Verifikasi Ulang: Validasi faktual di lapangan terkait data korban dan fasilitas sekolah.

  • Gugat Hukum: Seret dan adili tanpa pandang bulu siapa saja oknum yang memanipulasi dana bencana.

  • Bayar Hak Korban: Segera salurkan bantuan kepada warga dan sekolah yang selama ini diabaikan.

Baca Juga: Medan Laga Mahakarya Pasundan: PKJB 2026 Siap Guncang Bandung dengan Elite Kriya dan Inovasi Global!

Sampai detik ini, Pemerintah Kota Padangsidimpuan masih memilih bungkam tanpa kepastian. Di sisi lain, pihak Provinsi Sumut dan Kemensos baru berwacana akan menurunkan tim investigasi jika ada laporan resmi.

Saat birokrasi sibuk berdalih di balik meja kerja, warga dan anak-anak sekolah di pelosok Padangsidimpuan terpaksa terus bertahan di antara puing-puing sisa bencana. Pertanyaannya kini: Harus berapa lama lagi keadilan menunggu untuk diketuk?(Lesmanan.H)

Halaman:

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini